Spread the love

Teks FotoPenyair Sutardji Calzoum Bachrie menyuapi almarhum Abdul Hadi “soulmatenya” dalam penjurian puisi di Yayasan Hari Puisi pada acara HUT almarhum beberapa tahum lalu (Foto:  Herman Syahara).

Jakarta, BeritaRayaOnline,-

Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan

Kita begitu dekat

Sebagai api dengan panas

Aku panas dalam apimu

Tuhan

Kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas

Aku kapas dalam kainmu

Tuhan

Kita begitu dekat

Seperti angin dengan arahnya

Kita begitu dekat

Dalam gelap

Kini aku nyala

Pada lampu padammu

1976

Membaca puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat”, yang ditulis oleh Abdul Hadi WM di atas, seperti selalu terasa ada sesuatu yang baru menyelinap ke dalam kalbu.

Entah apa namanya. Mungkin semacam “kabar” dari penyairnya bahwa dirinya sedang mesra dengan Sang Khalik. Dan dia ingin berbagi kabar itu dengan kita, sekaligus mengajak untuk bersama menghayati pengalaman religius yang dialaminya dengan Tuhannya:

Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Mungkin kita sepakat, kesederhanaan diksi yang dibungkus dalam tema religius itu membuat puisi itu tetap segar dan tak membosankan. Evergreen: kekal hijaunya.

Lagian, kenapa pula harus merasa bosan pada sebuah ajakan mendekat kepada Tuhan? bukankah kita mahluk lemah yang berpotensi besar tersesat, sehingga selalu membutuhkan isyarat agar dapat kembali merapat kepada Sang Maha Tahu?

Melihat titimangsanya, puisi itu ditulis Abdul Hadi pada 1976. Atau, kalau dihitung dari tahun 2024 sekarang, umur puisi itu kurang lebih telah mencapai 48 tahun. Usia yang tak belka tapi tetap sedap dibaca.

Apakah itu contoh puisi “kuat”, sebagaimana dimaksud Prof. Abdul Hadi WM? Pertanyaan itu menyeruak ketika saya mendengar budayawan, akademisi, penulis, dan penyair sufi itu dikabarkan wafat pada 19 Januari 2024 dalam usia 77 tahun.

Terbayanglah hari-hari saat almarhum masih kuat bepergian dan dan kami sering bertatap muka dalam rapat bersama dengan para pengurus Yayasan Hari Puisi (YHP). Baik itu rapat perencanaan menjelang perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) atau rapat dalam penjurian buku puisi.

Di meja rapat, seperti halnya penyair Sutardji Calzoum Bachri (SCB) almarhum adalah seorang yang sangat serius. Apalagi jika sudah terlibat dalam penjurian sayembara puisi. Bicaranya cukup panjang, vokalnya berat, iramanya lambat, namun selalu terasa ada bobot kecendikiaannya.

Almarhum Abdul Hadi dan SCB acapkali berdebat panjang dan kritis untuk menentukan puisi pemenang. Perdebatan ini pernah membuat SCB sampai perlu membaca ulang karya pemenang yang sudah ditentukan dalam rapat penjurian sebelumnya.

Saya jadi merenung, setelah Abdul Hadi tiada, siapakah yang akan menjadi “lawan” debat tangguh SCB dalam penjurian sayembara buku puisi pada HPI mendatang.

Kabar wafatnya Abdul Hadi WM membuat saya mencari-cari dokumentasi foto yang pernah saya buat dan rekaman wawancara saya dengan almarhum untuk referensi penulisan obituari ini.

Ternyata banyak hasil wawancara saya yang hilang karena seringnya saya kehilangan smartphone yang digunakan menyimpan hasil wawancara itu.

Diantara yang hilang itu hasil wawancara serelah Abdul Hadi turun panggung menerima Anugerah Penyair Adiluhung pada perayaan HPI 2023.

Teks FotoPengurus Yayasan YHP mengantar ke peristirahatan terakhir Abdul Hadi WM (Foto Dok YHP).

Beruntungnya, saya menemukan sebuah rekaman yang tersimpan di google poto yang berisi tanya jawab dengan almarhum dalam rangkaian acara perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) pada 2021 lalu.

Acara itu sekaligus menjadi ungkapan pertanggungjawaban dewan juri, di mana Abdul Hadi WM bersama Sutardji Calzoum Bachri, dan Maman S Mahayana, yang menjadi juri tetap sayembara buku puisi yang diselenggarakan Yayasan Hari Puisi.

Menurut Abdul Hadi, dalam rekaman itu, banyaknya acara sayembara penulisan puisi yang diselenggrakan di luar HPI, memantik persaingan penulisan puisi.

Namun, katanya, setelah dirinya meneliti agak mendalam, kualitas buku-buku puisi peserta HPI terdapat semacam stagnasi atau kemandegan, terutama dalam mutu dan gaya penulisan.

“Hampir tidak ada inovasi dan gaya dalam buku puisi ini. Yang ada adalah pengulangan-pengulangan dari buku sebelumnya,” tegas Abdul Hadi.

Dia terus terang mengakui, dari sejumlah buku puisi yang masuk itu sangat susah untuk menentukan buku puisi yang kuat.

Dibandingkan dengan kualitas peserta sayembara buku puisi HPI lima tahun sebelumnya, rata-rata buku peserta tidak yang menyolok.

Ketika ditanya apa sarannya untuk penyelenggaraan sayembara penulisan buku puis HPI di tahun-tahun mendatang, Abdul Hadi menekankan perlunya penyair menjadi kritikus pertama bagi buku puisinya.

“Saran saya, sebelum buku puisi itu diterbitkan, para penyair mengeritik puisinya, melakukan perombakan-perombakan, dan membandingkannya dengan puisi yang sudah ada,” ungkapnya.

Dalam pandangan Abdul Hadi,
kebanyakan para penyair terlalu percaya diri bahwa puisnya bagus. Padahal tidak ada kebaruan sama sekali. Hal itu dirasakannya pada penyair lama atau senior.

Sedangkan kepada penyair pendatang baru, Abdul Hadi memaklumi bila puisi-puisi mereka masih terasa “mentah” dan belum mendalam.

Jadi, kata Abdul Hadi,buku puisi yang akan diikutsertakan dalam sayembara sebaiknya tidak langsung diterbitkan, tapi diperiksa berulang kali sampai penyairnya merasa itulah karya terbaiknya.

Menurut Abdul Hadi, hal yang harus disadari penyair, pembaca puisi, dan penilai puisi adalah bahwa kritikus pertama buku puisi adalah penyairnya sendiri.

“Jangan percaya pada kritikus karena banyak di antara kritikus yang hanya memuji-muji saja,” katanya.

Dia juga menilai adanya perubahan sikap penerbit dalam menerbitkan buku puisi yang lebih mengutamakan bisnis. Yakni, komersialisasi buku puisi untuk demi penghasilan.

Meskipun tidak laku, katanya, kalau penerbitnya dibayar oleh penyairnya, penerbit bersedia menerbitkan buku puisi. Uniknya, hal ini tidak terjadi pada waktu lampau.

“Kalau dulu penerbitlah yang menyeleksi buku puisi untuk diterbitkan, bukan oleh penyairnya,” ungkap Abdul Hadi.

Dia berharap, dalam sayembara buku puisi HPI di masa depan, peserta perlu lebih selektif dalam menerbitkan buku puisi. Penyair harus menjadi kritikus pertama bagi karyanya.
.
“Kalau ada kritik pertama dari penyairnya maka tidak ada pekerjaan buat kritikus. Karena kritikus itu baru bekerja kalau ada puisi tidak bermutu, ” kilahnya.

Kini Abdul Hadi telah berbaring tenang di pemakaman umum yang tak jauh dari kediamannya di Bekasi. Ikut mengantar ke peristirahatan terakhir jajaran pengurus HPI Maman S Mahayana, Sutardji Calzoum Bachri, Bastian Zulyeno, dan Lily Siti Multatuliana.

Nampak pula berjajar sejumlah karangan bunga duka cita, antara lain dari Capres Anis Baswedan dan Yayasan Hari Puisi.

Innalillahi wainna ilaihi rojiuun.
Selamat jalan, Penyair Sufi. Wasiatmu akan tercatat abadi. (Herman Syahara)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan