Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Wakil Presiden RI, KH. Maruf Amin menegaskan bahwa produksi pangan Indonesia dari tahun ke tahun dalam kondisi cukup bahkan cenderung mengalami surplus. Hal itu mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga negara yang diatur Undang-undang dalam mengelola data.

Hanya saja, kata dia, produksi pertanian memang perlu ditingkatkan untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman krisis dunia. Hal tersebut disampaikan Wapres seusai membuka Rakernas Pertanian 2023 di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu, 25 Januari 2023.

“Sebetulnya kita masih surplus di tahun 2022. Jadi tidak ada masalah, soal harga beras naik itu yang pasti dampak daripada krisis pangan global yang memang naik jadi tentu akan berpengaruh. Hanya saja memang kalau istilah itu (produksi perlu ditingkatkan) untuk jaga-jaga saja kalau terjadi apa-apa. Dan data kita cuma satu, data BPS. Undang-undang menetapkan data negara itu data BPS,” katanya.

Menurut Wapres, sektor pertanian adalah sektor unggulan dalam menopang berbagai lini kehidupan. Termasuk dalam mengatasi inflasi akibat krisis dunia yang terus berganti seperti pandemi hingga perang Rusia dan Ukraina.

“Seperti yang saudara tau bahwa sektor pertanian ini merupakan salah satu sektor unggulan kita dan selama ini selalu surplus, selama ini bahkan kita mendapatkan penghargaan dari Internasional. Karena itu upaya-upaya mempertahankan dan meningkatkan produk pertanian kita menjadi sesuatu yang niscaya karena ada tantangan dan dihadapi yaitu krisis pangan global yang tentu kalau kita tidak siap menghadapinya akan berdampak pada kita,” katanya.

Kendati demikian, Wapres mengapresiasi capaian dan kinerja jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) yang mampu menjaga kondisi pangan Indonesia disaat krisis dunia melanda. “Saya memberikan apresiasi buat teman-teman pertanian dan untuk jajaran Kementan yang selama ini telah menjaga dan mempertahankan pertanian Indonesia,” katanya.

Selain itu, Wapres mengapresiasi kolaborasi dan semangat kerja petani dalam meningkatkan produksi padi sehingga pada tiga tahun terakhir, yakni 2019 hingga 2021 Indonesia sukses mewujudkan swasembada beras dengan tidak mengimpornya dari luar negeri.

“Terima kasih karena pertanian dan pangan Indonesia dipandang tangguh dan berhasil mencapai Swasembada beras selama 2019-2021 dan kita mendapatkan penghargaan dari international. Saya kira ini tidak hanya cukup dipertahankan tapi perlu terus ditingkatkan demi kemandirian pangan yang berkelanjutan dan kesejahteraan nyata bagi masyarakat dan tentunya para petani,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengamini pernyataan Wapres. Menurutnya, tantangan pangan ke depan akan semakin berat karena berkaitan dengan krisis dunia. Tapi SYL memastikan pihaknya akan terus memaksimalkan peningkatan produksi pangan.

“Apapun yang terjadi besok, Indonesia tidak boleh bersoal karena masih tersedianya pangan buat rakyat. Kami tidak bisa main-main dengan kepentingan rakyat,” katanya.

Dalam upaya menghadapi potensi krisis pangan global, Kementan juga akan tetap menjalankan program-program peningkatan produksi pangan yang selama ini telah berjalan dengan baik, sekaligus memberikan perhatian serius pada sejumlah program.

Pertama, peningkatan kapasitas produksi pangan untuk komoditas pengendali inflasi seperti cabai dan bawang merah, serta untuk mengurangi impor seperti kedelai, jagung, gula tebu, dan daging sapi. Kedua, pengembangan pangan substitusi impor seperti ubi kayu, sorgum, dan sagu untuk substitusi gandum, serta domba/kambing dan itik untuk substitusi daging sapi. Ketiga, Peningkatan ekspor seperti sarang burung walet, porang, ayam, dan telur.

SYL mensyukuri berbagai capaian sektor pertanian pada tiga tahun terakhir mampu dijalankan secara baik. Setelah melalui upaya keras dengan melakukan penyesuaian berbagai strategi, program dan kegiatan ditengah pandemi Covid-19, hasilnya memperlihatkan bahwa sektor pertanian tetap konsisten tumbuh positif.

Sebagai contoh  pada Triwulan (TW) II 2020, PDB Sektor Pertanian tumbuh positif 16,24% (q to q) dan terus berlanjut pada 2022.  Nilai Tukar Petani (NTP) terus membaik, bahkan pada penutupan tahun 2022 (Desember 2022) mencapai 109,0.

“Semoga peran penting sektor pertanian sebagai bantalan ekonomi nasional semakin nyata dalam menghadapi krisis pangan dunia ke depan,” jelasnya.(*)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan