Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Menulis puisi, memang tidak terpaku pada teori. Kunci utamanya adalah dengan sering berlatih dan banyak membaca karya-karya yang sudah ada.

Namun, sebagai sebuah ilmu, menulis puisi tetap memiliki teori. Teori ini bisa dijadikan sebagai acuan, terutama bagi mereka yang sedang belajar menulis puisi.

Berikut ini teknik-teknik menulis puisi yang disampaikan oleh Hasta Indriyana, seorang penyair muda dari Yogyakarta.

1. Polisindeton

Polisindeton termasuk dalam gaya bahasa retoris, yaitu beberapa kata, frasa, klausa berurutan dihubungkan satu sama lain oleh konjungsi. Secara sekilas, mirip dengan repetisi jika kebetulan konjungsi yg digunakan sama.

Lihat contoh berikut:

Jembatan telah mengantar orang bukit
Menuju pasar menuju sawah menuju
Sekolah menuju jawaban yang ditanyakan
Seperti halnya air dan pasir yang mengalir
Dari hulu ke hilir melewati kota melewati
Nama-nama desa melewati seribu
Penyeberangan melewati ingatan
Menuju muara

2. Impresi

Sesuai dengan namanya, impresi menekankan pada efek kesan, atau pengaruh yang dalam terhadap pikiran dan perasaan. Kesan atas efek yg diciptakan ini dipengaruhi oleh kerja indera. Selanjutnya, pikiran dan perasaan (pembaca) mengolahnya sesuai dengan konteks yang dimaksudkan.

Sebagai contoh, indera visual: penyair menggambarkan imaji penglihatan atas benda atau peristiwa yang dilihatnya. Deskripsi atau narasi yang ditulisnya dibentuk sedemikian rupa (biasanya dengan bahasa sederhana-lugas), dan sekaligus diniatkan untuk mencapai maksud dan makna lain (tersirat).

Lihat contoh puisi Sapardi Djoko Damono (Seekor Ulat) berikut.

Seekor ulat akhirnya mencapai sekuntum bunga lalu
berhenti di sana. Ia telah memakan beberapa lembar daun
muda di ranting itu, dan kini ia berada di atas sekuntum
bunga: ia pun diam…

Kata kunci bait pertama puisi tersebut (untuk menikmati/atau bahkan untuk memaknainya) adalah: sekuntum bunga; memakan beberapa lembar daun; ia pun diam. Sajak-sajak Sapardi sarat dengan teknik ini. Salah satu yang sangat saya sukai adalah “Berjalan ke Barat di Pagi Hari” dan “Peristiwa Pagi Tadi”.

3. Alusi

Alusi adalah majas perbandingan yang merunjuk secara tidak langsung seorang tokoh atau peristiwa; kilatan. Tokoh atau peristiwa yang diacu diambil secara parsial, atau bahkan secara sekilas.

Baiklah, untuk memahaminya, saya tunjukkan contoh puisi yang sangat terkenal, “Dongeng Sebelum Tidur”, karya Goenawan Mohamad. Agar pembaca bisa menikmatinya, maka sebelumnya pembaca harus faham seluk beluk kisah Anglingdarma. Tanpa memahami kisah tersebut, puisi menjadi sebuah karya yang setengah gagal dinikmati, atau bahkan gagal sama sekali. Puisi lain yang serupa, misalnya “Malam Tamansari”, karya Suminto A. Sayuti, “Celana Ibu”, karya Joko Pinurbo, dll.

Dongeng Sebelum Tidur

“Cicak itu, cintaku, bercerita tentang kita.
Yaitu nonsens.”

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada malam
itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi
dan sprei.

“Mengapa tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari
pagi.”

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain
ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup
rambutnya.

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan
diri – dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana – untuk tidak
setia.

“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa
harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya
dan sebagainya?”

1971

4. Dramatis

Dramatis: teknik penulisan puisi yang di dalamnya diciptakan sebuah cerita yang melibatkan konflik atau emosi. Dalam teknik ini elemen yang ada antara lain: tokoh, cerita/alur, konflik, dialog.

Opening dan ending sangat berpengaruh terhadap efek yang diinginkan. Sifat-sifat teknik dramatis ini adalah mengesankan, meneror, mengejutkan, dan membuat penasaran (suspensif).

Bacalah opening puisi “Zagreb” karya Goenawan Mohamad berikut, yang meneror dan menegangkan.

Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, datang jauh dari Zagreb.
Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, berisi sepotong kepala,
dan berkata kepada petugas imigrasi yang memeriksanya: “Ini anakku.”

Untuk ending, mari kita baca puisi “Dengan Kata Lain”, karya Joko Pinurbo berikut ini.

Dengan Kata Lain

Tiba di stasiun kereta, aku langsung cari ojek.
Entah nasib baik, entah nasib buruk, aku mendapat
tukang ojek yang, astaga, guru Sejarah-ku dulu.

“Wah, juragan dari Jakarta pulang kampung.”
beliau menyapa. Aku jadi malu dan salah tingkah.
“Bapak tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?”

Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru
sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah.
Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan.
Dasar sial. Belum sempat kubuka dompet, beliau
sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja.

Di teras rumah Ayah sedang tekun membaca koran.
Koran tampak capek dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya
berguguran ke lantai, berhamburan ke halaman.

Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru padaku: “Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu.”

(2004)

5. Anadiplosis

Anadiplosis yaitu repetisi dengan mengulang kata atau frasa terakhir suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya.

Dua bait pertama puisi “Puake” karya Sutardji Calzoum Bachri di bawah adalah contohnya.

puan jadi celah
celah jadi sungai
sungai jadi muare
muare jadi perahu

perahu jadi buaye
buaye jadi puake
puake jadi pukau
pukau jadi mau

6. Paradoks

Paradoks: gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta. Teknik ini banyak dipakai oleh penyair yang “berpihak”, yaitu pada kemanusiaan (menunjukkan sikap terhadap kehidupan). Sifatnya yang mempertentangkan ini bermaksud sebagai penegasan atas keadaan.

Cuplikan dua bait terakhir puisi berjudul “Puisi” karya Dodong Djiwapradja berikut adalah contohnya.

puisi adalah manisan
yang terbuat dari butir-butir kepahitan

puisi adalah gedung yang megah
yang terbuat dari butir hati yang gelisah

Pilihan kata “manisan” dan “kepahitan” dijadikan satu dalam adonan “puisi”, begitu pula “megah” dan “gelisah”. Hal-hal yang kontradiktif disejajarkan untuk mencapai efek memperjelas; mengejutkan. Simak pula cuplikan “Nyanyian Angsa” karya WS. Rendra berikut. Watak manusia (suci) digambarkan penyair secara paradoksal untuk menekankan keadaan yang tak manusiawi sebagaimana seharusnya.

Jam satu siang.
Matahari masih di puncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karena kawatir akan pencuri.
Ia menuju pastori dan menekan bel pintu.
Koster keluar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
Ia nyalakan cerutu, lalu berkata:
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.

7. Analogi (filosofi)

Teknik ini menganalogikan hal-hal atau peristiwa puitik dengan hal-hal atau peristiwa yang lebih mudah dipamahi. Tujuannya untuk memudahkan pemahaman. Disebut juga filosofi karena biasanya mengandung nilai-nilai filsafat.

Dua cara teknik ini adalah dengan pengandaian dan mempertanyakan hakikat.

Kita diam. Siapa pun yang bersemayam
Di petilasan ini, mengingatkan betapa
Nama cukup dikenang dalam sebuah nisan
Betapa hidup membentangkan berjuta
Cara pandang tentang hidup dan kematian

Kata kunci cuplikan puisi tersebut adalah: betapa/ Nama cukup dikenang dalam sebuah nisan/. Contoh puisi lain adalah cuplikan “Sajak Seorang Tua untuk Istrinya”, karya W.S. Rendra di bawah ini.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup,
bekerja membalik tanah,
memasuki rahasia langit dan samodra

Apabila ingin menyimak lebih lanjut sajak-sajak dengan teknik ini, Anda bisa membaca karya-karya Iman Budhi Santosa. Di dalam sajak-sajaknya sarat akan teknik ini. Berikut adalah salah satu contoh sajak utuhnya, “Di Depan Jam Mati Jalan Malioboro Pagi Hari”.

Sekali lagi ia berhenti. Lelah berputar
memakan angka-angka tanpa merasa lapar.
Sekali lagi ia mengunci, detik tak berbalik
waktu tak beranjak maju

“Masihkah perlu?” ia bertanya pada tugu
ketika burung gereja menebar kotorannya
pada kaca, seperti kecewa (ingin memaki,
tapi tak bisa). “Masihkah harus aku menjaga
waktu yang terus dilanggar siapa saja?”
Sekali lagi tak ada jawaban. Kota tak mendengar
telinga penuh suara pasar
kaki lima bicara sendiri
jalanan tak ambil peduli

Dengan tatapan kosong, padaku
ia mengangguk santun, seperti mengajak
berpantun: -kota mati, jam mati
kota tua, kota kaki lima
kita bernyanyi sampai pagi
biar kiri-kanan menutup mata
jangan puisi dibuang
jika tak ada yang membaca

2002

8. Membandingkan

Membandingkan secara langsung sebuah peristiwa (aktual) dengan peristiwa masa lalu (yang dikenal publik). Peristiwa pokok adalah peristiwa aktual, diletakkan di depan peristiwa acuan(seperti foregrounding). Secara sekilas, teknik ini hampir mirip dengan alusi, tapi berbeda. Saya tidak tahu nama teknik ini. Barangkali ada di antara kawan-kawan ada yang mengetahuinya? Mohon share.

Sebagai contoh, berikut ini cuplikan puisi F. Rahardi berjudul “Bulan Oktober di Sebuah Desa di Timor Timur” untuk memahaminya.


di sebuah kuburan
gundukan tanah yang masih baru
sebuah salib kayu sederhana
taburan mawar dan pacar cina
ibu itu berdoa
kepalanya menunduk
tangannya mendekap dada
dibawah gundukan tanah ini
anak laki-lakinya
yang masih sangat muda
telah berdarah dan terbujur kaku
luka-luka
tapi ibu itu tak lagi menangis
tak ada yang perlu disesalkan
tak ada yang mesti diratapi
ibu itu menyeka keringat
dengan ujung selendangnya

dulu, 2000 tahun yang lalu
Maria, ibu Jesus
pasti jauh lebih berduka
pasti jauh lebih terhina
dari pada dirinya
ketika menyaksikan
anak laki satu-satunya
luka-luka
berdarah
lalu terbujur kaku
di pangkuannya

9. Aliterasi

Aliterasi termasuk gaya bahasa, yaitu perulangan konsonan yang sama. Salah satu cara teknik ini adalah dengan menggabungkan bunyi suku kata yang sama dari dua kata atau lebih dalam satu baris atau bait.

Misalnya: 1) gudang-gudang gedung berwarna gading; 2) rumah merah yang murah. Di contoh pertama bunyi gd diulang empat kali dalam satu larik, sedangkan contoh kedua, bunyi rmh diulang tiga kali.

Cuplikan puisi “Petir”, karya Aan M. Mansyur berikut, marilah kita simak.

Apakah kau dengar petir
Dari balik bilik
Dadaku bergetar getir?

Atau cuplikan puisi TS Pinang berjudul “Rindang” berikut.

kami mengeramas rambut kami biar subur dan rindang.
memang, kadang-kadang kepala kami gundul dan gersang,
tapi kami tetap memupuknya dengan sampo rempah dan
rimpang, agar akar rambut kami tetap kuat dan tunjang. kami
ingin rambut kami subur dan rindang, agar kepala kami teduh
dan tenang. dan seperti Sidharta yang mencapai Buddha,
begitulah kami ingin kepala kami menjadi seterang siang.

10. Asonansi

Asonansi adalah gaya bahasa dengan mengulang bunyi vokal yang sama. Di dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, dikenal sebagai rima (guru lagu). Letaknya tidak mesti di akhir baris sajak. Salah satu daya nikmat membaca puisi adalah dengan adanya asonansi ini (simak lirik lagu-lagu rap, mantra, puisi-puisi lama).

Contohnya adalah puisi “Magetan” di bawah berikut.

Pagi berkabut
Hatiku terpaut

Pedagang sayur turun dari Lawu
Matanya masih sayu

Jalan menanjak, telaga Sarangan kutuju
Di sini aku keluar dari sarang rindu

Dari timur, cahaya matahari membentur
Dinding gunung. Aku melaju ke barat
Ke ujung

Di sana, kita ketemu di telaga puisi
Kita berenang dan menyelam
Dalam kalimat sunyi

2009

Demikian beberapa teknik menulis puisi, semoga bermanfaat bagi kita semua yang ingin belajar menulis puisi.(***)

Editor : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan