Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,-

SIAPAKAH YANG MEMPERKAYA PERPUISIAN INDONESIA ?
Catatan Sekilas Nanang R Supriyatin

Mengamati beberapa kegiatan yang berhubungan dengan Sayembara Cipta Puisi, Sayembara Buku Puisi, Sayembara Manuskrip Puisi hingga Penerbitan Buku-Buku Puisi – pertanda bahwa geliat Sastra-Puisi Indonesia tak pernah mengalami stagnan.

Uraian di bawah ini makin memperjelas kalau karya kreatif tak pernah berhenti; baik yang ditulis para penyair senior maupun yang ditulis para pemula.

Lomba Cipta Puisi Grup Facebook HPI 2021.

Informasi Panitia untuk jumlah peserta Lomba Cipta Grup Puisi Facebook Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2021 yang mengusung tema “Penyair dan Era Digitalisasi” hingga tanggal 14 September 2021 (H-2) tercatat 626 Puisi. Ada penurunan jumlah pengirim puisi dibanding tahun 2020 yang mencapai naskah 823 puisi dengan jumlah 537 penyair. Sekitar 30% diikuti oleh penyair perempuan.

Sedangkan Tema puisi sesuai dengan tema Perayaan Hari Puisi 2020, yaitu “Puisi yang Memberi: Keberagaman dan Keindonesian.”

Berikut 10 Nominasi Puisi dalam ajang Lomba Cipta Puisi Grup FB Hari Puisi Indonesia 2020:

1. Budhi Setyawan – Merah Putih di Bubungan Rumah
2. Eddy Pranata PNP – Bertandang ke Karang Anjog dan Dukuh Paruk
3. Jhon FS Pane – Peladang Tua dan Hutan yang Terbakar di Matanya
4. Kurnia Effendi – Korespondensi
5. Mezra E Pellondou – Pulang ke Rahim Haik
6. Nanang R Supriyatin – Labirin, Menuju Pulaumu
7. Norham Abdul Wahab – Lukisan Batik Indonesia
8. Roymon Lemosol – Pelajaran dari Hutan Sagu
9. Wayan Jengki Sunarta – Di Pura Agung Giri Natha, Semarang
10. Yuditeha – Bhineka Tunggal Ika

Sayembara Buku Puisi HPI.

Perayaan pertama Hari Puisi Indonesia (HPI) digelar di Taman Ismail Marzuki, 25-29 Juli 2013, bertajuk Pekan Hari Puisi Indonesia. Perayaan HPI selanjutnya terus berlangsung setiap tahun sampai perayaan ketujuh, tahun 2019.

Dan, pada tahun 2020 Perayaan HPI dilaksanakan secara virtual di Gedung Perpusnas, Jakarta Pusat. Salah satu mata acara yang selalu mendapatkan apresiasi dan antusiasme masyarakat sastra dari berbagai kalangan adalah Sayembara Buku Puisi Anugerah HPI dengan total hadiah Rp 100 juta. Sedangkan para juri untuk Sayembara Buku Puisi sejak tahun 2013 ialah Abdul Hadi WM, Sutardji Calsoum Bachri dan Maman S. Mahayana.

Di bawah ini nama Penyair, Judul Buku Puisi serta tahun penyelenggaraan yang meraih hadiah utama berupa uang tunai sebesar limapuluh juta rupiah, ditambah Piala dan Piagam.

2013: Bagian dari Kegembiraan karya Acep Zamzam Noor
2014: Belum Dalam Lukamu karya M. Anton Sulistyo
2015: 99 Sajak karya Yudhistira ANM Massardi, dan Arus Pagi, karya Soni Farid Maulana
2016: Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering karya Hasan Aspahani
2017: Giang karya Irawan Sandya Wiraatmaja
2018: Buratin karya Dheny Kurnia
2019: Mencatat Demam karya Willy Fahmi Agista
2020: Jangan Lupa Bercinta karya Yudhistira ANM Massardi

Di samping memilih Peraih Hadiah Utama, Dewan Juri juga memilih 5 Buku Puisi Terbaik setiap tahunnya dan mendapatkan hadiah uang masing-masing sepuluh juta rupiah. Acep Zamzam Noor memenangkan dua kali dengan kategori yang berbeda (Pemenang Anugerah Hari Puisi 2013 dan Pemenang Anugerah Hari Puisi Pilihan 2017).

Selain itu, Iverdixon Tinungki juga menang dua kali dengan kategori yang sama, yakni Pemenang Anugerah Hari Puisi Pilihan (2013 dan 2014). Selanjutnya Umi Kulsum, sama seperti Tinungki, menang dua kali dengan kategori yang sama, yakni Pemenang Anugerah Hari Puisi Pilihan (2016 dan 2017).

Sayembara Manuskrip Puisi.

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah lembaga otonom yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan untuk pertama kali dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 7 Juni 1968. DKJ bertugas sebagai mitra kerja gubernur untuk merumuskan kebijakan serta merencanakan berbagai program guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Jakarta. Salah satu program kegiatan adalah menyelenggarakan Sayembara Manuskrip Puisi.

Tahun 2015 lalu, untuk pertama kalinya Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan Sayembara Manuskrip Buku Puisi. Sebanyak 574 buah manuskrip buku puisi diterima oleh panitia penyelenggara. Pada 22 Desember 2015, pemenang sayembara tersebut diumumkan oleh dewan juri yang terdiri dari Oka Rusmini, Joko Pinurbo, dan Mikael Johani. Terpilih tiga pemenang, mereka adalah Norman Errikson Pasaribu dengan puisi ‘Sergius Mencari Bacchus’ (Juara 1), Ni Made Purnamasari ‘Kawitan’ (Juara II), dan Cyntha Hariyadi dengan ‘Ibu Mendulang, Anak Berlari’ (Juara III). Buku manuskrip puisi dari ketiga pemenang sayembara tersebut kemudian diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2016.

Pada tahun 2021 ini kembali DKJ menyelenggarakan hal serupa. Pengumuman untuk pemenang akan dilaksanakan pada bulan Desember 2021.

Adanya Sayembara Cipta Puisi yang diikuti banyak penyair dengan jumlah yang terus bertambah dari tahun ke tahun tak menutup kemungkinan lahirnya Para Penyair dengan puisi-puisi yang mewakili zamannya.

Penerbitan buku puisi terus diupayakan, baik oleh Penerbit maupun oleh penyairnya. Kelahiran puisi-puisi baru juga dapat dibaca melalui media cetak serta media online.

Sejak dilaksanakannya Sayembara Buku Puisi HPI, ada beberapa penyair yang menerbitkan buku puisi hingga melebihi satu buku setiap tahunnya.

Sebut saja umpamanya Irawan Sandhya Wiraatmaja, Isbedy Stiawan ZS, Soni Farid Maulana dan Sosiawan Leak.
Pada tahun 2017 Berthold Sinaulan (Kelahiran Jakarta, 13 Desember 1959) melahirkan dua buku puisi masing-masing berjudul “Kubayangkan Chairil Anwar” dan “Ahok, Kebhinekaan, Belajar Pancasila”. Buku puisi berjudul “Kubayangkan Chairil Anwar” diluncurkan pada peringatan Hari Buku Sedunia (World Book Day) di Rumah Dunia, Serang, Banten pada minggu 23 April 2017.

Hendro Siswanggono (Kelahiran Sidoarjo, 19 Oktober 1952) merupakan penyair yang juga produktif. Selain menulis puisi untuk media Horison, Basis dan Budaya Jaya sejak tahun 70-an, Penyair ini telah menerbitkan lima buku puisi untuk diikutsertakan dalam Sayembara Buku Puisi HPI 2021. Kelima judul buku tersebut adalah “Kota Kecil di Pedalaman”, “Kupu-Kupu Perak Bersayap Merah”, “Orang-Orangan yang Menyala dari Matanya”, “Selembar Peta yang Tak Terbaca” dan “Topeng Gerabah Bermata Cumbu”.

Beberapa penyair lain juga ikut menggeliat dengan menerbitkan buku puisi. yang sebagian diikutsertakan dalam Sayembara Buku Puisi HPI 2021. K. Kasdi W.A. (Kelahiran Salatiga, 20 April 1957), menerbitkan enam buku puisi masing-masing berjudul “Luka Pandemi Luka Abadi”, “Duka Malam Duka Pualam”, “Mata Sepi Mata Duri”, “Bisik Daun-Daun Padi”, “Gemuruh Ombak” serta “Diorama Ingin Diorama Angin”.

Isbedy Stiawan ZS (Kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 5 Juni 1958) dengan lima buku puisi, masing-masing “Kau Kekasih Aku Kelasi”, “Masih Ada Jalan Lain Ke Rumahmu”, “Tersebutlah Kisah Perempuan Yang Menyingkap Langit”, “Secangkir Kopi Di Meja Kedai” dan “Buku Tipis Untuk Kematian”.

Sedangkan Lasman Simanjuntak (Kelahiran Surabaya, 20 Juni 1961) pada tahun ini telah menerbitkan tiga buku puisi, masing-masing berjudul “Tidur Di Ranjang Petir”, “Cor Beton Bercumbu Dengan Hujan”dan “Mata Elang Menabrak Karang”.

Meskipun kehadiran Penyair masih di pandang sebelah mata oleh masyarakat umum — namun adanya penerbit, komunitas sastra hingga kelompok diskusi telah memainkan peranannya.

Kolaborasi antara Penyair, Komunitas dan Kelembagaan makin memperkuat pergerakkan yang positif itu.

Biar bagaimana pun lahirnya puisi dari tangan-tangan kreatif kelak akan menambah kekayaan perpuisian Indonesia.( ***)

Editor  : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan