Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,-

SEMARAK SASTRA DI HARI SANTRI
Sugiono MP*

Oktober di Indonesia boleh dibilang bulan sejarah. Beberapa momen penting perjalanan bangsa ini tercatat pada bulan tersebut.

Mulai dari Sumpah Pemuda (28), pendirian barisan Pembela Tanah Air atau PETA (3), Hari TNI (5), Hari Kesaktian Pancasila (1) dan Hari Santri Nasional (HSN detetapkan Presiden Jokowi pada 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Meski HSN 2021 adalah yang ke-6, tergolong hari nasional baru, namun perayaannya cukup menarik karena ditandai oleh semarak kegiatan sastra.

Tentu bertajuk sastra santri. Dalam konteks sastra itulah tulisan ini akan bermuara.

Dunia santri dan pesantren, terlebih di Jawa Timur, punya perhatian istimewa pada sastra. Ulama-ulama Hahzah Fansuri, Syiah Kuala, Syamsuddin As-Sumatrani, Sunan Bonang, Sunan Kalijogo, dll. adalah sastrawan.

Pun Presiden keempat, Gus Dur. Wajar jika Gus Dur pernah menyatakan bahwa sebagai objek sastra, dunia pesantren belum mendapat perhatian yang selayaknya dari para sastrawan Indonesia, karena tidak banyak karya sastra Indonesia yang mengalaborasi ruh dan jiwa para sastrawan pesantren (Abdurrahman Wahid, “Pesantren Sastra Indonesia”, Harian Kompas 26 November 1973).

Pernyataan tersebut mendapat jawaban nyata pada 18-20 Desember 2018 dengan diadakannya Muktamar Sastra di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, asuhan K. H. R. Achmad Azaim Ibrahimy.

Event ini didukung oleh PWNU Jawa Timur, Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur, Lesbumi NU Jawa Timur, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Jawa Timur, dan TV9 Nusantara.

Rekomendasi penting antara lain bahwa pesantren harus mampu membangun sastra yang mengangkat nilai-nilai keislaman, kebangsaaan, dan lokalitas yang berorientasi kepada Islam rahmatan lil alamin, berkontribusi pada kesusastraan dan kebudayaan Indonesia, serta peradaban dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan kelas menengah kota, generasi milenial, dan industri digital, dengan menyuguhkan konten inspiratif yang bersumber pada Islam inklusif dengan memanfaatkan kekuatan lintas media.

Gerakan budaya dengan berbasis sastra pesantren merupakan langkah strategis dan efektif karena sastra di Indonesia sebagai penanda keberadaban, punya potensi besar sebagai perekat kebangsaan, sebab memiliki piranti paling mumpuni, membumi, dan mampu menembus sekat-sekat di masyarakat, maka harus berada di garda depan laju kebudayaan bangsa.

Pertanyaannya adalah, semarak sastra memperingati HSN 2021 sudah mampukah menjawab rekomendasi Piagam Sukorejo tersebut?

Jawabnya, sudah dan belum. Dari acara-acara sastra santri HSN 21 yang saya simak, yang diadakan oleh Aliansi Klub Sastra Indonesia (AKSI) dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan Desa Kebangsaan serta Pesan-Trend Budaya Ilmu Giri, Universitas Islam Negeri Waligsongo, Nangrove Center Tuban (bertema lingkungan hidup, Gus Nas membayangi Rendra membaca puisi lingkungan), terasa meneteskan pemenuhan dahaga kelas menengah kota, generasi milenial, dan industri digital, dengan memanfaatkan kekuatan lintas media

Karena disajikan secara daring dan luring, antara lain oleh mahasiswa (generasi milenial) di kampus.

Sedangkan di Tuban diadakan di hutan, mampu mengangkat nilai-nilai lokal yang berorientasi ke Islam yang rahmatan lil alamin.

Akan tetapi kemampuannya sebagai kontributor pada kesusastraan dan kebudayaan Indonesia apalagi sampai berada di garda depan laju kebudayaan bangsa serta sumbangan nyata pada peradaban dunia, masih sangat memerlukan pengembangan, terutama di bidang teknik dan keikhlasan membina kerja sama dengan semua pihak di lingkungan yang plural (seperti pidato pengantar Dr. Adrianus L. G. Waworuntu, Dekan FIB UI, pada Webinar Sastra Santri, 17 Oktober 2021).

Karena sastra adalah piranti paling mumpuni, membumi, dan mampu menembus sekat-sekat di masyarakat seperti pernyataan Piagam Sukorejo, maka pembinaan dan pengembangan sastra santri/pesantren sangatlah layak dilekatkan dengan event HSN yang diperingati setiap tahun.

Kiranya bisa dipersiapakan mantap sehingga penyelenggaraan akan terevaluasi dan terkonsolidasi sesuai dengan muara capaiannya.

Semoga hal itu bisa menjadi bahan pertimbangan para pihak yang terkait. Salam sastra ■

Sugiono MP, penulis buku, penyair, pencetus Pusai (puisi bonsai), Kordinator Aliansi Klub Sastra Indonesia (AKSI)

 


(BRO-2)

Editor  : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan