Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Dengan runtuhnya Soviet, humanitas telah mencapai “bukan hanya…berlalunya satu periode tertentu dalam sejarah, melainkan akhirdari sejarah itu sendiri.

Ia merupakan titik akhir dari evolusi ideologi
umat manusia dan universalisasi paham liberal Barat alias demokrasi,sebagai bentuk final pengaturan manusia. The End of History and the Last Man, Francis Fukuyama (1992)
Setelah blok Timur (Soviet) runtuh, perang di masa depanbukan perang antar-bnegara tetapi perang antar-budaya.
The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order,Samuel P. Huntington (1996),
Barat dan Timur berpilin, tak bisa dipisahkan lagi West-östlicher Diwan, Johann Wolfgang von Goethe

V.S. Naipaul “Our Universal Civilization”,
disajikan dalam “Walter Wriston Lecture” di Manhattan Institute Peradaban yang dimulai di Eropa dan menyebar ke Amerika agaknya bagus untuk diterima sebagai sebuah peradaban bagi semua orang, karena ia membuat upaya yang luar biasa
untuk mengakomodasi ketentraman dunia,
serta semua yang mutakhir dari pemikiran dunia.

Chinua Achebe
Home and Exile. New York: Oxford University Press (2000:90-91)
Well, tidaklah benar bahwa sejarah kami hanya berada di dalam hati;
meskipun benar ia ada di dalam sana, namun ia juga ada di atas jalanan berdebu
kota kami, dan dalam jejak setiap orang kampung kami, hidup atau mati,
yang telah melintas di atasnya.

Ia tentu saja bagian dari negara kami,
benua kami,dan–tentu–bagian dari ini dunia. Juga, jalanan kecil berdebu itu
yang menghubungkan diri saya pada segala ketibaan berbeda.

Mengatakan pada setiap orang untuk membunuh masa lalu mereka, mengemas kopor dan membeli karcis satu jurusan ke Eropa atau Amerika sangatlah gila bagi cara berfikir saya. Menyarankan bahwa peradaban universal sudah sedia ada sama dengan menutup mata pada realitas mutakhir
dan, bahkan lebih buruk lagi, meremehkan tujuan dan menghalangi pengejawantahan dari sebuah universalitas yang wajar dan murni di masa depan.

the most potent weapon of the
oppresor is the mind of the opressed”.
Controlling the mind of the oppressed
wins you half the battle.
Steve Biko.
Every empire, however, tells itself
and the world that it is unlike all other
empires, that its mission is not to
plunder and control but to educate and
liberate.”
Edward Said

Abdul Hadi WM
Tiga Gerakan Sastra
Gerakan Angkatan 70
Gerakan Sastra Sufi
Gerakan Kembali ke Akar
Tiga Gerakan Sastra
Gerakan Angkatan 70
Gerakan Sastra Sufi
Gerakan Kembali ke Akar

WINTER, IOWA 1974

langit sisik yang serbuk, matahari yang rabun
menarilah dari rambutnya yang putih beribu kupu-kupu menarilah dan angin yang bising di hutan dan gurun-gurun menarilah, riak sungai susut malam-malam ke dasar lubukku

Tuhan, Kita Begitu Dekat Tuhan,

Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya
Kita begitu dekat
Dalam gelap
kini aku nyala
dalam lampu padammu
1976

Gerakan Sastra Angkatan 70
Dibandingkan misalnya Angkatan 66 yang sangat lemah baik secara konseptual maupun estetik, Angkatan 70 yang digagas Abdul Hadi WM benar-benar kuat secara konseptual
dan meyakinkan secara estetis. Namun, entah mengapaAngkatan 70 rumusan Abdul Hadi WM popularitasnya tidak semeriah Angkatan-Angkatan buatan H.B. Jassin.

Gerakan Sastra Angkatan 70 dibandingkan misalnya Angkatan 66 yang sangat lemah
baik secara konseptual maupun estetik, Angkatan 70 yang digagas Abdul Hadi WM benar-benar kuat secara konseptual
dan meyakinkan secara estetis. Namun, entah mengapa Angkatan 70 rumusan Abdul Hadi WM popularitasnya tidak semeriah Angkatan-Angkatan buatan H.B. Jassin.
Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Arifin C. Noer, Umar Kayam,

Gerakan Sastra Sufi

Berkat Abdul Hadi yang saat itu menjadi redaktur sastraharian Berita Buana, sastra—lebih tepatnya puisi—sufi
berhasil menjadi gerakan sastra yang massif, meskipun tidak sistematis dan terstuktur.
Gerakan sastra sufi
Berkat Abdul Hadi yang saat itu menjadi redaktur sastra
harian Berita Buana, sastra—lebih tepatnya puisi—sufi
berhasil menjadi gerakan sastra yang massif, meskipun
tidak sistematis dan terstuktur.
Acep Zamzam Noor, Jamal D. Rahman, Ahmad Nurullah, Ahmad Syubhanuddin Alwy,
Ahmadun Y. Herfanda, Soni Farid Maulana

Bagaimana peluang
untuk kembali ke akar kembali ke sumber?
Gerakan Kembali ke Akar
Kembali ke Sumber
• Keterbatasan ketersediaan khasanah tekstual sastra klasik Nusantara;
• Keterbatasan Bahasa (Arab, Sansekerta, Parsi, Urdu, Jawa Kuna, Sunda
Buhun, Bali lama, Melayu klasik, Bugis, dan puluhan Bahasa daerah
se-Indonesia;
• Keterbatasan wawasan budaya, sastra, dan estetika Nusantara, India,
China, Persia, Arab, dsb.
• Keterbatasan pemahaman Islam, Hindu, Budha, Tao, Kong Hu Cu, dan
agama-agama Nusantara.

Kuat dan Berakarnya Jejak Kolonialisme
Barat di Jantung Indonesia
Lemahnya Jurusan Sastra Indonesia/Nusantara dan Kajian Indonesia/Nusantar
dibanding Jurusan Bahasa-Bahasa asing (Inggris, Jerman, Perancis, misalnya).
Kajian-kajian Kawasan—misalnya Kajian Amerika—tidak menghasilkan pakar-
pakar Kawasan Amerika melainkan justru menjadi orang-orang Amerika made
in Indonesia (Yankee KW 3?);
Perguruan tinggi Indonesia yang sempat Merdeka dan mandiri, kini dengan
secara sukarela bersimpuh di kaki duli Daulat Barat/AS dengan mensyaratkan
para dosen bumiputera yang ingin naik pangkat atau menjadi guru besar untuk
mendapat pengakuan dan cap lolos sensor Barat via jurnal berspesifikasi
Barat/AS (scopus dsb.).

Lemahnya Jurusan Sastra Indonesia/Nusantara dan Kajian Indonesia/Nusantar
dibanding Jurusan Bahasa-Bahasa asing (Inggris, Jerman, Perancis, misalnya).
 Kajian-kajian Kawasan—misalnya Kajian Amerika—tidak menghasilkan pakar-
pakar Kawasan Amerika melainkan justru menjadi orang-orang Amerika made
in Indonesia (Yankee KW 3?);

Perguruan tinggi Indonesia yang sempat Merdeka dan mandiri, kini dengan
secara sukarela bersimpuh di kaki duli Daulat Barat/AS dengan mensyaratkan
para dosen bumiputera yang ingin naik pangkat atau menjadi guru besar untuk
mendapat pengakuan dan cap lolos sensor Barat via jurnal berspesifikasi
Barat/AS (scopus dsb.).

Kembali ke akar Kembali ke sumber adalah
kebutuhan mendesak bagi Indonesia.
Akar dan sumber tempat kembali itu juga
sangatlah penting. Tapi di sana sudah
menunggu tipu daya dan bahaya
yang menganga.

Kembali ke akar Kembali ke sumber adalah
kebutuhan mendesak bagi Indonesia.
Akar dan sumber tempat kembali itu juga
sangatlah penting. Tapi di sana sudah
menunggu tipu daya dan bahaya
yang menganga.
Nada Lagu kasidah: Kedangkalan, kedangkalah, kedangkalah kedangkalan

Godaan besarnya adalah jatuh ke Lembah
kedangkalan. Agama akan jatuh pada formalisme
syariat dan bukan khasanah literat.
Kedaerahan jadi formula kearifan lokal
dan politik privilege putra daerah.
Bahaya utamanya adalah jatuh
ke lembah Politik Identitas.
Godaan besarnya adalah jatuh ke Lembah
kedangkalan. Agama akan jatuh pada formalisme syariat dan bukan khasanah literat.
Kedaerahan jadi formula kearifan lokal
dan politik privilege putra daerah.

Bahaya utamanya adalah jatuh
ke lembah Politik Identitas.
Politik identitas adalah politik berbasis SARA (etnis, suku, ras, agama) yang cenderung
berujung pada prinsip neither/or yang pada titik ekstrem menghasilkan radikalisme,
persekusi, diskriminasi dan sejenisnya.

Identitas dan Jati diri:
Terberi atau Menjadi
Tidak mengherankan jika hampir di semua segi dan lini
Abdul Hadi WM berkeras bahwa basis untuk Kembali ke
akar Kembali ke sumber adalah Kembali ke tradisi literat:
membaca-menulis-bernalar.

Mereka yang hidup dalam tradisi literat tidak bisa lain
selain menjadi moderat. Bagaimana bisa hidup dalam
semacam “absolutisme” di hadapan keluasan bacaan
tempat tradisi pencarian manusia ratusan tahun tersimpan.
Tidak mengherankan jika hampir di semua segi dan lini
Abdul Hadi WM berkeras bahwa basis untuk Kembali ke
akar Kembali ke sumber adalah Kembali ke tradisi literat:
membaca-menulis-bernalar.

Mereka yang hidup dalam tradisi literat tidak bisa lain
selain menjadi moderat. Bagaimana bisa hidup dalam semacam “absolutisme” di hadapan keluasan bacaan tempat tradisi pencarian manusia ratusan tahun tersimpan.

Aku Datang Dari Sana

Kuberikan langit pada ibunya
Saat langit meratap memanggili bunda.
Dan aku meratap agar bisa dikenali
oleh awan saat aku kembali.
Mahmoud Darwish
Aku datang dari sana.
Kuberikan langit pada ibunya
Saat langit meratap memanggili bunda.
Dan aku meratap agar bisa dikenali
oleh awan saat aku kembali.
Mahmoud Darwish
Imadeddin NasimI
Terpisah dari bibir kekasih
dan igaukan cintanya
Membikin nyala kandil meleleh
dalam lara dan pahit airmata
Tak ada yang bisa hidup
di pikiran nganggur
maupun cinta tak dewasa
Kala cintanya dipantik Kebenaran
dan Tuhan, ia berkobar menyala-nyala.
Terpisah dari bibir kekasih
dan igaukan cintanya
Membikin nyala kandil meleleh
dalam lara dan pahit airmata
Tak ada yang bisa hidup
di pikiran nganggur
maupun cinta tak dewasa
Kala cintanya dipantik Kebenaran
dan Tuhan, ia berkobar menyala-nyala.

Pokok kayu bunga selasih

**/Tulisan /makalah di atas  disampaikan oleh Agus R. Sarjono pada acara diskusi sastra Mengenang 40 Hari Wafatnya Penyair, Sastrawan, dan Budayawan Prof.Abdul Hadi WM 6ang berlangsung di lobby Teater Kecil Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki, Senin, 26 Februari 2024.

Agus R Sarjono, menulis puisi, cerpen, drama, dan esai. Ia mendapat Hadiah Mastera (Malaysia, 2012) dan Sunthorn Phu Award (Thailand,
2013). Redaktur Horison (1997-2013), Ketua DKJ (2003-2006), pemimpin Jurnal Sajak, dan dosen di SBI Bandung. Penulis/ilmuwan
tamu di IIAS Leiden (2001), Bonn University (2010, 2012), Heinrich Böll
Haus (2002-2003), dan Künstlerhaus Schloss Wiepersdorf (2014).( */BRO- 4)

Editor : Lasman Simanjuntak

 

Tinggalkan Balasan