Spread the love

MINYAK GORENG MEMANGGIL

PALING CUAN

kau pikir menggoreng tak perlu akal
bagaimana hasil gorengan terasa renyah
tanpa sisa minyak melekat
harus ditiriskan dengan baik, katamu

begitu juga dengan minyak gorengnya
cari yang bermerk, paling tidak dua kali penyaringan
akan menghasilkan makanan yang enak
tahu dari mana?

ya dari iklan atau resep chef terkenal

tapi itu saja belum cukup
karena penimbun juga sangat paham
gorengan mana yang paling cuan

Maret 2022

Di tengah maraknya kegelisahan masyarakat Indonesia, khususnya kaum emak-emak mengenai ketidakpastian harga minyak goreng, serta tertangkapnya beberapa oknum pejabat maupun sebagian oknum yang ikut bermain, membuat kita makin miris.

Selama tahun 2022 ini, nama minyak goreng telah dimanfaatkan sebagian orang yang ingin memastikan kalau jelang Idul Fitri  tahun 2022 ini takada lagi teriakkan yang memojokan pemerintah.Bahkan tak dipungkiri politikus ikut bicara tentang minyak goreng (mungkin karena ada kepentingan untuk pemilu 2024?).

Puisi Piet Yuliakhansa di atas hanya bagian kecil dari pengungkapan perasaan atas fakta-fakta yang terjadi di sekitar kita.

Minyak goreng bukan sekadar nama kebutuhan dapur, tapi ia juga punya peranan penting lainnya, diantaranya bagi para pedagang.

Dalam hal ini, penyair yang memiliki perasaan dan hati nurani akan terus menyampaikan melalui aspirasi; di dalam puisi-puisinya.

Gagasan Mustafa Ismail (Wartawan/ Jurnalis), serta Isbedy Stiawan ZS (Sastrawan) dalam mengeksploitasi ketidakjelasan keberadaan maupun harga minyak goreng – setidaknya telah tersampaikan melalui geliat 55 penyair yang puisi-puisi dimuat dalam antologi berbentuk Ebook, berjudul “Minyak Goreng Memanggil Penyair”. Keduanya sekaligus merangkap sebagai kurator.

Dalam pengantarnya, kurator di awal dua paragraf sudah memaparkan terkait kebon kelapa sawit, eksportir sampai pada sentuhan harga melalui dollar, sebagaimana uraian di bawah ini.

Ironi Minyak Goreng

Kita menghadapi ironi yang luar biasa: Indonesia adalah penghasil sawit nomor satu di dunia, tapi minyak goreng langka dan mahal.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 luas kebun sawit di Indonesia mencapai 14,5 juta hektare. Adapun produksi minyak sawit alias CPO (Production of Crude Palm Oil) mencapai 44,7 juta ton pertahun.

Indonesia pun merupakan eksportir kepala sawit terbesar di dunia dengan nilai US$17,36 miliar. Angka ekspor Indonesia adalah 53,46 persen dari total nilai ekspor kelapa sawit dunia.

Urutan nomor dua diduduki Malaysia dengan nilai US$ 9,8 miliar. Urutan ketiga Belanda US$ 1 miliar. Selebihnya, negara-negara lain, angka ekspor sawit di bawah US$ 500 juta.

Tema minyak goreng yang dipilih bukan hanya asal. Seperti diketahui, minyak goreng hingga saat ini masih menjadi booming dan aktual.

Terlebih lagi pendapat masyarakat yang ‘napsu’ ingin tahu siapa saja yang bermain.

Hampir setiap hari televisi menayangkan tertangkapnya 4 orang yang diindikasikan atau sudah nyata, bermain-main dengan minyak goreng.

Dan para penyair mengungkapkan dengan gaya dan estetikanya masing-masing.

Acep Syahril menulis judul “Terminator Minyak Goreng”. Ada puisi berjudul “Hantu Minyak Goreng” ditulis Agus Sanjaya.

Beberapa penyair Nasional ikut bicara tentang minyak goreng, seperti D. Zawawi Imron, Eddy Pranata PNP, Ratman Aspari, Sapto Wardoyo dan Wawan Hamzah Arfan.

Menarik dan menggelitik judul-judul puisi seperti “Tikus-Tikus Keluar Kandang” (Wawan Kondo), “Minyak Klentik” (Wanto Tirta), dan “Nyuk Nyak Minyak Goreng” (Sulastri/Uleceny).

Antologi puisi Ebook ini rencananya diluncurkan dalam Pentas Puisi untuk Rakyat lewat media sosial.

Kemungkinan lain akan disampaikan kurator, umpamanya antologi dicetak buku, atau bisa jadi sebagai kado teristimewa bagi pejabat yang mengurus minyak goreng.

(Nanang R. Supriyatin, Jakarta).

 

Editor  : PuLo Lasman Simanjuntak

Email   : pulo_lasman@yahoo.com

Tinggalkan Balasan