Sandi Octa Susila, Sosok Petani Milenial yang Berhasil Jadi Pengusaha Hortikultura

Bogor, BeritaRayaOnline,- Sosok anak muda yang satu ini -punya nama lengkap- Sandi Octa Susila amat gampang diajak bicara, gaul, dan tentu saja sikapnya ,milenial banget !

Kelahiran di Cianjur  tahun 1992 (masih 27 tahun-red) pemuda ramah dan penuh senyum ini telah meraih pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB), menjadi penggerak 373 petani, mengelola 120 hektare lahan sayuran (hortikultura) yang berafiliasi dengan PTPN, lahan swasta, serta lahan pribadi. Bahkan, wow, telah memiliki 50 karyawan.

“Perkenalkan nama saya Sandi Octa Susila.Saya sebagai -orang bilang- petani milenial, dan orang bilang juga saya ini seorang pengusaha hortikultura ..he.he…,” tawanya lepas ketika berbincang-bincang santai dengan wartawan BeritaRayaOnline, usai mengikuti acara FGD Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian di Swiss-Belhotel Internasional di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa sore (10/9/2019).

Diceritakannya, saat ini -sebagai petani milenial-dirinya telah mampu mengelola 141 item jenis sayuran hortikultura, dan telah di-supply baik ke hotel-hotel, restaurant, maupun retail.

“Motivasi saya ingin menjadi seorang petani milenial dan penyuluh swadaya.Banyak orang bilang  ‘Kang Sandi lulusan sarjana Strata Dua (S2)  kok mau jadi petani dan penyuluh.Saya mau merubah paradigma kalau seorang petani itu rendah, miskin, dan notabene orang masih melihat petani itu kucel, dan dekil ,” ucapnya kepada wartawan BeritaRayaOnline di Lantai 21 SwissBelhotel Internasional, Selasa sore (10/9/2019).

“Kita bisa buktikan sosok petani milenial yang telah berhasil di bidangnya.Lihat saja tadi contoh petani-petani milenial yang telah berhasil menjadi pengusaha besar dan sukses.Para pemuda masa depak, yuk, bareng-bareng kita garap pertanian,agar pertanian Indonesia makin maju.Usaha pertanian sangat potensial untuk para pemuda Indonesia.Terima kasih kepada pemerintah.Jayalah pertanian Indonesia,” pungkas Sandi Octa Susila.

Sempat  Alami Depresi

Sandi mengaku memulai usaha sejak duduk di semester 5, S1 IPB.Awal terjun di dunia bisnis pertanian hortikultura , karena ia melihat banyak hasil panen kebun sayur tidak maksimal diperjualbelikan.

“Bermodalkan salah satu website jual beli, saya mendokumentasikan satu per satu hasil produksi ayah dan para petani di kampung halaman. Dari situlah saya mendapat pengalaman pertama.Saya memulai usaha pada 2015. Saat itu masih semester 5. Saya ambil wortel, lettuce, beras, daun bawang dan kentang dari lahan ayah saya sendiri dan beberapa hasil panen petani lainnya. Klien pertama saya sebuah perusahaan cepat saji. Omzet yang saya terima Rp 3 juta dengan keuntungan sekitar Rp 300 ribu – Rp 500 ribu per dua minggu. Angka segitu cukup besar bagi seorang mahasiswa,” ucapnya.

Sementara ayahnya mengambil jalur retail sayur, Sandi bergerak pada bisnis horeka (hotel restaurant dan cattering). Bisnisnya juga tidak selancar dugaan orang. Sandi pernah menjadi korban penipuan dan mengalami depresi cukup berat.

Namun, berkat dukungan keluarga dan orang terdekat, Sandi kembali bangkit dan merintis usahanya. Dalam kurun waktu 4 tahun, sayur – mayur di bawah binaannya berhasil memasok 25 hotel di Jawa Barat dan beberapa retail di Jakarta.

Selain usaha budidaya lahan, Sandi juga membina Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) yang terbuka bagi siapa saja. Pada level bisnis, dirinya mengembangkan UD. Mitra Tani Parahyangan sebagai perusahaan pemasok bahan baku hotel.

Berpenghasilan rata-rata Rp500 juta per bulan, Sandi bertekad meningkatkan lahan miliknya semakin luas. Bahkan dalam waktu dekat, Sandi tengah mengembangkan inovasi agrowisata yang dibuka untuk para pengunjung yang studi banding, kuliah lapang hingga untuk umum dalam bentuk kelompok. Tidak hanya itu, Sandi tengah mengkaji bisnis ekspor ke Timur Tengah.

“Saya telah mampu membukukan usaha dengan omzet Rp 3 juta dan keuntungan sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per dua pekan. Saat itu, bagi saya uang itu sudah terbilang besar,”kilahnya.

Terkait kondisi cuaca yang sulit diprediksi, Sandi memiliki kiat khusus agar suplai produk ke konsumen tepat waktu. Tak hanya mengatur pola tanam, waktu dan jumlah pesanan ke masing-masing petani sudah terjadwal baik.

“Kita atur betul-betul pola tanamnya. Kapan komoditas ini panen tepat pada saat dibutuhkan harus kita pantau. Jadi, di kantor HO (holding office) kami itu, PO (purchase order) diterima sejak pukul 08.00 pagi hingga 17.00. Setelah itu, kita rekapitulasi PO dan sebarkan orderan ke petani yang bekerja sama dengan kita,” jelasnya.

Sandi menyebutkan sejauh ini Kementerian Pertanian berperan banyak bagi kemajuan para petani. Dirinya meyakini bisnis pertanian tidak akan ada matinya dan senantiasa prospektif. Berhasil dengan bisnisnya ini, dia berharap akan banyak figur muda pertanian sepertinya.

Dipuji Kepala BPPSDMP Kementan

Setelah mendengar pemaparan segala usaha pertanian dan hortikulutura yang diceritakan langsung oleh petani milenial dan pengusaha muda, Sandi Octa Susila, pada acara penutupan diskusi Fokus Group Discussion (FGD) Sistem Penyuluhan Pertanian di Era Industri 4.0, Selasa sore (10/9/2019), Kepala BPPSDMP Kementan Prof.Dr.Ir.Dedi Nursyamsi langsung menyatakan rasa bangga kepada keberhasilan petani milenial ‘Kang Sandi ini.

“Kang Sandi dan kawan-kawannya pada sore ini telah memberikan suatu inspirasi yakni sebuah keberhasilan petani milenial, dan sosok anak muda yang telah menerapkan teknologi IT serta industri 4.0,” kilahnya.

“Sehingga suatu hari kelak cita-cita menjadikan Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045 bukan hanya mimpi, tetapi pasti, dan pasti, akan menjadi kenyataan,” tegas Prof.Dedi Nursyamsi yang juga turut “diaminkan” serta didukung penuh oleh Dr.Ir.Leli Nuryati, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan.

(**/dari berbagai sumber/dbs/bro-2)

Editor : Lasman Simanjuntak

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan