Renungan : “Teladan Yusuf Bagi Kehidupan Kerohanian Kita ” (Bag.I)

adventmuat

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Renungan Firman Tuhan :

“Teladan Yusuf Bagi Kehidupan Kerohanian Kita ” (Bagian Pertama)

oleh : Pulo Lasman Simanjuntak

Syalom…..saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Pagihari tadi saya baru selesai membaca Alkitab Tahunan (Follow The Bible) mengenai kematian Yusuf dalam Kitab Kejadian 50 :22-26 dalam usia 110 tahun. “Kemudian matilah Yusuf , berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir”..(Kejadian 50 :26).

Usai membaca ayat ini, tiba-tiba saya ingin menangis sekeras-kerasnya atas kematian Yusuf-anak pertama Yakub dari isteri Rahel- mengapa harus ada kematian?

Saya lalu bertanya lagi, mengapa orang seperti Yusuf yang sangat setia dan mengasihi pada Tuhan harus mengalami kematian? Baru saya jadi ingat; dosa manusia (Adam dan Hawa di Taman Eden) , itulah penyebab kematian!Namun, hari ini saya tak mau bicara soal kematian.

Cerita tentang Yusuf dapat kita baca mulai dari Kejadian dari pasal 37 sampai Kejadian pasal 50. Kisahnya dimulai dari Yusuf dan saudara-saudaranya, dijual ke tanah Mesir, Yusuf di rumah Potifar, mimpi juru minuman dan juru roti, mimpi Firaun, Yusuf di Mesir sebagai penguasa, saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir, saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir untuk kedua kalinya, piala Yusuf hilang dan didapati, Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya, Yusuf menghiburkan hati saudara-saudaranya, dan Yusuf akhirnya meninggal.

Dari bacaan ini ada beberapa tulisan Firman Tuhan yang patut kita teladani dari Yusuf, khususnya untuk kehidupan kerohanian kita.

1. Iri hati, kebencian, dan ingin membunuh dari saudara-saudara Yusuf ( Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Zebulon,Dan, Isakhar, Gad, Asyer, Naftali, dan benyamin).

“Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya, dan tidak mau menyapanya dengan ramah…. maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya… dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka.Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya…” (Kejadian 37:4,11, 18 )

Iri hati, kebencian, dan ingin membunuh dari saudara-saudara Yusuf ini, adalah merupakan sifat manusia berdosa yang cenderung iri hati, benci, dan ingin membunuh.

Iri hati dan kebencian adalah perbuatan daging telah nyata seperti tertulis dalam Galatia 5 : 19-21. Dan, barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5: 21 b).

Jadi, seharusnya iri hati dan kebencian harus kita buang jauh-jauh-termasuk dalam pergaulan saudara bersaudara, dalam pekerjaan kita sehari-hari, dalam persekutuan dengan jemaat gereja- harus dirubah dengan buah roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,dan penguasaan diri (Galatia 5 : 22).

Buah dari iri hati dan kebencian, maka timbullah ingin membunuh.Pembunuhan ‘pertama’ tertulis dalam Alkitab yakni Kain dan Habel (anak-anak Adam dan Hawa).”Tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi panas, dan mukanya muram…..kata Kain kepada Habel, adiknya: marilah kita pergi ke padang.Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba kain memukul Habel adikknya itu, lalu membunuh dia ” (Kejadian 4 : 5,8).

Dalam sepuluh Firman Tuhan yang disampaikan Tuhan kepada Musa , “jangan membunuh” juga disebutkan di sini.(Ulangan 5 : 17). Jadi “jangan membunuh” kepada sesama manusia adalah merupakan perintah Tuhan langsung kepada manusia melalui Nabi Musa.

2. Setia sama Tuhan, takut berbuat dosa karena akan ‘menyakiti’ hati Tuhan juga dipraktikan langsung oleh Yusuf dalam kehidupannya sejak usia remaja. Bahkan saking setianya kepada Tuhan- maka dalam kehidupan sehari-hari Tuhan selalu menyertai Yusuf -sehingga hidupnya selalu berhasil, dan berhasil selalu dalam pekerjaannya.

“Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir, dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawa raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Tetapi Tuhan menyertai Yusuf , sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya, maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya bahwa Yusuf disertai Tuhan dan bahwa Tuhan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia, kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf” (Kejadian 39:1-4).

Kalimat “tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya….Yusuf disertai Tuhan dan bahwa Tuhan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya ,” -membuktikan langsung kepada kita -kalau setia sama penurutan Firman Tuhan- yang ada yaitu berkat-berkat keberhasilan di dalam pekerjaan kita sehari-hari.

Disertai oleh pimpinan Tuhan Yesus Kristus di dalam pekerjaan kita sehari-hari-apapun profesi pekerjaan kita- maka Tuhan akan membuat kita selalu berhasi, berhasil, dan berhasil. Siapa tak senang kalau pekerjaan kita dari hari ke hari selalu berhasil dan diberkati oleh Tuhan seperti pengalaman langsung Yusuf yang bekerja di rumah Potifar.

Namun, jangan lupa setelah berhasil dalam pekerjaan -bahkan memperoleh berkat kekayaan yang berlimpah-limpah- kewajiban kita tak boleh dilupakan yaitu perpuluhan (Malaekhi 3: 6-12, mengenai pembayaran persembahan persepuluhan menyenangkan hati Allah).

Terpenting lagi, dalam keberhasilan pekerjaan ada satu tugas misi -khususnya di lingkungan pekerjaan kita- yang diperintahkan Tuhan Yesus Kristus yaitu beritakanlah Injil ini ke seluruh dunia.(Matius 28 : 16-20 tentang perintah untuk memberitakan Injil).

3. Yusuf diusia teramat muda, gagah, ganteng, manis sikapnya, dan elok parasnya, ternyata telah membuat “jatuh cinta” dan “nafsu birahi” isteri dari Potifar.

“Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan birahi, lalu katanya, marilah tidur dengan aku… walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia…lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata, marilah tidur dengan aku, tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar” (Kejadian 39 :7,8,10,12)

Kenapa Yusuf sampai menolak ajakkan perzinahan dan perselingkuhan dari isteri Potifar ini ? “…..bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini, dan berbuat dosa terhadap Allah ” (Kejadian 39 :9b).

Soal perzinahan dan perselingkuhan ini telah diajarkan Yusuf kepada kita bahwa perzinahan atau perselingkuhan-siapapun itu yang melakukannya- adalah perbuatan paling jahat dan keji di mata Tuhan. Bahkan akan “melahirkan” dosa perzinahan seperti yang pernah dilakukan Raja Daud dan Betsyeba. Tuhan memang akan mengampuni dosa-dosa perzinahan kita, tetapi Tuhan tidak akan menanggung akibat-akibat dari dosa perzinahan kita !

Dalam buku roh nubuat Alfa dan Omega jilid 1 Bab 20 (Ellen G.White) “Sejarah Para Nabi” yang berjudul “Yusuf di Mesir” ((Halaman 246-257) antara lain menulis dan berpesan ;

1. Namun demikian, Yusuf mempertahankan kesederhanaannya dan kesetiaannya kepada Allah . Kejahatan yang ada di sekelilingnya , tetapi ia membawa dirinya seolah-olah buta dan tuli terhadap hal itu.Ia (Yusuf) tidak membiarkan pikirannya diisi oleh perkara-perkara yang terlarang. ((halaman 248)

2. Tetapi iman serta kejujuran Yusuf harus diuji oleh godaan-godaan yang hebat. Isteri majikannya berusaha membujuk anak muda ini untuk melanggar hukum Allah.Hingga saat itu ia (Yusuf) tetap tidak ternoda oleh kejahatan yang merajarela di negeri kafir itu, tetapi godaan ini begitu mendadak, begitu hebat, begitu licik, bagaimanakah godaan seperti ini harus dihadapi? Yusuf mengetahui dengan baik apa akibatnya jika ia berani menolak.Seluruh masa depan hidupnya bergantung atas keputusan detik itu. (halaman 249)

3. Jawaban Yusuf menyatakan kuasa dari prinsip-prinsip keagamaan. Ia tidak mau mengkhianati kepercayaan majikannya yang ada di dunia ini, dan apapun yang akan menjadi akibatnya, ia akan tetap setia kepada Tuhannya yang ada di Surga.Jikalau kita membiasakan diri dengan kesadaran bahwa Allah melihat dan mendengar segala sesuatu yang kita perbuat serta katakan, dan mengadakan catatan yang teliti akan segala kata-kata dan perbuatan kita, dan bahwa kelak kita harus mempertanggungjawabkannya , maka kita akan merasa takut untuk berbuat dosa. (Halaman 249-250).

4. Biarlah orang-orang muda selalu mengingat bahwa dimana saja mereka berada, dan apapun yang mereka perbuat, mereka berada di hadirat Allah. Tak ada satupun dari segala perbuatan kita yang terlepas dari pengamatanNya.Kita tidak dapat menyembunyikan jalan-jalan kita dari Yang Mahatinggi itu..Tengah malam yang paling gelap sekalipun tidak dapat menyembunyikan orang yang bersalah.Setiap perbuatan, setiap kata, setiap pikiran dicatat dengan jelas seolah-olah di seluruh dunia ini hanya ada satu orang saja, dan perhatian surga dipusatkan ke atas dirinya. (halaman 250). (bersambung)

Amin…Haleluya…. Tuhan Yesus memberkati

Pamulang, Jumat, 13 Januari 2017

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan