Puisi Rohani Pulo Lasman Simanjuntak Akhirnya, Puisiku Berdoa Untuk Virus Corona

Spread the love

Puisi Rohani

Pulo Lasman Simanjuntak

Akhirnya, Puisiku Berdoa Untuk Virus Corona

1
Sungguh Tuhan
-pagihari ini-
kotaku masih dibasahi derasnya hujan tangisan
tersembunyi empat belas hari
tanpa upacara pemakaman
serta nyanyian ratapan.

Hanya dari jauh kurekam keramaian kuburan, dan hiruk pikuk pasar tradisional
kusebut lagi nama Tuhan dalam Kitab Mazmur (pasal 91)

yang berkumur dengan ribuan binatang liar.

2
Kulihat lagi dengan kesedihan (ada amarah !)
306 peti mayat (kini 7000) sudah terbungkus
kulitnya makin hitam
terbaring lurus-
memanjang dimasukkan ke liang lahat-
semoga malaikat Tuhan
memberikan penghiburan

berlaksa-laksa puisi telah kutulis
tanpa nisan.

3
Taman yang dulu subur
kini ditumbuhi pohon dan semak mengerikan
turun ke dalam dunia orang mati
yang terpapar sunyi ;
angin jahat-
terinfeksi paru-paru puisiku
tanpa pengaman, bandara, mall, dan stasiun kereta dibuka
untuk berciuman dengan bau maut.

4
Virus Covid-19 ini
terbang tanpa sayap rajawali
dari  kota tirai bambu menuju negeriku
yang telah porak- poranda
oleh doa dan airmata
jeritan pilu seperti airmata berdarah;
dari rumah duka.

Oh, Tuhan
tak mampu lagi
kujalin kata-kata rohani.

Inikah masa kesesakan yang belum pernah terjadi? tanya puisiku sambil memeluk Kitab Suci.

5
Tuhan,
Inilah saatnya kami telah menyerah!

kedua tanganku yang makin mengecil
kuangkat setinggi-tingginya
sampai menuju ke atap langit
pintu surga.

Doa berantai (hari ke-60) malam nanti telah jadi saksi :
kami minta pengampunan dosa-kami minta ampunan Tuhan-
seperti Tuhan telah memberikan pengampunan
kepada bangsa Ibrani
dan kepada seluruh bangsa kami
umat Allah yang tersisa
menunggu jawaban pasti
dan benar.

6
Akhirnya, puisi ini mau berdoa
supaya tak lagi  virus dosa ini
bersetubuh dengan penyakit menular
dari mulut, hidung, sampai mata.

7
Puisiku tiba-tiba sesak nafas lagi
diselimuti selang infus dan tabung udara
rumah sakit bertingkat-tingkat
sampai rinduku kembali bermeditasi
di rumah Tuhan yang kutinggalkan tiga bulan.

Puisi ini  pun kembali kusalin di ruang tamu tujuh hari ;
cuci tangan, lepas masker
baca Firman Tuhan (Yakobus 5:16)
butuh kekuatan
selesai-haleluya
amin-.

Pamulang, Senin, 25 Mei 2020

Tinggalkan Balasan