Spread the love

Puisi

Pulo Lasman Simanjuntak

RUMAH TERBELAH DUA

dari kota seberang pulau-pulau terluar
sepasang pengantin bisu
masuk permukiman satu hektar
berlantai angan-angan
jadilah anak-anak kembar
tanpa akte kelahiran

melewati pintu zaman keluh kesah
di pinggir jalan dalam kota
tanpa terminal bus kota
yang rajin bertelur polusi
udara beracun sejak subuhhari

maka rumah itu terbelah dua
dipotongnya dengan sebilah pisau
seperti orang mabuk air keras
menulis di atas dua lembar kertas
dengan tanda tangan palsu
jadi bencana pandemi yang tak mau pergi

akhirnya mereka terkurung dalam rumah terbelah dua itu
lantaran kelaparan begitu hebat
sampai tiga turunan bermalas-malasan
tidur lelap tak bisa mendendangkan lagu-lagu sion atau menghapal isi kitab suci

kini tinggalkan senjata
pertempuran dibidik
antara lelaki berjubah putih dan matahari murtad
kawin mawin lantaran amarah tak berkesudahan

maka rumah terbelah dua itu
jadi sarang burung hantu siang dan malam
belum tahu kemana peta angin
bergerak untuk mengakhiri kisah
rumah terbelah dua

Pamulang, Kamis, 26 Agustus 2021

TEMBOK TERKUNCI

pondok sengketa ini
dicatat tiga belas abad
hanya karena kealpaan
saudaraku tak kembar
sehingga masa lalu
tak bisa melihat dengan kelopak mata
nyaris buta

padahal tubuhnya sudah dibangun
dengan tumpukan batu beton
yang datang dari negeri tirai bambu
kawan seiman jadi senang bertempur
berulang dengan amarah senada

hujan deras sejak dinihari telah menyatukan suara perempuan liar
terekam dalam sinyal radio handytalky
“siapa yang membangunkan tetangga tertidur di ranjang kematian,” teriakmu di pintu gerbang

selesai sudah bencana ini
diselesaikan dengan tembok terkunci

Pamulang, Kamis 16 September 2021


Biodata Penyair :
Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya, 20 Juni 1961.Menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta).Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977.
Kemudian pada tahun 1980 sampai tahun 2021, sajak-sajaknya telah dipublikasikan diberbagai media cetak nasional, daerah, media online, dan medsos.
Buku Antologi Puisi Tunggal yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), Taman Getsemani (2016), Bercumbu Dengan Hujan (2021), Tidur Di Ranjang Petir ( 2021) serta Mata Elang Menabrak Karang (2021).Saat ini sedang persiapan untuk penerbitan Buku Antologi Puisi Tunggal ke – VII  berjudul Tembok Terkunci.Sajaknya juga ikut dalam 12 Buku Antologi Puisi Bersama. Bekerja sebagai wartawan dan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Tinggalkan Balasan