Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Apa yang kita harapkan dari puisi seorang penyair? Kebaruan (novelty), sebagaimana diharapkan dalam sebuah artikel ilmiah terkini? Atau, nilai-nilai aksiologisnya di balik lipatan puisi-pusinya itu? Semua mungkin saja.

Tapi, dituntut oleh puisi itu sendiri, yang multitafsir, kita harus “tunduk” kepada penyairnya untuk menyelami apa yang menjadi “:kebaruan” sebagaimana saya maksudkan.

Hal itu disampaikan oleh Prof.Dr.Wahyu Wibowo , Dosen Sastra Universitas Nasional dalam acara sastra peluncuran dan bedah buku antologi puisi tunggal PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA karya Nuyang Jaimee yang berlangsung di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Lantai 4, Gedung Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Jumat (1/12/2023).

Tapi, kita juga akan menabrak “dinding” adagium ini: tidak ada sesuatu pun yang baru di bawah matahari.

Nah, artinya, dalam konteks ini, apa pun yang telah ditulis penyair, pada hakikatnya telah telah ditulis oleh penyair lain sebelumnya, bahkan jauh sebelum si penyair ini lahir. Lalu, kalau begitu, mengapa puisi terus-menerus tercipta?

Menurut para filsuf, sih, manusia hidup demi menuntut keindahan dan kebenaran dalam kehidupannya itu. Apa pun warna kehidupannya itu. Sekadar contoh, para penyair yang beraliran Romantik – aliran atau gerakan seni ini lahir pada abad ke-18 zaman Revolusi Industri di Eropa Barat — yang melukiskan kenyataan dengan cara yang dramatis (reaksi terhadap alam dan kehidupan).

Istilah “romantik” itu sendiri berasal dari kata “romans”, sebuah dialek Bahas Prancis. Istilah ini diberi arti cerita khayalan yang aneh dan menarik, penuh petualangan, dan penuh mengandung unsur percintaan.

Sastra romantik, dengan demikian terasa seperti mimpi, emosional, meluap-luap, dinamis, pengagungan penemuan dan/atau keberhasil yang menyentuh perasaan, dan cendrung kembali pada sejarah dan alam (yang oleh karena itu, sering digambarkan dengan ungkapan “kaum Romantik selalu berupaya mencari-cari ‘sesuatu’ (keindahan dan kebenaran) dengan “kembali pada alam” (yang tak pernah ditemuinya).

Aliran Romantik di Jerman pada akhir abad ke-19, misalnya, mengangkat nama Friederick Schlegel dan Francisco Goya; di Indonesia –– aliran Romantik mengangkat nama pelukis Raden Saleh, dan mengangkat sastrawan Indonesia melalui pengaruh Angkatan 80 (1880) dari Negeri Belanda, yaitu para penyair Indonesia Angkatan Pujangga Baru (1930-an), seperti Sutan Takdir Alisjahbana, M. Yamin, Amir Hamzah, dan Sanusi Pane.

Sebait puisi karya Amir Hamzah yang terkenal, misalnya, “Tiada bersua dalam dunia/tiada mengapa hatiku sayang” (“Astana Rela”, 1937),

Lalu, bagaimana dengan puisi-puisi Nuyang Jaimee? Wanita penyair berdarah Cina-Sunda kelahiran 31 Maret 1977 ini, kalau hendak menyimaknya, masih menggarisbawahi semangat Romantik dengan mengedepankan semangat baru.

Artinya, Nuyang tetap tampak mencari-cari keindahan dan kebenaran (dalam kehidupannya), yang ditampilkan melalui sejumlah besat pusinya dalam kumpulan puisinya ini, namun dalam pencarian yang bernada “menantang”, sebagaimana misalnya terbaca dalam puisinya, “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”.

Imaji dan tujuan apa yang hendak dilakukan Nuyang, selain “tantangan” yang bernada menggugat bahwa masyarakat pada Abad Internet dewasa ini memang pendoa (selalu memohon-mohon kepada Tuhannya).

“Namun apakah mereka ingat siapa nama Tuhannya? Gugatan Nuyang yang bersifat kontradiktif ini setidaknya memantulkan cermin kehidupan manusia modern dewasa ini, yang selalu digambarkan sebagai orang-orang yang hidup terburu-buru, tergesa-gesa, dan memilih hidup pragmatis demi keuntungan diri-sendiri,” ucap Prof.Dr.Wahyu Wibowo.

Tantangan dan gugatan Nuyang, yang kontradiktif, terlihat kembali pada puisi berikutnya, “Aku Rindu Padamu”: sungguh/aku rindu Indonesiaku”.

Untuk tiba pada “rindu Indonesia”, nada gugat dan tantangan Nuyang sudah dikukiskanya pada bait pertama puisinya itu, “memasuki abad ini/aku rindu padamu/tanah negeriku”. Imaji yang dibangun tentang kerinduannya itu, disajikan Nuyang melalui, sekali lagi, kontradiksi, yang mengantarnya kembali pada semangat awal Romantik: kekecewaan terhadap “alam”, dan pencarian terus-menerus pada alam, yang dikongkretkan dalam wujud Tanah Air Indonesia, yang menurut Nuyang, dahulu sangat indah dan memasuki abad ini sudah tidak indah lagi.

Dahulu indah dan kini tidak indah lagi adalah imaji yang dibangun Nuyang melalu kontradiksi, melalui gugatan yang fenomenal (apa yang tampak atau apa yang dirasakannya).

Di dalam puisinya itu, memang Nuyang seolah memberi penjelasan bahwa dulu Tanah Air indah karena sejuk, hijau hutannya, biru lautnya, daun bergoyang-goyang, dan malam riuh oleh suara jangkrik (acatatan”: inilah bukti bahwa Nuyang mnggariswahi semangat Romantk!).

Namun, Nuyang tidak sekadar ingin “kembali ke alam”, sebab di balik diksi “aku rindu” yang digunakannya, Nuyang menggugat dalam pertanyaan retoris: mengapa keindahan itu kini lenyap? Sebuah kesadaran kontekstual yang dialami Nuyang, yang mendorongnya untuk menulis puisi tersebut.

Bisa jadi, melalui puisinya itu, Nuyang juga bertujuan membangkitkan pengalaman ektra-liteter para pembacanya, mengenai “perilaku para pragmatis” tersebut, sehingga itu tadi Nuyang tercebur ke awal semangat Romantik, yaitu “pencarian yang tidak berujung”.

“Tapi, toh ia tetap menantang dan menggugat (membongkar) bahwa kehidupan yang indah dan benar adalah keniscayaan yang mesti terus-menerus disuarakan,” ujarnya.

Lalu, apakah gugatan dan penantangan Nuyang berhasil? Toh, termotivasi oleh sederet pengalaman keseniannya, ia berupaya mewujudkannya melalui kumpulam puisinya ini.

“Oleh karena itu, kepada Nuyang boleh diacungi jempol: teruslah berkarya melalui gugatan dan penantanganmu atas pencarianmu pada keindahan dan kebenaran dalam kehidupan, karena betapapun, kiranya itulah gaya berpuisimu,” pungkasnya.(**/Bro-3)

Editor : Lasman Simanjuntak

 

Tinggalkan Balasan