Prof.Dedi Nursyamsi : Menggarap Pertanian Itu Harus dari Hulu Sampai Hilir

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah berkali-kali  dan berulang-ulang menyatakan tekad kita untuk menjadikan Indonesia Lumbung Pangan Dunia tahun 2045. Itu artinya tekad kita sangat besar dan tinggi untuk mencapai itu.

Tentu ini ada tahapan-tahapan serta  persyaratan-persyaratan yang harus diikuti.Tahap pertama dimulai dengan swasembada pangan. Setelah swasembada pangan stabil, tentu kita harus ekspor.

Kenapa, karena Lumbung Pangan Dunia bukan hanya menghidupi  kita sendiri, tetapi menghidupi saudara-saudara kita yang lain, terutama ‘tetangga-tetangga’ terdekat, jadi untuk internasional, pangan untuk dunia, melalui ekspor tentunya.

Demikian dikatakan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian Prof.Dr.Ir. Dedi Nursyamsi , M.Agr dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu pagi  (14/8/2019) sehubungan dengan rencana Kementerian Pertanian akan menyelenggarakan wisuda nasional 6 (enam) Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) pada Selasa 20 Agustus 2019 di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta.

Dalam jumpa pers tersebut ikut hadir Dr.Ir.Idha Widi Arsanti, Sp,Mp, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Dr.Ir.Siti Munifah,MSi, Sekretaris BPPSDMP, dan Dr.Ir.Leli Nuryati, Msc, Kepala Pusat Penyuluhan.

” Tekat kita sangat besar, tekat kita sangat tinggi dalam mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia,” tegasnya.

Bicara mengenai ekspor, lanjut Prof.Dr.Ir.Dedi Nursyamsi,  itu berarti kita harus mempunyai komoditas yang berdaya saing tinggi.Jadi, tidak hanya sekedar  bisa memproduksi, tetapi juga harus memiliki daya saing yang tinggi.

“Bagaimana caranya kita memiliki produktivitas yang berdaya saing tinggi, itu artinya kita harus menghasilkan komoditas yang produktivitasnya tinggi.Kalau produktivitas tinggi, itu artinya efektif , efisien,dan cepat.Kalau tidak efisien,pasti produktivitasnya tidak  akan tinggi.Kalau produktivitasnya tinggi, enggak mungkin tak bisa bersaing dalam hal ekspor,”ujarnya.

Menurutnya, untuk mencapai produktivitas tinggi diperlukan dukungan infrastruktur yang kuat, memerlukan inovasi teknologi  pertanian yang muktahir, memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang handal, kompeten, mandiri, profesional, dan tak kalah penting berjiwa entrepreneurship atau memiliki jiwa  wirausaha yang tinggi.

“Bahkan kalau mau diurut lagi- menurut pendapat saya- untuk mencapai produktivitas tinggi,untuk mencapai komoditas yang berdaya saing tinggi,untuk mencapai ekspor yang tinggi, dan untuk menjadi Lumbung Pangan Dunia, adalah Sumber Daya Manusia (SDM)  yang kompeten, handal, profesional, mandiri, dan berjiwa wirausaha yang tinggi,” ucapnya.

Untuk itu-lanjut Prof.Dr.Ir.Dedi Nursyamsi- Kementerian Pertanian melalui jalur pendidikan (vokasi)- sudah mentransformasi STPP (Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian) yang dulunya  hanya fokus pada penyuluh pertanian, sekarang menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan).Artinya, nanti menghasilkan alumnialumni yang betul-betul handal di bidang masing-masing.

“Misalnya, handal di bidang penyuluhan, handal di bidang mekanisasi pertanian yang merupakan indikasi pertanian moderen,  handal di bidang agribisnis, dan  handal di bidang pengolahan hasil pertanian.Kita harus menggarap pertanian itu dari hulu sampai hilir,” pesannya.

Kalau dulu petani atau para pelaku pertanian hanya fokus di hulu, sekarang hulu sampai hilir. kenapa, yang hilir itu justru memberikan nilai tambah yang sangat tinggi.

“Contoh, gabah itu harganya hanya Rp 4000/kg, tetapi kalau sudah jadi beras, artinya sudah prosesif dan ada lahan, harganya menjadi Rp 9000/kg sampai Rp 10.000/kg.Apalagi beras premium itu nilai tambahnya lebih besar lagi, kenapa, karena beras premium bisa dijual dengan harga Rp 13.000/kg sampai Rp 20.000/kg di supermarketsupermarket.Petani hanya jual gabah Rp 4000/kg, sementara yang sudah alami olahan atau prosesif itu bisa menjual beras premium harganya Rp 20.000/kg, harga meningkat lima kali lipat,” kilahnya.

Jadi, kalau kita menggarap yang hilir justru keuntungannya lebih tinggi daripada yang di hulu.Oleh karena itu kita harus menggarap pertanian dari hulu sampai hilir.

“Insya Allah tanggal 20 agustus 2019, Kementerian Pertanian akan melantik wisudawan 821 orang berasal dari 6 Polbangtan yang ada di Medan, Bogor, Gowa, Yogjakarta, Magelang, dan Manokwari.Jadi alumni yang dihasilkan enam Polbangtan tersebut diharapkan menjadi lebih  dari 80 % menjadi job creator. Artinya adalah pelaku pertanian yang bisa berwirausaha,”katanya.

Melalui program Pengembangan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP). Jadi melalui program PWMP mereka sudah  kita didik dan diberikan modal serta dikembangkan menjadi usaha pertanian yang bisa kompetitif yang bisa berkembang lebih besar lagi. Artinya, lebih dari 80 % alumni Polbangtan ini kita didik menjadi wirausahawan, untuk menjadi pelaku pertanian yang handal, profesional, dan berjiwa wirausaha tinggi.

“Dia merupakan tenaga yang betul siap terjun dunia usaha dan industri,siap terjun di perusahaan perkebunan, hortikultura, mekanisasi pertanian, pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan pengolahan.Itu yang kita siapkan untuk menyongsong Lumbung Pangan Dunia,”ujarnya.

Perkembangan teknologi  saat ini sangat pesat.Kebetulan kalau di Indonesia itu era industri 1.0 masih ada, yng betul-betul masih mengandalkan alam.Contoh ladang berpindah, jadi dia itu  menghasilkan pangan, betul betul hanya mengandalkan alam.Tidak ada inovasi teknologi di situ.

“Misalnya saudara-saudara kita mungkin di Provinsi Banten, mungkin di Provinsi Jawa Timur, atau mungkindi Kalimantan Selatan atau di Kalimantan Tengah. Ada juga era industri 2.0  yang sudah menggunakan  berupa  teknologi yang sangat sederhana, misalnya menggunakan hewan atau traktor, dan sebagainya.Ada juga industri 3.0 yang sudah menggunakan listrik.Termasuk kemudian adanya pertanian moderen,”pungkasnya. (Bro-2)

Editor : Lasman Simanjuntak

 

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan