Spread the love

Berita Sastra :

Penyair Pulo Lasman Simanjuntak dengan Buku Antologi Puisi Tunggal “Tidur di Ranjang Petir”

INILAH salah satu penyair 1980-an yang masih dan terus berkarya: Pulo Lasman Simanjuntak.

Lasman, biasa ia dipanggil, merupakan salah satu pendiri Kelompok “Diskusi Sastra Kita ” Jakarta, kelompok sastra yang didirikan pada era itu.

Penyair ini menerbitkan buku kumpulan puisi tunggalnya dengan penuh semangat. Buku antologi puisi yang bertajuk “Tidur di Ranjang Petir” berisi 50 puisi yang ditulis sang penyair setelah era milenium.

Judul buku ini diambil dari salah satu puisi yang ada di dalamnya.

Dalam buku ini ia banyak menyajikan puisi-puisi kontemplatif. Lebih banyak menyajikan puisi rohani.

Ini barangkali karena sang penyair sebagai pendeta (pelayan gereja).

Wajar, jika dalam karyanya Lasman memadukan kekinian dengan agama yang dianutnya.

Seperti ini: Aku pun teringat cerita Nabi Musa yang juga marah saat bangsa Ibrani menyembah ilah ilah lain. (halaman 86)

Membaca penggalan puisi di atas, saya membayangkan bagaimana Nabi Musa marah karena mereka takut kepada kekuasan Firaun (hingga menyembah sang raja) serta menyembah berhala yang diyakini Firaun sebagai tuhan.

Kegelisahan jiwa manusia ini telah dicatat dengan apik oleh sang penyair dalam puisi yang berjudul “Depresi”.

……..

Ssssstttt……ssssstttt……sssstttt……sssstttt….

Puih!

Zzzzzzz…zzzzzz……zzzzz…..zzzzz….

Bangsat!

Suara-suara gaib itu

Siapa

Kemana?

(halaman 90)

Ini menggambarkan kontradiksi batin (sebagian besar) masyarakat yang tengah dilanda ketakutan.

Bukan takut menghadapi kehidupan. Tepi, takut melihat keadaan yang tak sesuai kenyataan.

Dari ke-50 puisi yang ada dalam buku ini, kita berharap Lasman tidak berhenti sampai di sini. Elan kepenyairannya memang patut berlanjut.

LABEL : PUISI PULO LASMAN SIMANJUNTAK
____________________________________________

(**/Tulisan ini dikutip dari laman facebook Penyair Ayid Suyitno PS, yang bersumber dari website Widku.com, Kamis, 23 September 2021)

Tinggalkan Balasan