Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Pada hari yang cerah ini-matahari juga makin meninggi-saya berjalan kaki sehat dari kompleks Perum Pamulang Permai I menuju ke kawasan Bambu Apus (yang bertetangga dengan Pamulang-red) di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Di kawasan eks kebon bambu ini, saya sedang mencari umbi-umbian seperti ubi, ketela, talas, jagung, atau singkong untuk konsumsi makan siang.

“Sebab, harga beras hari ini (Kamis, 22 Februari 2024) terus.melambung tinggi.Dari semula Rp 10 ribu/liter meroket sampai mencapai Rp 16 ribu/liter, bisa jadi nanti Rp 20 ribu/liter.Saya sendiri hanya mampu membeli beras Rp 12 ribu/liter, maklum jelang pensiun he..he..,” ujar Penyair dan Sastrawan Pulo Lasman Simanjuntak ( 62 tahun) di Jakarta, Kamis siang (22/2/2024).

Di sebuah pojok jalan, ada warung ‘babeh’ yang menjual umbi-umbian dengan harga cukup murah.

” Ubi merah Rp 10 ribu per kilo Pak.Mau beli berapa kilo,” tanya penjual sembari mengambil timbangan digital.

Hari ini saya ‘berhemat’ hanya mampu beli umbi merah satu kilo sepuluh ribu rupiah saja.

Kepada isteri dan anak-anak-tadi pagi- saya ajak sekeluarga untuk membiasakan diri makan umbi-umbian sebagai pengganti konsumsi beras yang makin mahal.

Namun, ada pertanyaan dalam hati, anak-anak saya-Gen Z Milenial-apakah masih mau enggak ya makan ubi atau singkong sebagai pengganti beras.

” Ini berarti saudara telah membantu program pemerintah cq Badan Ketahanan Pangan cq Kementerian Pertanian RI untuk masyarakat Indonesia melakukan diversifikasi pangan pengganti konsumsi beras semisal singkong, ubi, ketela, ubi jalar, jagung, dsb,” begitu komentar saya ketika seorang rekan penyair posting rebusan singkong untuk sarapan pagi di sebuah WA Group Komunitas Sastra pada Kamis pagi (22/2/2022).

Kampanye diversifikasi pangan sudah sering dilontarkan Mentan Amran Sulaiman sejak 10 tahun lalu.Termasuk pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk ditanami umbi-umbian untuk keperluan keluarga sendiri.

Seperti diketahui beras premium-misalnya-makin menghilang dan langka.Andaikata ada, harga melambung tinggi sampai mencapai Rp 16.000/liter dan Rp 700 ribu per karung.

Berita terakhir menyebutkan dalam menyambut Ramadhan dan Lebaran 2024 ini Perum Bulog akan kembali IMPOR beras 2 juta ton dari Kamboja, Thailand, dan Vietnam.

Krisis Pangan

Mungkinkah Indonesia akan alami krisis pangan (baca : beras!) dikemudian hari karena perubahan fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman dan industri, sumber daya manusia yang makin terbatas (belum mekanisasi pertanian moderen seperti di Thailand-red).

Ataukah gagal panen karena bencana banjir dan belajar dari gagalnya Proyek Pangan Sejuta Hektar di lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1996 lalu.

Pada tahun 2024 ini dilanjutkan dengan proyek Food Estate sampai ke tanah Papua, bagaimana progress fisiknya sampai sekarang?

Harus juga segera diantisipasi adanya “ancaman” baru-baru dari 22 negara akan stop impor beras ke Indonesia, karena kebutuhan pangan dalam negeri mereka lebih diutamakan.
Ngeri, krisis pangan sudah di depan mata bro !

Sebagai penyair dan sastrawan generasi boomers-saya harus ikut bertanggungjawab-supaya Indonesia jangan sampai terjadi krisis pangan.

Namun, mungkinkah saya akan terus berkonsentrasi dapat menulis puisi, sementara stok beras di rumah kosong.melompong.

Saya mau belajar dari kasus “bubarnya” negara Soviet jadi Rusia lantaran karena negara tak.mampu atasi urusan pangan di dalam negeri.

Begitu pula pesan Presiden Pertama RI Soekarno bahwa bangsa ini akan terpecah belah-hancur lebur- bila urusan pangan atau urusan perut tak bisa diatasi.

Kita harus tetap optimis-jangan pesimis– beri solusi terbaik.Bukankah tahun 1983-1984-era Presiden Soeharto-,negara Indonesia pernah berhasil Swasembada Pangan.

Laporan Berita

Pada minggu lalu saya telah menulis laporan berita berjudul “Beras Premium Mulai Menghilang di Toko Ritel
dan Swalayan Alfa Mart dan Indo Mart Pamulang, Kota Tangerang Selatan” .
Berikut isi beritanya :
Setelah di Kota Jakarta dan sekitarnya, sudah seminggu ini beras premium mulai ‘menghilang’ dari toko swalayan Alfa Mart dan Indo Mart di kawasan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

“Betul, Pak.Sudah seminggu ini stok beras premium kosong, yang ada dijual tinggal beras merah saja,” ujar seorang karyawan Alfa Mart di Perum Pamulang Permai I, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten yang ditemui pada Senin sore (12/2/2024).

“Enggak tahu apa penyebabnya.Banyak pelangan yang mau beli beras premium kecewa, karena stok beras premium kosong.Apa mungkin harga beras jelang Pemilu 2024 ini harganya mau naik lagi,” tanya seorang karyawan pria Indo Mart baik ditemui di Perum Pamulang Permai I maupun di Portal Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Berdasarkan pengamatan dibeberapa toko pengecer beras diperoleh keterangan yang sama.
Stok beras juga makin sulit didapat-kalau ada harganya juga mahal- tertinggi Rp 13.500/liter.

Sementara harga beras di bawah Rp 13.000/liter menurut pedagang kualitasnya makin buruk, dan rasanya tak enak kalau sudah dimasak.

“Saya kuatir kalau beras makin menghilang, begitu membanjiri pasar harganya melambung tinggi.Bisa mencapai Rp 15.000 per liter di tingkat pengecer.Wah, makin sulit bagi kami yang sudah pensiun ini,” ucap Jhonnie Castro, seorang warga Perum Pamulang Permai I yang ditemui di Jln.Bougenvile V.

IMPOR BERAS LAGI

Sementara itu Perum Bulog menargetkan impor 2 juta ton beras sepanjang 2024. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan pangan saat Ramadhan dan Lebaran, antisipasi kondisi sebelum panen raya, hingga menghadapi masa paceklik tahun ini.

Direktur Utama Bulog, Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah telah menerbitkan izin impor 2 juta beras, sehingga proses penjajakan tengah dilakukan dengan negara mitra.

Pada tahap awal, perusahaan telah mendatangkan 500.000 ton beras.Bulog Sudah Impor Beras 500.000 Ton.

“Kita kelola impor dengan baik, pemerintah telah memberikan izin untuk 2 juta ton, izin itu untuk satu tahun penuh (2024), jadi kita akan kelola sedemikian sehingga pasokan tersedia sekarang, menghadapi ramadhan dan lebaran,” ujar Bayu saat ditemui di Robinson Ramayana Ciplaz Klender, Jakarta Timur, Senin (12/2/2024).

Diperkirakan masa paceklik terjadi pada Juni, Juli, dan Oktober tahun ini. Sehingga, pasokan beras untuk program Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) atau operasi pasar harus tetap tersedia.(**/ BRO-2)

Editor : Eykel Lasflorest

Tinggalkan Balasan