Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Penyair dari Jakarta Nanang Ribut Supriyatin keluar sebagai pemenang pertama Lomba Cipta Puisi Kenangan Tentang TIM rentang tahun 1968-2018 yang digelar Bengkel Deklamasi dan langsung diumumkan dari Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Rabu sore (15/12/2021).

Sementara itu pemenang kedua pada Lomba Cipta Puisi yang diikuti sekitar 307 peserta dari seluruh Indonesia dan luar negeri ini adalah Penyair Isbedy Stiawan ZS (Lampung), dan pemenang ketiga Penyair Tri Astoto Kodarie (Pare-Pare).

Penyerahan hadiah untuk pemenang pertama Rp 5 juta, pemenang kedua Rp 4 juta, dan pemenang ketiga Rp 3 juta ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Iwan Wardana.

Yose Rizal Manua, Pimpinan Deklamasi dan Ketua Juri mewakili Dr.Sunu Warsono dan Acep Zamzam Noer menjelaskan Lomba Cipta Puisi Kenangan tentang Taman Ismail Marzuki (TIM) rentang tahun 1968-2018 yang diikuti 307 peserta.

Dikatakan menurut rencana,   107 puisi bersama tiga pemenang,  akan dibukukan sebagai kenang-kenangan tentang TIM yang kini dalam proses penyelesaian renovasi dan pembangunan yang diperkirakan akan selesai awal tahun 2022 mendatang.

Biodata Penyair Nanang Ribut Supriyatin

Kelahiran Jakarta, 6 Agustus 1962. Sarjana Administrasi Publik dari sebuah perguruan tinggi swasta ini menulis puisi, cerita pendek dan artikel sejak tahun 1980-an yang dimuat di berbagai media massa, seperti: Majalah Sastra dan Budaya Horison, Gadis, Anita Cemerlang, Hai, Mode, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Terbit, Republika, Pelita, Berita Buana, Suara Karya, Swadesi, Simponi, Berita Yudha, Terbit, Cakrawala (Jakarta) Banjarmasin Post (Banjarmasin), Karya Bhakti (Mataram), Singgalang (Padang), Kedaulatan Rakyat, Pusara (Yogyakarta) dan Lampung Post (Lampung).

Puisi dan cerita pendeknya memenangkan Lomba Cipta Puisi/Cerpen yang diadakan skh. Sinar Harapan (1982), Gelanggang Remaja Bulungan (1982), Biro Informasi Sastra Banjar-masin (1983), skh. Terbit (1983), skm. Swadesi (1989), HP3N Batu Malang (1994), Penerbit Puspa Swara (1994) dan Kelompok Lingkaran Komunikasi Malang (2002). Aktif dalam Kelompok Study Sastra PPK Kuningan (1981-1983), Komunitas Sastra Indonesia (1996-2000).

 Penyair Nanang Ribut Supriyatin merupakan salah seorang pendiri Kelompok Sastra Kita Jakarta (1984-sekarang). Disutradarai Djadjat Mahendra ikut mementaskan teater di HotelJayakarta, TMII (1983) dan dua kali menjadi figuran sinetron remaja di TVRI (1984).

Diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Malam Baca Puisi Kemer-dekaan (1986),  Forum Puisi Indonesia (1987), Pembacaan Puisi Tiga Penyair Jakarta (1988), Pembacaan dan Diskusi Puisi Penyair Jakarta (1989). Membacakan puisi di TMII (1985), PPIA-Surabaya (1986), SMAN 3 Tanjung Karang, Lampung (1986), Taman Budaya, Solo (1995), Taman Budaya, Lampung (1996), Kayu Tanam, Padang (1997) dan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1999).

Antologi bersama yang memuat puisi, cerita pendek dan biodatanya: “Antologi Puisi Indonesia” (Banjarmasin, 1980), “Pendopo Taman-siswa Sebuah Epi-sode” (Yogyakarta, 1982), “Empat Melongok Dunia” (1984), Sketsa Sastra Indo-nesia (Jakarta, 1986), “Mengenang Chairil Anwar” (Lampung, 1986), “Antologi Puisi Penyair Indonesia” (Jakarta, 1987), “Antologi Puisi Tiga Penyair Jakarta” (Jakarta, 1988), “Antologi Puisi Penyair Jakarta” (Jakarta, 1989), “Menatap Publik” (Jakarta, 1994), “50 Tahun Indonesia Merdeka” (Solo, 1995), “Pusaran Waktu” (Jambi, 1995), “Mengenang Bumi Kelahiran” (Puspa Swara, Jakarta, 1993), “Trotoar” (Tangerang, 1996), “DariBumi Lada” (Lampung, 1996), “Antologi Puisi Indonesia” (Angkasa Bandung, 1997), “Slonding” (Bali, 1998), “Jakarta, Jangan Lagi” (Kolong Budaya, Malang, 1999), “Resonansi Indonesia” (KSI, Jakarta, 2000), “Leksikon Susastra Indonesia” (Korrie Layun Rampan, Balai Pustaka, 2000), “Datang Dari Masa Depan” (Tasik, 2001), “Leksikon Kesusasteraan Indonesia” (Pamusuk Eneste, 2001), “Equator” (Yogyakarta, 2011) dan “Dari Sragen Memandang Indonesia” (Sragen, 2012). Sedangkan antologi puisi tunggalnya yang sudah terbit: “Nyanyian Anak Negeri” (1984), “Suara Suara” (1985), “Dunia Di Persimpangan Jalan” (1989), “Prosa Pagi Hari” (1995) dan “Bayangan” (1996).

Penyair Nanang Supriyatin termasuk salah seorang penerima Puputan Margarana Award (Bali, 1998) untuk sebuah puisinya berjudul “Evenia”, dan saat ini pensiunan PNS Pemda Provinsi DKI Jakarta.(**/DBS/BRO-2)

Berita dan foto  : dari berbagai sumber

Editor                   : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan