Spread the love
Teks Foto : Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyaksikan langsung gerakan pengolahan lahan serempak untuk percepatan dan penambahan luas tanam (brigade tanam) Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Selasa siang (19/7/2016). Pada kesempatan itu Mentan juga memberikan bantuan alsintan kepada kelompok tani setempat. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)
Teks Foto : Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyaksikan langsung gerakan pengolahan lahan serempak untuk percepatan dan penambahan luas tanam (brigade tanam) Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Selasa siang (19/7/2016). Pada kesempatan itu Mentan juga memberikan bantuan alsintan kepada kelompok tani setempat. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Serang, BeritaRayaOnline,-Untuk menekan harga daging sapi segar yang masih bertengger di atas Rp 100.000/kg, pemerintah berencana merevisi UU Nomor 41 Tahun 2014 yang melarang impor sapi siap potong.

Dengan aturan yang ada saat ini, impor sapi hidup hanya mengizinkan sapi bakalan yang kemudian digemukkan oleh feedloter, setidaknya dalam 3 bulan.

Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, mengatakan tujuan awal larangan impor sapi siap potong untuk membuat harga daging sapi bisa lebih murah ketimbang membelinya langsung sapi tua dari Australia.

Ini lantaran proses penggemukan di Indonesia dianggap lebih efisien dengan banyaknya sumber pakan murah untuk penggemukan sapi. Selain itu, feedloter juga diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja di dalam negeri.

“Ide awal kenapa harus ada feedloter karena agar harga daging sapi bisa lebih murah. Sehingga, protein tersedia buat rakyat kecil karena pakan (sapi) dalam negeri sangatlah murah,” jelas Menteri Pertanian Andi  Amran Sulaiman usai menyaksikan gerakan pengolahan lahan serempak untuk percepatan dan penambahan luas tanam (brigade tanam), di Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (19/7/2016).

Menurut Amran, melimpahnya sumber pakan murah seperti jerami padi, bungkil sawit, dan rumput hijauan di dalam negeri membuat feedloter seharusnya bisa memproduksi daging lebih murah dibanding peternakan di Australia.

“Yang terjadi apa? Malah sebaliknya, harga daging (sapi hidup) di Australia Rp 27.000/kg, di feedloter malah jauh lebih mahal Rp 43.000/kg,” ujarnya.

Dari hitung-hitungannya, daging sapi segar yang yang berasal dari feedloter bisa lebih murah, atau setidaknya sama murahnya dengan daging sapi beku asal Negeri Kanguru tersebut.

“Harusnya kan frozen (daging beku) lebih mahal dari daging segar karena ada processing, ada pengangkutan, dan lainnya. Loh ini yang terjadi frozen malah hanya Rp 70.000/kg,” ungkap Amran.

Merangkak Naik

Sempat dikira tak laku, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman semringah daging sapi beku laris manis di pasar.

serangduaMenjelang bulan puasa dan hari raya lebaran, harga daging sapi sempat merangkak naik sebabnya karena permintaan meningkat dan pasokannya tetap alias tidak mengalami perubahan.

 

Untuk itu, pemerintah berupaya mengendalikannya dengan cara mengimpor daging sapi beku untuk jangka pendeknya. “Contohnya daging, pertama pas bulan ramadhan daging frozen masuk rakyat tidak suka. Aku bermohon kepada yang mengatakan tidak suka jangan mewakili kata rakyat. Buktinya habis dan antri salah satunya di TTI,” ungkapnya di Banten, Selasa (19/7/2016).

Dia bilang, daging frozen dikonsumsi oleh semua lapisan mulai dari yang menengah keatas hingga menengah kebawah. Kali ini pemerintah beri kesempatan kepada masyarakat untuk membeli dengan harga Rp70.000- Rp 80.0000 per kg. “Ini (persepsinya) jangan dibolak balik padahal higienis dan harganya Rp 70 ribu,” ujarnya.

Terkait dengan perubahan regulasi, dia mengatakan jika rakyat yang membutuhkan pasti bisa berubah. “Rakyat butuh pasti berubah (regulasinya). Ada hormon jangan ke hormon impor tapi hormon dalam negeri yang membahayakan masyarakat kami cabut ijinnya. Bukan hanya daging yg kami proteksi,” katanya.

Impor Daging Sapi Beku

Sementara itu Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) kembali akan merealisasikan impor daging beku, dari jatah sebanyak 24.700 ton. Kali ini daging sapi beku akan didatangkan dari Selandia Baru.

“Mungkin bulan-bulan ini masuk. Sekitar 1.000-2.000 ton dari Selandia Baru untuk tahap awal,” ucap Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti, di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (19/7/2016).

Djarot mengatakan, diversifikasi pemasok daging sapi impor merupakan upaya pemerintah untuk mewujudkan harga yang wajar dan mengurangi ketergantungan terhadap Australia.

Djarot mengatakan, selama ini Indonesia hanya mengimpor sapi dan daging sapi dari Australia.

“Yang pasti pemerintah ingin memperluar suplier daging sapi untuk memperoleh harga yang wajar,” kata Djarot.

“Negaranya mana saja, yang diizinkan oleh Undang-undang, Selandia Baru, Spanyol, Brazil, India atau negara lain yang memungkinkan kita memperoleh suplai sapi dan daging sapi untuk menutup shortage sebelum mencapai swasembada,” ucap Djarot.

Beberapa waktu lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga melaporkan salah satu penyebab depresiasi nilai tukar eceran rupiah terhadap dollar Australia adalah banyaknya impor daging sapi dari negeri kanguru itu.

Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) kembali akan merealisasikan impor daging beku, dari jatah sebanyak 24.700 ton. Kali ini daging sapi beku akan didatangkan dari Selandia Baru.”Mungkin bulan-bulan ini masuk. Sekitar 1.000-2.000 ton dari Selandia Baru untuk tahap awal,” ucapnya.
Djarot mengatakan, diversifikasi pemasok daging sapi impor merupakan upaya pemerintah untuk mewujudkan harga yang wajar dan mengurangi ketergantungan terhadap Australia.Djarot mengatakan, selama ini Indonesia hanya mengimpor sapi dan daging sapi dari Australia.

“Yang pasti pemerintah ingin memperluar suplier daging sapi untuk memperoleh harga yang wajar,” kata Djarot.

“Negaranya mana saja, yang diizinkan oleh Undang-undang, Selandia Baru, Spanyol, Brazil, India atau negara lain yang memungkinkan kita memperoleh suplai sapi dan daging sapi untuk menutup shortage sebelum mencapai swasembada,” ucap Djarot.

Beberapa waktu lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga melaporkan salah satu penyebab depresiasi nilai tukar eceran rupiah terhadap dollar Australia adalah banyaknya impor daging sapi dari negeri kanguru itu.

Kepala BPS Suryamin menambahkan, depresiasi nilai tukar eceran rupiah terhadap AUD juga disebabkan banyaknya impor gandum-ganduman.

“Ini (depresiasi kurs Juni-Juli) karena kebutuhan hari raya, banyak impor daging sapi dan gandum,” kata Suryamin, dalam paparan di Jakarta, Jumat (15/7/2016).

Catatan BPS, pada Juni, impor daging hewan dari Australia mencapai setara 51,63 juta dollar AS. Nilai impor daging hewan tersebut naik 69,16 persen dibandingkan Mei 2016 yang sebesar 30,52 juta dollar AS.

BPS juga mencatat kenaikan impor gandum-ganduman sebesar 23,53 persen, yakni dari 66,98 juta dollar AS pada Mei 2016 menjadi 82,75 juta dollar AS pada Juni 2016.(dari berbagai sumber/bro-satu)

Editor   : Pulo Lasman Simanjuntak

 

Tinggalkan Balasan