Pembukaan Workshop On Recent Advances and Future Perpective in Nanotechnology For Food and Agriculture

Bogor, BeritaRayaOnline,-“Pada kesempatan ini saya mengucapkan selamat datang di Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor, dan ucapan terima kasih dengan penuh kebanggaan atas kehadiran para pembicara, narasumber dan peserta sekalian yang secara antusias berpartisipasi dalam kegiatan ini.Terima kasih kepada direktur pangan dan pertanian Bappenas yang telah mengundang Badan Litbang Pertanian untuk memaparkan perkembangan penelitian nanoteknologi dalam pertemuan penyusunan awal RPJMN 2020-2024,” ujar Kepala Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si pada Pembukaan Workshop On Recent Advances and Future Perpective in Nanotechnology For Food and Agriculture yang mengambil tema  Recent Advances And Future Perspective In Nanotechnology For Food And Agriculture berlangsung di Auditorium Dr. Ismunadji Badan Litbang Pertanian ,Bogor, Selasa, 13 Agustus 2019.

Workshop ini merupakan bagian dari tindak lanjut pertemuan tersebut dalam rangka penyusunan roadmap nanoteknologi untuk pangan dan pertanian tahun 2020-2024. Di samping itu, workshop ini juga diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) yang ditetapkan setiap tanggal 10 Agustus sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 17 Tahun 1995, sekaligus menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 RI.

Dikatakan oleh Kepala Badan Litbang Pertanian  Dr.Ir.Fadjry Djufry ,pada tahun 2014, Badan Litbang Pertanian telah membangun laboratorium nanoteknologi untuk pangan dan pertanian. Laboratorium nanoteknologi tersebut dilengkapi berbagai instrument modern mulai dari prosesing sampai analisis produknya dengan presisi yang tinggi.

“Pembangunan laboratorium itu juga diiringi dengan penyiapan program kegiatan penelitian serta SDM peneliti dan teknisi yang mumpuni.Sejak kurun waktu tersebut Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan sejumlah produk nanoteknologi yang diterapkan pada aspek hulu-hilir pertanian dan pangan dengan berbagai status tahapan pengembangannya,”ujarnya.

Salah satu produk nano yang saat ini menjadi unggulan Badan Litbang Pertanian yaitu nanobiosilika cair yang dihasilkan dari limbah sekam padi. Produk ini telah diujicoba pada skala lapang di 17 Provinsi pada tanaman padi sawah, lahan kering dan rawa, serta tanaman bawang merah dataran tinggi bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, industri, dan petani.

“Pada tanaman padi penggunaan nanobiosilika cair dapat meningkatkan ketahanan terhadap hama penyakit dan mampu memberikan tambahan produksi hingga 1,4 ton GKP per hektar. Sedangkan pada tanaman bawang merah dapat memberikan tambahan produksi hingga 2 ton per hektar. Sejauh ini penerapan nanobiosilika cair mendapat respon positif dari masyarakat. Produk ini sedang dalam proses lisensi dengan pihak industri,” jelasnya.

Dikatakannya lagi, produk nanoteknologi lainnya yaitu nanobiopestisida cair yang sudah diujicoba di lapang untuk mengendalikan penyakit pada tanaman kakao dan nilam dengan efektivitas 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan biopestisida konvensional.

Produk ini telah dilisensi oleh mitra industri. Badan Litbang Pertanian kini sedang mengembangkan produk nanobiopestisida serbuk bekerja sama dengan mitra industri yang perjanjian kerja samanya baru saja ditandatangani. Produk lainnya yang dikembangkan Badan Litbang Pertanian, nanozeolit dan nanocoating yang dapat diterapkan dan meningkatkan umur simpan buah, seperti pada pisang, manga, manggis, dan salak, lebih dari tiga minggu untuk tujuan ekspor.

Produk Nano Untuk Pakan

Di bidang peternakan, Badan Litbang Pertanian menghasilkan produk nano untuk pakan (Nano-ZnFitogenik) sebagai pemacu pertumbuhan dan imunostimulan ternak ayam pedaging. Kemudian, produk nanohormon (prostaglandin) untuk penyerentakan birahi pada sapi mendukung program swasembada daging Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB).

Pada aspek hilir, Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan produk nanobiosilika serbuk dari sekam padi untuk memenuhi kebutuhan industri. Saat ini produk tersebut telah diterapkan pada produk barang jadi karet bekerja sama dengan mitra industri yang perjanjian kerja samanya baru saja ditandatangani.

Di bidang pangan, untuk mendukung pembangunan pangan dan pertanian berkelanjutan, Badan Litbang Pertanian juga telah mengembangkan produk kemasan ramah lingkungan berbasis nanobioselulosa dari limbah biomassa pertanian, seperti tandan kosong kelapa sawit, tongkol jagung, daun nenas, jerami padi, dan lainnya. Produk ini direncanakan dilaunching oleh Bapak Menteri Pertanian pada tanggal 17 Agustus 2019.

Selanjutnya, Badan Litbang Pertanian juga melakukan riset dan pengembangan produk nano-vitamin dan mineral, yang sangat potensial diterapkan pada proses fortifikasi pangan, diantaranya untuk menurunkan prevalensi stunting. Produk ini telah diterapkan untuk meningkatkan nilai gizi pangan berbasis ubikayu (breakfast meal) dan dapat meningkatkan stabilitas gizinya hingga 4 – 5 kali.

“Ke depan, pengembangan nanofortifikasi pangan akan difokuskan pada upaya-upaya untuk mengatasi stunting dengan mengintroduksikannya pada pangan pokok seperti beras, termasuk pangan untuk ibu hamil, bayi, balita, dan anak sekolah mendukung pembangunan SDM sesuai arahan Presiden,” ucapnya.

Nanoteknologi diyakini dapat menjadi salah satu terobosan solusi pembangunan pangan dan pertanian ke depan. Akan tetapi, disadari bahwa pengembangan nanoteknologi untuk pangan pertanian dihadapkan pada sejumlah tantangan, diantaranya masalisasi produk yang ekonomis secara komersial, keamanan produk, kejelasan regulasi, dan penerimaan konsumen.

Untuk menjawab tantangan tersebut sekaligus mempercepat pengembangan nanoteknologi, diperlukan kerjasama yang sinergis antar berbagai pihak; lembaga riset, perguruan tinggi, swasta, masyarakat serta stakeholders lainnya, baik dalam negeri maupun internasional. Kerja sama sinergis antara peneliti dan akademisi dari berbagai bidang keilmuan, pengambil kebijakan serta para pelaku industri pada workshop ini diharapkan akan mempertajam arah litbang nanoteknologi pertanian dan pangan serta meningkatkan daya guna hasilnya.

“Secara khusus, saya mengajak kalangan industri untuk bersama-sama melakukan masalisasi dan komersialisasi produk nanoteknologi sehingga produknya dapat segera tersedia di pasaran dan terjangkau oleh masyarakat,” kata  Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si.

Pengembangan nanoteknologi ke depan agar dituangkan dalam sebuah roadmap terintegrasi yang melibatkan kompetensi multidisiplin serta berbagai stakeholders terkait. Dengan demikian, link and match antara dunia penelitian dan kebutuhan pengguna dapat tercipta secara harmonis.

Selanjutnya roadmap nanoteknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bahan dalam penyusunan RPJMN pangan dan pertanian 2020 – 2024. Khusus di internal Badan Litbang Pertanian, saya menugaskan para Kapus dan Kepala Balai Besar untuk melakukan sinkronisasi program dan sinergi pelaksanaan kegiatan litbang nanoteknologi dalam skema flagship Balitbangtan.

“Diakhir sambutan ini, saya mengutip kata-kata filsuf Jerman yang sangat terkenal Goethe,
knowing is not enough; we must apply. Willing is not enough; we must do.Akhir kata, selamat mengikuti workshop, semoga hasilnya memberikan manfaat untuk pembangunan pangan dan pertanian nasional,” pungkas Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si.(**/Bro-2)

Editor : Lasman Simanjuntak

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan