Spread the love

Peringati Hari Kanker Sedunia, Pasien Kanker Payudara Suarakan Harapan untuk Akses Pengobatan Kanker Payudara HER2-positif Stadium Dini yang Komprehensif

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Dalam rangkaian peringatan Hari Kanker Sedunia, para penyintas kanker payudara HER2-positif yang tergabung dalam Cancer Information and Support Center (CISC) menyelenggarakan edukasi media virtual dan forum komunitas bertajuk Akses Penanganan Kanker Payudara HER2+ Stadium Dini: Tantangan dan Harapan.

Di dalam kegiatan webinar pada Jumat (19/2/2021)  ini, para penyintas bersama narasumber ahli berbagi pengalaman dan informasi terkait penanganan kanker payudara HER2-positif stadium dini yang sejatinya sangat berpeluang untuk disembuhkan, serta menyuarakan harapannya akan tersedianya akses pengobatan untuk kanker payudara HER2-positif stadium dini dalam program JKN yang komprehensif sesuai standar pengobatan.

Terapi kanker payudara HER2-positif stadium dini yang tepat dan optimal pada JKN dapat memberikan pasien kesempatan terbaik untuk sembuh dan mengurangi risiko kekambuhan pada stadium lanjut sehingga berpotensi meringankan beban bagi pasien dan sistem kesehatan.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory 2020 dari WHO, kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 65.858 kasus setara dengan 16,6% dari total 396.914 kasus kanker.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyatakan besaran angka kanker untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk. Sekitar 1 dari 5 pasien kanker

Payudara di Indonesia memiliki jenis HER2-positif (Human Epidermal Growth Factor Receptor), yang merupakan salah satu jenis kanker payudara yang agresif.

Berdasarkan riset Penyakit Tidak Menular yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (2016) yang dilakukan pada sampel berusia 25-64 tahun di perkotaan, sebanyak 90% pasien kanker payudara di Indonesia berusia produktif antara 25-55 tahun, sehingga secara tidak langsung memiliki potensi dampak terhadap aspek sosio ekonomi masyarakat. Dampak tersebut tidak hanya menjadi beban pada tingkat keluarga tetapi juga pada sistem kesehatan secara umum.

Namun, angka kesintasan 5 tahun pasien kanker payudara mencapai hingga 99% jika ditangani secara optimal sejak stadium dini. Oleh karena itu, penanganan kanker payudara yang komprehensif sejak stadium dini memberikan peluang kesembuhan yang lebih tinggi bagi pasien dan berpotensi untuk mengurangi dampak sosio ekonomi masyarakat.

HER2-positif merupakan faktor agresivitas sel kanker payudara yang diasosiasikan dengan tingkat kesintasan yang rendah.

Namun, studi menunjukkan, penanganan kanker payudara HER2-positif yang optimal pada stadium dini dapat menurunkan risiko kekambuhan atau kematian dibandingkan jika mendapat kemoterapi saja.

“Tujuan pengobatan kanker payudara pada stadium dini tidak hanya untuk mengontrol penyakit tetapi juga kuratif atau mencapai kesembuhan, sehingga pasien dapat kembali menjalani kehidupannya secara produktif,” ungkap dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B(K)Onk., M.Epid., MARS, Spesialis Bedah Onkologi.

“Saat ini salah satu terapi yang terbukti efektif pada kanker payudara HER2-positif stadium dini adalah pemberian terapi target dengan trastuzumab dan kemoterapi yang terbukti dapat meningkatkan angka kesintasan dan menurunkan risiko kekambuhan pasien. Apabila dilakukan, angka kekambuhan dapat berkurang dibandingkan pemberian kemoterapi saja. Dengan pengobatan yang optimal pada stadium dini, hal ini berpotensi untuk meringankan beban bagi pasien atau keluarga pasien, dan sistem kesehatan. Kehadiran JKN telah mempermudah akses terhadap diagnosis, namun perlu juga diikuti penanganan kanker payudara HER2-positif yang komprehensif untuk meningkatkan luaran klinis terapi,” katanya lagi.

Dari beberapa penelitian, terlihat bahwa penanganan kanker payudara sejak stadium dini dengan tepat dan komprehensif berpotensi meringankan beban bagi pasien dan sistem kesehatan, dimana biaya total penanganan kanker payudara pada stadium II, III, dan IV adalah 32%, 95%, dan 109% lebih tinggi dibandingkan stadium I.

Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA, MKes Apt., seorang ahli ekonomi kesehatan dan juga seorang dosen senior di FK-KMK UGM menyatakan, kesehatan masyarakat perlu dilihat sebagai sebuah investasi, bukan sebagai cost (biaya).

Selain deteksi dini, pemberian akses terhadap terapi yang optimal pada kanker payudara sejak stadium dini merupakan salah satu prinsip pencegahan agar penyakit tidak bermetastasis dan tidak mengalami perburukan.

Saat ini di Indonesia penanganan kanker payudara di stadium dini untuk kemoterapi dan terapi endokrin sudah tercakup oleh BPJS. Dengan perkembangan teknologi yang pesat terutama dalam terapi kanker seperti halnya terapi target Anti-HER2 memberikan harapan lebih baik dalam keberhasilan terapi, yang tentu berdampak positif terhadap luaran sosial ekonomi.

Hal ini memerlukan pertimbangan ekonomi kesehatan dalam penentuan cakupan manfaat dalam jaminan kesehatan.

Sebuah telaah sistematis menunjukkan bahwa terapi pada kanker payudara stadium dini dengan trastuzumab cost-effective di China, Jepang, Singapura, dan Taiwan, artinya di negara tersebut setelah dilakukan evaluasi ekonomi diputuskan sebagai terapi pilihan. Di negara lain, seperti Thailand, pemberian trastuzumab dengan kombinasi kemoterapi juga dinilai cost-effective dibandingkan dengan kemoterapi saja pada kanker payudara stadium dini dan telah masuk dalam paket manfaat jaminan kesehatan nasional sejak tahun 2014.

Pasien kanker payudara HER2-positif yang tergabung dalam CISC menyatakan apresiasinya atas layanan BPJS dalam membantu pasien dan penyintas kanker payudara HER2-positif dan berharap agar kedepannya akses pengobatan kanker payudara HER2-positif stadium dini dapat disediakan oleh pemerintah secara komprehensif.

“Kami berharap ada pemerataan akses pengobatan kanker payudara HER2-positif, baik untuk stadium dini maupun stadium metastasis. Saat ini para pasien dan penyintas kanker payudara sangat terbantu dengan layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mencakup terapi inovatif untuk kanker payudara HER2-positif stadium lanjut., jelasnya.

Alangkah baiknya pasien kanker payudara HER2-positif stadium dini juga memiliki akses yang sama terhadap pengobatan inovatif dan komprehensif dalam JKN,” demikian disampaikan Aryanthi Baramuli Putri, SH., Ketua Umum CISC.

“Saya pribadi sangat merasakan manfaat dari terapi target anti-HER2 pada kanker payudara saya yang kebetulan adalah tipe triple positive atau HER2-positif. Sejak tahun 2015 saya sudah menjalani kemoterapi, dan sejak November 2020 lalu saya memulai terapi target trastuzumab. Sekarang sudah berjalan 5 kali, dan melihat perkembangan pada diri saya sendiri, saya berharap pasien kanker payudara HER2 stadium dini dapat merasakan manfaatnya di sistem JKN,” ungkap Nova Dhelia, S.Psi., seorang penyintas kanker payudara anggota CISC, yang saat ini sudah masuk stadium metastatik dan menggunakan terapi trastuzumab.

Pengalaman Nova hanya satu dari ribuan pasien kanker payudara di Indonesia. Karena itu, CISC sangat berharap agar akses penanganan kanker payudara stadium dini kedepannya dapat lebih merata dan komprehensif.

“Kita semua tentu ingin agar pasien dan penyintas kanker payudara mendapatkan peluang ‘sehat’ dan produktif, agar dapat terus berkontribusi di keluarga dan masyarakat. Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam mendukung pemerataan akses penanganan kanker payudara HER2-positif stadium dini, baik dari segi pengobatan maupun pembiayaan, demi mencapai Indonesia yang lebih sejahtera,” tutup
Aryanthi.

Tentang CISC For HER2 CISC For HER2 adalah wadah khusus para penyintas kanker payudara subtype HER2-positif (Human Epidermal Growth Factor Receptor 2/reseptor faktor pertumbuhan epidermal manusia). Diprakarsai oleh Ceisy Nita Wuntu bersama para penyintas kanker payudara HER2-positif dan Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) pada tahun 2018 yang bertujuan untuk mengupayakan bangsa Indonesia mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di bidang kesehatan payudara melalui peningkatan mutu pengetahuan, khususnya tentang kanker payudara HER2-positif.

Juga sebagai upaya untuk memupuk silaturahmi antar anggota serta meningkatkan kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait, guna menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker payudara. Saat ini CISC For HER2 memiliki ± 220 anggota.

Untuk informasi lebih lanjut dapat mengunjungi FB Fan Page Indonesia For HER2 atau email: cancerclubcisc@gmail.com.(**/Press Release/Bro-1)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan