Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,-“Ketika saya memilih ruang puisi, sepenuhnya saya sadar bahwa saya telah masuk ke dalam ruang yang begitu sunyi. Puisi yang telah saya pilih, yang telah anda pilih, yang telah teman-teman semua pilih, yang telah kita semua pilih, adalah sebuah keniscayaan dari hati paling sepi, langkah paling sunyi dan kata tanpa suara paling hakiki,” ujar Nuyang Jaimee, saat memberi kata sambutan pada peluncuran dan bedah buku kumpulan puisinya yang diberi judul PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA bertempat di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Gedung Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki di Jakarta, Jumat (1/12/2023).

“Namun, begitu puisi memberi keriuhan pada pikiran-pikiran saya serupa aksara-aksara yang bebas berterbangan di kepala dan saling bertubrukan lincah menciptakan serangkaian paragraf-paragraf yang memiliki kekuatan metafisis dan memberi kesadaran baru menggugah hati dan jiwa saya,” katanya.

Menurut Nuyang Jaimee, menulis puisi bukan sekedar mengenai proses mengungkapkan pikiran dan isi kepala bagi , tetapi juga menjadi tempat untuk bicara semua kegelisahan dan pergolakan bathin yang dalam, di mana semua ekspresi bebas keluar tanpa batas.

” Saya bisa teriak, melolong, menangis, tertawa, marah, protes tanpa mengumpat dan memaki semua kecamuk dalam hati dan pikiran, tempat di mana saya menemukan makna dan kebijaksanaan yang menghantarkan saya dalam perenungan yang lebih mengerucut pada sebuah pemahaman yang lebih universal,” ucapnya.

Seperti sebuah kesadaran kosmik yang teramat dalam, seperti ruang kedap suara yang steril yang membersihkan kotoran-kotoran pemikiran, energi negatif dan daya-daya rendah di luar kosmiknya, puisi tetap mampu menembus semua hal di alam semesta manusia dan seluruh isinya karena sifatnya yang tak terbatas menyentuh apa saja di sekeliling dirinya.

“Karena sifatnya yang mampu mensterilisasi tersebut sehingga bagi saya puisi menjadi sebuah ruang tempat tumpahnya seluruh perasaan, imajinasi, sekaligus pemikiran yang teramat sakral. Dan karena puisi adalah sebuah kesadaran yang senantiasa bergerak dinamis, berputar dengan sendirinya sesuai kesadaran diri manusia, itu yang menjadikan keberadaan puisi menjadi sangat khas dan tidak bisa digantikan oleh karya sastra jenis lainnya,” ujarnya.

Buku kumpulan puisi Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya ini sebenarnya bukan kumpulan puisi pertama Nuyang Jaimee. Sebelumnya sudah ada kumpulan puisinya yang berjudul “Surat” sudah pernah hampir diterbitkan, berisi hampir lebih dari tujuh puluh puisi pilihan.

Namun karena beberapa faktor, takdir mengantarkan buku puisi Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya yang berisi dua puluh puisi pilihan ini menjadi puisi pertama yang saya terbitkan. Beberapa puisi di dalam buku ini, sudah dimuat di beberapa media sastra offline dan online atau kumpulan antologi puisi bersama.

Puisi-puisi dalam buku ini sebagian besar di- tulis dari hasil pergulatan dirinya di Forum Seniman Peduli TIM (FSP-TIM), dengan gerakan bernama #SaveTIM di akhir tahun 2019 sampai sekarang, meski selebihnya diambil dari tahun-tahun sebelumnya.

“Tadinya saya ingin berbangga diri dengan puisi-puisi perlawanan diri kepada kawan-kawan seperjuangan bahwa saya tetap berjuang tidak dengan senjata atau maju di garis depan menjadi tokoh-tokoh perlawanan, tapi saya berjuang dengan karya, dengan puisi ruang kesunyian yang sangat subtil dan mampu menohok bathin lebih tajam dari ribuan pedang perang apapun. Dengan tulisan dan raungan perih yang akan terus tercatat dalam sejarah, ia tetap hidup tak akan mati sampai kapanpun meski saya sudah pergi berkalang bumi, tapi sepertinya keperihan saya menjadi berlipat ganda, karna kelahiran puisi ini sungguh, tidak dalam kebahagiaan yang sesungguhnya sebab ada yang saya rindukan dari Forum Seniman Peduli TIM dan proses perjuangan #SaveTIM ini adalah sebuah kebersamaan dan cinta kasih yang hilang,” katanya.

Namun,  begitu saya patut berbangga hati bahwa hari ini saya sejak awal proses kreatif karya ini saya selalu di damping oleh abangda saya, guru pergerakan saya, “Puitic Resistance” saya, yang selalu mensupport saya dalam terus berjuang dan berkarya, dengan segala hormat saya, dia adalah Bapak Tatan Daniel dan Bapak Mujib Hermani.

“Pada akhirnya, proses kreatif saya terhadap Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya ini menuntun saya pada pemahaman tentang arti sebuah perjuangan dan keikhlasan dengan cara yang begitu sangat sederhana.Ketika saya serahkan puisi-puisi saya ini ke para guru-guru saya yang kini duduk di tengah-tengah kita sebagai pembicara, hati saya berdebar-debar, seperti sebuah ujian kelulusan dimana saya akan dibantai dalam persidangan tesis S2, saya sadar semua energi yang saya keluarkan dalam menulis puisi-puisi ini hanyalah sebagian kecil saja yang saya curi dari mereka secara diam-diam yang menurut saya satu-satunya kasus pencurian yang dihalalkan, namun demikian tetap tak sanggup saya melampaui kebajikan dan kebijaksanaan mereka. Karnanya dengan berpura-pura merelakan diri dalam “pembantaian kreatif” pada hari ini saya bersyukur apapun dan bagaimanapun puisi ini sudah dilahirkan dan sejak saat ini dia sudah memiliki takdirnya sendiri di ruang public _”Para Pecinta Kesunyian dan Puitic Perlawanan”,” katanya lagi.

Semoga buku kumpulan puisi ini bisa memberi sumbangsih dan peranan penting dalam mewarnai khazanah perpuisian di Indonesia khususnya dan perjalanan Kesusasteraan Indonesia pada umumnya.

Ucapan Terima Kasih

Dengan penuh cinta dan kasih sayang Nuyang Jaimee  ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarganya  yakni orangtuanya Ibu Hj. Mursinah dan almarhum papanya Imansyah Husni.

“Juga anak-anak saya, almarhum Kemas M. Zidane Ramadhan Azizul Umri, dan Kemas M. Abby Adha Azizul Umri, yang selama ini karena dukungan moril dan kasih sayang merekalah saya tetap istiqomah pada pilihan ruang kesunyian yang terjal ini,” ucapnya sambil beberapakali menitikkan airmata.

Penghargaan yang setinggi-tingginya juga saya berikan kepada pihak-pihak yang membantu sehingga terbitnya buku puisi ini. Kepada Dispusip dan PDS. HB. Jassin yang telah memberi dukungan dalam acara peluncuran buku sekaligus pendistribusian buku puisi ini sebagai salah satu koleksi buku bergenre sastra (puisi) di perpustakaan dan kearsipan DKI Jakarta. Kepada Bapak Diki Lukman Hakim dan Bapak Nanang Suryana terimakasih saya tak terhingga.

Kepada lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI) dan Keluarga Besar Penyair Seksih (KBPS) dan kawan-kawan seniman di Kampung Seni Jakarta (KSJ) juga Ars Longa Institute.

Kepada guru-guru saya, Prof. Dr. Wahyu Wibowo dan Bapak Tatan Daniel yang telah memberikan pencerahan bagi saya menuliskan prolog dan epilog dalam buku ini, sekaligus makalah dan menjadi pembicara ahli pada soft lounching-nya pada tanggal 1 Desember 2023 ini.

Dan kepada Mas Yusuf Susilo Hartono penuh haru saya karna telah memberikan saya beberapa karya beliau berupa goresan sketsa yang luar biasa. Terima kasih untuk semua dukungan ini. Terimakasih kepada semua guru-guruku saya tak menjadi apa-apa tanpa kalian semua.

Akhirnya terima kasih setulus-tulusnya kepada bang Remmy Novaris DM sebagai Direktur Penerbit Teras Budaya yang telah mensupport mensponsori terbitnya buku kumpulan puisi ini, dan Nanang R. Supriyatin yang dengan sukarela menjadi editor buku puisi saya sekaligus menjadi pimpro yang diangkat secara de facto tanpa honor ini, tapi kadang masih manis memanggil saya di WA dengan sebutan “sayang”, hahhaa..

Untuk Mas Yon Bayu Wahyono, kawan yang saya kenal baru setengah tahun ini tapi seperti sudah seabad, sampai-sampai saya selalu salah menyebut nama beliau menjadi Yon Wahyu Wahono, itu bukti bahwa ternyata antara Yon Bayu yang menjadi Yon Wahyu diingatan saya dengan pak prof Wahyu Wibowo menjadi sama pentingnya dalam sejarah buku puisi saya ini. Yang jelas harus saya akui keberadaan sosok beliau telah mengganggu ingatan saya.

Buat Mas Giyanto Subagio kawan lama saya yang selalu sigap membantu urusan-urusan tekhnis, ada istilah ada Edo maka semua beres!. Kesigapannya membuat saya bangga punya seorang kakak seperti beliau.

“Lalu Bang Lasman Simanjuntak yang tak henti-henti mendukung saya membuat bahkan memborbardir saya dengan info-info berita di hampir seluruh portal online yang ada. Terimakasih bang Lasman. Saya akui saya menjadi ter lasman-lasman” dengan anda,” katanya sambil tertawa.

Kepada semua kawan saya, baik kawan seperjuangan FSP-TIM #SaveTIM, Kawan-kawan yang baik yang memberikan endorsement pada buku puisi saya, Bapak Taufik Rahzen, Helmi Haska, mbak Rita Sri Hastuti yang pada hari ini juga sebagai moderator, dan mbak Ariyani Isnamurti juga Ibu Rini Intama.

Untuk semua kawan-kawan yang membantu saya dalam kepanitiaan dan ikut membaca puisi saat peluncuran ini Shantined, Guntoro Sulung, Yogi S. Karmas, Jack Al-Ghozali, dan bernyanyi puisi Iyus Jayadibumi.

Untuk semua ibu-ibu di Keluarga Besar Penyair Seksih yang senantiasa mendukung, memperhatikan dan menyayangi saya, mbak Della Red Pradipta, Mbak Linda Djalil, Mbak Ariany Isnamurti, mbak Rita Sri Hastuti, dan mbak Fanny Jonathan, terimakasih kasih sayang kalian membesarkan hati saya di saat saya pernah lumpuh tak berdaya kalian ada selalu berkata, “Nuyang selalu kuat!”, dan kini saya selalu ingin tumbuh menjadi sebegitu kuat.

Untuk kawan-kawan yang hadir dan ikut menjadi penyaksi lahirnya buku kumpulan puisi pertama yang saya terbitkan ini, ikut berdiskusi dan ikut memberi kebahagiaan, anugerah terbaik dan cahaya-cahaya indah sorot mata dukungan dan support kalian luar biasa. Jika saya boleh menangis, saat ini rasanya saya ingin menangis saja, tapi saya sadar tangis saya seluruhnya telah tumpah dalam puisi-puisi saya ini.

“Terakhir untuk semua kawan-kawan diskusi dan debat kreatif saya yang sering kita lakukan di kantin dekat kolam ratapan gedung Planetarium Taman Ismail Marzuki yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu di sini, persahabatan penuh kasih sayang dari saya,” pungkasnya. (BRO-3)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan