Spread the love

IMG-20160404-WA0004Jakarta, BeritaRayaOnline,-Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani. Ada korelasi antara daya beli dengan kesejahteraan petani. Semakin tinggi daya beli petani, biasanya petani lebih sejahtera. NTP dihitung dari rasio indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayarkan petani. Indikator NTP memiliki kelemahan diantaranya indeks harga yang dibayarkan petani mencakup seluruh pengeluaran rumah tangga petani termasuk biaya produksi, sekolah, berobat, membeli sandang, papan dan lainnya sehingga tidak mencerminkan pengeluaran riil dari usahanya.

Sebagai respon atas kelemahan NTP, maka digunakan juga indikator Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yaitu rasio indeks harga yang diterima petani dari usaha pertanian dengan indeks harga yang dibayarkan petani untuk pengeluaran usaha pertanian.  NTP dan NTUP di atas 100 menunjukkan petani surplus, sama dengan 100 berarti impas dan di bawah 100 berarti petani rugi/defisit.

Mengingat indeks harga berfluktuasi secara harian dan bulanan, maka untuk melihat kemampuan daya beli petani/tingkat kesejahteraan semestinya tidak hanya membandingkan nilai NTP dan NTUP dalam kurun waktu sesaat saja (bulanan), melainkan dihitung rerata dalam waktu lebih panjang (tahunan).  Menganalisis kesejahteraan petani dalam kurun waktu pendek akan menyesatkan karena bisa terjadi bulan ini petani dianggap tidak sejahtera karena NTP dan NTUP turun dan bulan depan berubah drastis menjadi sejahtera karena NTP dan NTUP naik.

Tingkat kesejahteraan petani tahun 2015 meningkat lebih baik dibandingkan dengan 2014 dilihat dari semakin meningkatnya kemampuan daya beli petani.  Data BPS menyebutkan NTUP tahun 2015 sebesar 107,44 lebih tinggi dibandingkan 2014 sebesar 106,04. Bila dirinci menurut subsektor, NTUP tanaman pangan, hortikultura, maupun peternakan 2015 lebih tinggi dibandingkan 2014.

Demikian juga indikator NTP tanaman pangan 2015 sebesar 100,37 lebih tinggi dibandingkan 2014 sebesar 98,89 dan NTP peternakan 107,40 lebih tinggi dibandingkan 2014 sebesar 106,65.  Sedangkan subsektor perkebunan yang sebagian besar komoditas orientasi ekspor, nilai NTP dan NTUP nya dipengaruhi oleh harga dunia dan krisis global.  Meningkatnya kesejahteraan petani tahun 2015 tersebut, ditopang juga dengan semakin menurunnya tingkat ketimpangan pendapatan atau Gini Rasio di pedesaan sebesar 0,37 jauh lebih baik dibandingkan perkotaan 0,45.

NTP Nasional Januari hingga Maret 2016 menurun dari 102,55 menjadi 101,32 terutama akibat dari turunnya NTP subsektor tanaman pangan dari 103,94 menjadi 100,69. Hal ini terjadi karena: (1) ada anomali pasar beras, dimana Januari-Februari 2016 dalam kondisi paceklik namun stock beras di pasar melimpah yaitu di PIBC naik 130% dibandingkan periode yang sama 2015 dan memukul harga gabah petani.

Sejak 26 Februari 2016 harga gabah petani turun drastis di saat menjelang akan panen raya Maret-April 2016, sehingga indeks harga yang diterima petani menurun dan (2) pada periode tersebut terdapat inflasi di pedesaan sehingga indeks harga yang dibayarkan petani meningkat.

NTP Nasional Maret 2016 sebesar 101,32 ini bukan terendah sepanjang tahun, namun masih lebih tinggi dibandingkan NTP periode April-Agustus 2015 berkisar 100,02-101,28.

Indikator NTUP digunakan untuk melihat kondisi surplus/defisit yang dinikmati petani dari usahanya. NTUP Nasional pada Maret 2016 sebesar 109,33 jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2015 sebesar 106,68 dan sedikit turun dibandingkan Februari 2016 sebesar 109,69. Artinya walaupun harga gabah jatuh saat panen raya ini, petani masih menikmati surplus dari usahanya (NTUP di atas 100) dan kondisinya jauh lebih baik dibandingkan Maret 2015.

Secara lebih detail pada Maret 2016 adalah NTUP subsektor tanaman pangan 107,35 surplus yang dinikmati petani jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2015 sebesar 104,69; NTUP hortikultura 111,97 jahuh lebih tinggi dibandingkan Maret 2015 sebesar 107,37; NTUP perkebunan rakyat 104,81 jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2015 sebesar 103,16 dan NTUP peternakan 114,34 jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2015 sebesar 112,45.

Menyikapi nilai NTP 2016 dan guna memperkuat NTUP, Pemerintah telah menerbitkan regulasi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah/beras serta bekerja keras menyerap gabah langsung petani sejak awal Maret 2016.

Program Sergab (Serap Gabah) ini dipimpin langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Bulog dan Tim Terpadu serta didukung penuh pembiayaan dari BRI. Manfaat program Sergab ini: (1) petani menerima harga yang wajar di saat panen raya dan pasar gabah terjamin, (2) rantai pasok tata niaga menjadi lebih pendek, (3) konsumen menikmati harga beras lebih murah, (4) pedagang tetap eksis dengan normal profit, dan (5) stock cadangan beras nasional tercukupi.(**/press release humas kementan/lasman simanjuntak)

 

 

Tinggalkan Balasan