Nanoteknologi, Teknologi Masa Depan Pembangunan Pertanian

Bogor, BeritaRayaOnline,-“Pertama tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberi kita karunia sehat wal’afiat sehingga kita semua dapat berkumpul di tempat ini untuk mengikuti workshop terkait nanoteknologi yang bertema Recent Advances and Future Perspective in Nanotechnology for Food and Agriculture. Workshop nanoteknologi ini sebagai rangkaian dalam penyusunan roadmap Penelitian dan Pengembangan Nanoteknologi tahun 2020-2024,” kata Kepala BB Pasca Panen Dr.Prayudi Syamsuri, saat memberikan laporan pada penyelenggaraan  Workshop on Recent Advances and Future Perspective in Nanotechnology for Food And Agriculture di Auditorium Dr. Ismunadji, Cimanggu, Bogor, Selasa (13/8/2019).

“Hal ini sejalan dan bertepatan dengan penyusunan RPJMN tahun 2020-2024 yang sedang disusun oleh Bappenas dan Renstra 2020-2024 yang sedang disusun oleh Sekretariat Jenderal. Dengan roadmap Litbang Nanoteknologi lima tahun ke depan diharapkan menjadi peta jalan pemanfaatan teknologi nano dalam mendukung pembangunan pangan pertanian di era Industri 4.0,” katanya lagi.

Menurutnya, Presiden Jokowi pada saat pidato penetapannya sebagai Presiden RI 2019-2024 menyampaikan  dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat. Karena itu perlu dicari terobosan model baru, cara baru dan nilai-nilai baru untuk mencari solusi dari permasalahan yang kita hadapi yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia mewujudkan visinya termasuk dalam hal mewujudkan mimpi menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045.

“Untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan berbagai dukungan aplikasi teknologi dan inovasi pertanian mulai dari hulu yaitu pengadaan bibit, sarana produksi, hingga di hilir yaitu penanganan pascapanen serta pengolahannya,” ujarnya.

Salah satu teknologi masa depan yang dianggap mampu menjawab berbagai permasalahan dan tantangan di bidang pembangunan pertanian yaitu nanoteknologi. Nano teknologi atau teknologi nano merupakan teknologi yang menggarap/merekayasa produk dengan bahan baku partikel berukuran 1/1.000.000 mm.

Teknologi nano mampu mengontrol zat, material dan sistem pada skala nano sehingga menghasilkan fungsi baru yang belum pernah ada. Teknologi nano ini semakin berkembang di berbagai bidang keilmuan, semisal di dunia komputer, dunia obat-obatan/kedokteran, konstruksi (nano baja), dan tentunya tidak ketinggalan pemanfaatannya di bidang pertanian.

Badan Litbang Pertanian telah menginisiasi pengembangan nanoteknologi dengan membangun laboratorium nanoteknologi pada tahun 2014. Pengelolaan Lab Nanoteknologi ini ditugaskan kepada BB Litbang Pascapanen.

“Pembangunan laboratorium ini kemudian menjadi pemantik pengembangan nanoteknologi bidang pangan dan pertanian di lingkup Balitbangtan khususnya. BB Pasca Panen telah banyak menghasilkan produk dari teknologi nano, diantaranya nanobiosilika yang dimanfaatkan sebagai pupuk ataupun sebagai filler pada produk karet; nanoselulosa yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan bioplastic atau biofoam; nanopestisida, nano vitamin, nano hormone ataupun nano vaksin. Penggunaan material nano ini mampu meningkatkan efektivitas maupun produktivitas produk pangan dan pertanian,” jelas Kepala BB Pasca Panen Dr.Prayudi Syamsuri.

Dikatakannya lagi, apa yang telah dicapai oleh peneliti-peneliti handal BB Pascapanen dalam bidang nanoteknologi merupakan suatu terobosan dalam pemanfaatan teknologi terkini di Indonesia.

“Kami menyampaikan terima kasih Kepala Badan Litbang yang terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kami juga menyampaikan terima kasih karena telah diberikan fasiiltitas peralatan laboratorium yang sangat memadai. Namun rupanya teknologi ini memerlukan biaya perawatan yang sangat tinggi. Karena itu kami tetap mengharapkan dukungan penuh dari Kepala Badan Litbang,” kilahnya.

Ditambahkannya, pengembangan nanoteknologi di Kementan tidak hanya diperuntukkan untuk peneliti di BB Pascapanen semata.

“Kami sangat mengharapkan adanya sinergitas dengan berbagai Lembaga penelitian dalam dan luar negeri, termasuk dengan unit kerja di litbang Pertanian. Pemanfaatan peralatan lab yang ada, masih bisa dioptimalkan melalui kerjasama penelitian, karena biaya penelitian kami sendiri masih terbatas. Selanjutnya, kami juga siap bekerjasama dengan pihak industri agar inovasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ucapnya.

Karena itu melalui workshop nantoteknologi ini kami mengundang berbagai Lembaga penelitian baik lingkup Kementan, LIPI, BPPT serta dari perguruan tinggi seperti ITB, UI, UGM dan IPB ini dalam upaya: (1) Meningkatan pemahaman dan pengetahuan serta berbagi pengalaman dalam pengembangan nanoteknologi untuk pangan dan pertanian serta IPTEK dan teknologi terkait lainnya; (2) Memperkenalkan hasil-hasil penelitian yang telah dihasilkan serta potensi pengembangannya ke depan; dan (3) Kami berharap pula workshop ini menghasilkan sinergi antara lembaga penelitian dalam pengembangan nanoteknologi khususnya bidang pangan dan pertanian. Selanjutnya sinergi penelitian dengan perguruan tinggi, baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional seperti Ghent University, juga sinergi dalam peningkatan kapasitas SDM di bidang nanoteknologi khususnya.

Pada kesempatan ini juga akan dilakukan penandatanganan kerjasama pengembangan teknologi nano antara BB Pascapanen dengan PT Triangkasa Lestari Utama tentang pemanfaatan biosilika serbuk dari sekam padi untuk industri berbahan dasar karet serta Kerjasama BB Pascapanen dengan PT Gelora Rempah Inti Indonesia tentang pengembangan teknologi nano biopestisida serai wangi bentuk serbuk. Inilah sebagai tanggungjawab kami dalam hilirisasi hasil penelitian dari BB Litbang Pascapanen.

Workshop hari ini akan disampaikan kebutuhan teknologi maju dalam penyusunan RPJMN yang baru oleh Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas, perkembangan research nanoteknologi terkini dengan narasumber dari Ghent University dan UGM serta pemaparan perkembangan research nanoteknologi di Badan Litbang Pertanian. Selanjutnya  dilakukan kunjungan ke Laboratorium Nanoteknologi dan praktek demo processing dan karakterisasi partikel nano.

“Kami berharap workshop nanoteknologi hari ini sebagai milestone kebangkitan pemanfaatan teknologi nano di bidang pertanian, dan berharap nanoteknologi menjadi pilihan teknologi yang tercantum dalam RPJMN dan Renstra Kementan yang baru. Setelah workshop ini, kami segera tindak lanjuti dengan penyusunan Roadmap Bersama Pengembangan Nanoteknologi Pangan dan Pertanian,” ujarnya.

“Mengakhiri laporan ini, ijinkan kami mengucapkan terima kasih kepada narasumber Prof Paul dan Ibu Arima yang telah berkenan berbagi ilmu tentang nanoteknologi. Penghargaan juga kami sampaikan kepada Kepala Badan Litbang Pertanian pada masanya Dr Haryono yang telah meletakkan milestone awal pengembangan teknologi nano di Balitbangtan dengan pembangunan Laboratoriun Naoteknologi di BB Pascapanen. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Badan Litbang Pertanian, dan pada saatnya nanti mohon berkenan menyampaikan arahan dan membuka Workshop Nanoteknologi ini.Atas nama penyelenggara Workshop kami memohon maaf bila ada hal yang kurang berkenan selama penyelenggaraan acara ini. Semoga kita bisa mendapatkan manfaat atas apa yang kita laksanakan hari ini,”pungkasnya. (**/Bro-4)

Editor : Lasman Simanjuntak

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan