Nanoteknologi Disebut-Sebut Sebagai Era Revolusi Baru Dunia Iptek dan Industri

Bogor, BeritaRayaOnline,-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian menyelenggarakan Workshop on Recent Advances and Future Perspective in Nanotechnology for Food And Agriculture yang dihadiri sekitar 100 orang peserta  terdiri dari perwakilan Balitbangtan, Direktorat Jenderal teknis lingkup Kementan, perguruan tinggi, Lembaga Penelitian Non Kementerian, Industri, dan organisasi profesi di Auditorium Dr.Ismunadji, Badan Litbang Pertanian di Bogor, Selasa, 13 Agustus 2019.

Workshop ini diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) yang ditetapkan setiap tanggal 10 Agustus sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 17 Tahun 1995, sekaligus menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 RI serta 45 tahun Balitbangtan.

Nanoteknologi ini disebut-sebut sebagai era revolusi baru bagi dunia iptek dan industri. Lebih jauh, nanoteknologi merupakan salah satu teknologi andalan yang diyakini mampu mengatasi berbagai permasalahan sekaligus menjawab tantangan pembangunan pangan dan pertanian saat ini dan ke depan.

Workshop ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan iptek sekaligus berbagi pengalaman dalam pengembangan nanoteknologi untuk pangan dan pertanian; (2) mempromosikan hasil-hasil riset nanoteknologi untuk pangan dan pertanian serta potensi pengembangannya ke depan; (3) membangun/mengembangkan jejaring kerja sama litbang dan penerapan nanoteknologi untuk pangan dan pertanian yang melibatkan pihak-pihak terkait di dalam dan luar negeri, serta (4) memberikan masukan terhadap roadmap litbang nanoteknologi yang selanjutnya dapat menjadi bahan dalam penyusunan RPJMN pangan dan pertanian 2020 – 2024.

Pada tahun 2014, Badan Litbang Pertanian telah membangun laboratorium nanoteknologi untuk pangan dan pertanian. Laboratorium nanoteknologi tersebut dilengkapi berbagai instrument modern mulai dari prosesing sampai analisis produknya dengan presisi yang tinggi.

Pembangunan laboratorium itu juga disertai dengan program kegiatan penelitian serta SDM peneliti dan teknisi yang mumpuni. Sejak kurun waktu tersebut Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan sejumlah produk nanoteknologi yang diterapkan pada aspek hulu-hilir pertanian dan pangan.

Di sektor hulu pertanian, salah satu produk nano yang saat ini menjadi unggulan Badan Litbang Pertanian yaitu nanobiosilika cair yang dihasilkan dari limbah sekam padi. Produk ini telah diujicoba pada skala lapang di 17 Provinsi pada tanaman padi sawah, lahan kering dan rawa, serta tanaman bawang merah dataran tinggi bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, industri, dan petani.

Pada tanaman padi penggunaan nanobiosilika cair dapat meningkatkan ketahanan terhadap hama penyakit dan mampu memberikan tambahan produksi hingga 1,4 ton gabah kering panen per hektar. Sedangkan pada tanaman bawang merah dapat memberikan tambahan produksi hingga 2 ton per hektar. Sejauh ini penerapan nanobiosilika cair mendapat respon positif dari masyarakat. Produk ini sedang dalam proses lisensi dengan pihak industri.

Produk nanoteknologi lainnya yaitu nanobiopestisida cair yang sudah diujicoba di lapang untuk mengendalikan penyakit pada tanaman kakao dan nilam dengan efektivitas 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan biopestisida konvensional.

Produk ini telah dilisensi oleh mitra industri. Badan Litbang Pertanian kini sedang mengembangkan produk nanobiopestisida serbuk bekerja sama dengan mitra industri yang perjanjian kerja samanya baru saja ditandatangani.

Di samping itu, sedang dikembangkan juga nanobioinsektisida untuk pengendalian hama tanaman jeruk. Produk lainnya yang dikembangkan Badan Litbang Pertanian, yaitu nanozeolit dan nanocoating yang dapat diterapkan untuk meningkatkan umur simpan buah, seperti pada pisang, mangga, manggis, dan salak, hingga lebih dari tiga minggu. Teknologi ini dapat dimplementasikan pada buah-buahan untuk tujuan ekspor.

Di bidang peternakan, Badan Litbang Pertanian menghasilkan produk nano pakan (Nano-Zn-Fitogenik) sebagai pemacu pertumbuhan dan imunostimulan pada ternak ayam pedaging. Kemudian, produk nanohormon (prostaglandin) untuk penyerentakan birahi pada sapi mendukung program swasembada daging Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB).

Pada aspek hilir, Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan produk nanobiosilika serbuk dari sekam padi untuk memenuhi kebutuhan industri. Saat ini produk tersebut telah diterapkan pada produk barang jadi karet bekerja sama dengan mitra industri yang perjanjian kerja samanya ditandatangani pada acara Workshop ini.

Di bidang pangan, untuk mendukung pembangunan pangan dan pertanian berkelanjutan, Badan Litbang Pertanian juga telah mengembangkan produk kemasan ramah lingkungan berbasis nanoselulosa dari limbah biomassa pertanian, seperti tandan kosong kelapa sawit, tongkol jagung, daun nenas, jerami padi, dan lainnya.

Produk kemasan yang dihasilkan antara lain berupa (i) biofoam yang berpotensi menggantikan kemasan berbahan styrofoam, serta (2) produk bioplastik. Badan Litbang Pertanian juga melakukan riset dan pengembangan produk nano-vitamin dan mineral, yang sangat potensial diterapkan pada proses fortifikasi pangan, diantaranya untuk menurunkan prevalensi stunting.

Produk ini telah diterapkan untuk meningkatkan nilai gizi pangan berbasis ubikayu (breakfast meal) dan dapat meningkatkan stabilitas gizinya hingga 4 – 5 kali. Ke depan, pengembangan nanofortifikasi pangan akan difokuskan pada upaya-upaya untuk mengatasi stunting dengan mengintroduksikannya pada pangan pokok seperti beras, termasuk pangan untuk ibu hamil, bayi, balita, dan anak sekolah mendukung pembangunan SDM sesuai arahan Presiden.

Ke depan, Badan Litbang Pertanian akan melakukan sinkronisasi program dan sinergi pelaksanaan kegiatan litbang nanoteknologi dalam skema flagship Balitbangtan bekerja sama dengan stakeholders terkait sehingga hasil litbangnya diterapkan oleh pengguna dan lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Program pengembangan nanoteknologi ini sejalan dengan draft awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang sedang dibahas oleh Bappenas saat ini, dimana dukungan nanoteknologi untuk pangan dan pertanian menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan, terutama yang berkaitan dengan fortifikasi pangan untuk mengatasi stunting, penyediaan pupuk dan pestisida yang lebih efisien dan ramah lingkungan, teknologi coating untuk memperpanjang umur simpan komoditas bernilai tinggi dan ekspor, dan penyediaan kemasan yang ramah lingkungan serta aspek lain yang berhubungan dengan pangan dan pertanian(**/Bro-3)

Editor : Lasman Simanjuntak

 

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan