Minggu Sembahyang RT : Perkawinan Muda Tergesa-Gesa, Timbulkan Perceraian

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Perkawinan muda yang cenderung tergesa-gesa dapat menimbulkan perpisahan, bahkan perceraian, termasuk yang dialami umat-umat Tuhan.

Hal ini terungkap dalam bacaan Pekan Doa, Minggu Sembahyang Rumah Tangga (RT) hari kedua (Minggu sore, 16 Februari 2020) berjudul “Perkawinan Muda yang Tergesa-Gesa” (Ellen G.White) dengan ayat inti Amsal 3 : 1-2 yang dibawakan oleh Ketua Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara Hendrik Padmasana, dan protokol acara Lidya Padmasana.

“Perkawinan yang tergesa-gesa akan timbulkan percecokan dalam.rumah tangga yang makin luas.Bahkan suasana rumah tangga akan selalu diwarnai perkataan kebencian.Maka yang terjadi bukan suasana surga.Ujungnya, terjadi perpisahan dan perceraian termasuk yang akan dialami umat-umat Tuhan,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab dari seorang jemaat yaitu apa yang menyebabkan terjadinya perkawinan muda yang tergesa-gesa, Ibu Pdt.Dahlia Hutauruk br Nainggolan (Pemimpin Departemen Rumah Tangga GMAHK Jatinegara-red) mengatakan jika dalam konseling dengan pastoral, ternyata calon pasangan suami isteri ditemukan ketidakcocokan lebih baik jangan menikah dulu.

“Lebih baik matangkan karakter kita.Apalagi kita menikah itu sangat berpengaruh pada keselamatan kita.Dua-duanya, pasangan suami dan isteri saling mendukung untuk masuk ke surga.Ciptakan surga-surga kecil dalam rumah tangga,” ucapnya seraya memberi contoh perkawinan yang tergesa-gesa dan belum dewasa dalam Alkitab adalah perkawinan Simson.

Dikatakan lagi oleh Ibu Pdt.Dahlia Hutauruk, dalam rencana perkawinan harus juga dilihat ‘bibit, bobot, bebet’ , termasuk juga di dalamnya peduli kepada iman.

“Jangan sampai tidak perdulikan iman kita kepada Yesus Kristus.Dalam konseling tiga bulan itu, jangan motif kita hanya karena mau kawin saja,” pesannya.

Pdt.Richard Hutauruk menambahkan bila dalam konseling tak ‘pas’perkawinan tunda dulu, dan harus bersabar.

“Dalam konseling akan diketahui calon pasangan suami isteri ini masih murni tidak.Sebab kelahiran anak tanpa direncanakan, akan jadi persoalan,” ujarnya.

Oleh karena itu dalam persiapan.memasuki lembaga perkawinan yang kudus itu, Pdt.Hutauruk berpesan 1) penting kedewasaan, 2) kita harus berhati-hati sebagai orangtua, 3) bagi pasangan yang mau menikah banyak berdoa, kalau biasanya berdoa 2 kali, tingkatkan menjadi 4 kali lipat, supaya Tuhan menolong kita.

“Lebih baik bercerai saat pacaran, daripada bercerai saat menikah,” tegasnya sambil tersenyum.

Janji Suci Perkawinan

Sementara itu pada¬† kebaktian Pekan Doa Minggu Sembahyang Rumah Tangga hari keempat (Selasa, 18/1/2020) berjudul ” Janji Yang Suci” dengan ayat inti Kejadian 2 : 24 yang dibawakan oleh Hengki Gunawan antara lain disebutkan bacaan malam ini sebenarnya banyak ditujukan bagi anak anak-anak.muda, terutama yang mau menikah.

“Rumah tangga, sekolah yang tak pernah tamat.Lelaki jadi teman dan penolong yang kuat bagi wanita.Biasanya wanita lebih kuat daya tahannya, termasuk dalam menjaga anak-anak,” kata Hengki Gunawan saat mengawali bacaan yang mengutip buku “Membina Keluarga Bahagia” (Ellen G White).

Menurutnya, lembaga perkawinan itu melambangkan citra Allah.

“Tuhan Yesus ingin perkawinan yang berbahagia.Kasih Kristus masuk ke dalam kasih antar manusia,” ucapnya.

Pada bacaan Pekan Doa Minggu Sembahyang Rumah Tangga hari keempat dengan Protokol Acara Ita Gunawan ini, juga disinggung bahwa pernikahan yang membuat hati Allah tak senang yakni pesta pernikahan diikuti dengan pemborosan, dan pertunjukan.

“Harus sederhana dalam suasana hikmat.Dalam bacaan ini diberikan contoh perkawinan di rumah Hamba Tuhan Ellen.G.White yang sangat sederhana dan Tuhan kuduskan perkawinan sederhana tersebut,” kata Hengki Gunawan.

Dalam bacaan ini juga diberikan nasehat khususnya kepada pengantin baru.Misalnya, nasihat untuk suami yaitu berhati-hatilah jangan sampai “merusak” kehidupan isteri.

Sedangkan nasihat untuk isteri, berjaga senantiasa, dan hilangkan sifat mementingkan diri.

“Meskipun sudah bersatu dalam rumah tangga, tetapi masing-masing tetap punya pribadi sendiri-sendiri.Kita tetap memelihara kepribadian kita masing-masing,” ucapnya.

Setelah menikah, tetap serahkan diri kepada Tuhan, takut senantiasa kepada Allah, dan turuti segala perintah-nya.

“Coba, bagi yang sudah menikah, ulangi lagi janji pernikahan saudara dihadapan Tuhan.Bila ada kesalahan, kita boleh saling minta maaf .Sampaikan itu dalam doa kelompok keluarga,” pungkasnya( */Bro-2)

Editor : Lasman Simanjuntak
(Pemimpin Komunikasi GMAHK Jatinegara)

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan