Spread the love

bagusJakarta,BeritaRayaOnline,- Untuk mengantisipasi ketersediaan dan gejolak harga pangan menjelang puasa dan lebaran 2016, instansi terkait Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian BUMN mengadakan Rapat Koordinasi  (Rakor) Pangan Nasional di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (31/5/2016).

Rapat koordinasi  dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, dan Menteri Negara BUMN Rini Soemarno, pejabat eselon I dari Kementerian terkait, Aster KASAD, Kepala BMKG, Kepala BPS , Dirut Perum Bulog serta Dirut PTPN X.

rakorMenteri Pertanian,  Andi Amran Sulaiman, menegaskan  pemerintah berkomitmen menjaga ketersediaan pangan khususnya komoditas yang harganya sedang bergejolak, yakni beras, daging sapi, bawang merah dan gula menjelang bulan Puasa dan Lebaran Tahun 2016. Upaya dalam memenuhi pasokan komoditas tersebut akan dimobilisasi dari hasil produksi dalam negeri dan melalui impor untuk menekan harga di pasar.

Sedangkan Menteri Perdagangan, Thomas Lembong, pada kesempatan yang sama menyampaikan ajakannya agar  para pelaku usaha bersinergi dengan pemerintah untuk menjaga harga yang wajar. Hal ini dilakukan untuk menghindari spekulasi yang berlebihan dan bisa merugikan masyarakat.

Menteri Negara BUMN, Rini Soemarno menyampaikan  pemerintah ingin menjaga petani supaya menerima pendapatan yang cukup dan pada saat yang sama konsumen mendapatkan harga yang memadai terutama menjelang puasa dan lebaran tahun 2016.

rakorduaRapat Koordinasi Pangan lintas Kementerian ini menyepakati target harga untuk empat komoditas strategis, sebagai berikut :
Bawang merah, tingkat petani Rp15.000/ kg (konde kering) dan di tingkat konsumen Rp25.500/ kg
Untuk Beras medium harga di tingkat petani (HPP) Rp. 7.300 / kg; dan di tingkat konsumen Rp. 9.500/kg.
Pemerintah melalui Bulog akan memasok beras ke pasar sejumlah 400.000 ton sampai dengan Hari Raya Idul Fitri.

Kemudian komoditas untuk gula Pasir di tingkat petani (HPP) Rp 9.100/ kg dan di tingkat konsumen Rp 12.500 /kg

Pemerintah juga telah menambah pasok dengan menugaskan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sebanyak 180.000 ton. Selain itu Pemerintah juga akan menugaskan PTPN X dan PT Rajawali Nusantara Indonesia untuk mengimpor gula mentah sebanyak 381.000 ton untuk diolah menjadi gula konsumsi.

Untuk daging sapi sesuai arahan Presiden Jokowi , pemerintah menargetkan harga daging sapi yakni Rp 80.000/kg.
Untuk memenuhi kekurangan pasok daging sapi selama puasa dan lebaran, pemerintah telah menambah pasok dengan menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor 10.000 ton, PT Berdikari mengimpor 5.000 ton serta PD Dharmajaya mengimpor 500 ton.

rakoratuRapat Koordinasi (Rakor) Pangan ini merupakan upaya pemerintah untuk mengantisipasi ketersediaan dan gejolak harga pangan menjelang bulan Puasa dan Lebaran tahun 2016. Ke depannya, koordinasi dan sinergi lintas kementerian ini akan dilakukan secara berkala untuk menekan harga komoditas yang masih tinggi.

“Kami ingin merubah struktur pasar baru, rantai pasok pangan diperpendek. Petani tidak perlu khawatir, Bulog siap serap. Petani untung, petani tersenyum, dan ada ruang untuk pedagang,” kata  Mentan Andi Amran Sulaiman .

Belum Satu Suara Soal Harga Daging Sapi

Sesama menteri di pemerintahan ternyata belum satu suara soal penurunan harga daging sapi jelang puasa.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo sudah meminta agar harga komoditas itu turun menjadi Rp 80.000 per Kg.

Usai rapat koordinasi di Kementerian Pertanian, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Menteri Perdagangan Thomas Lembong punya keinginan yang sedikit berbeda soal waktu turunnya harga daging sapi.

“Mudah-mudahan bisa turun (harga daging sapi), sebelum puasa bisa Rp 80.000,” ujar Rini di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (31/5/2016).

Pernyataan itu lantas ditimpali oleh Mendag Thomas Lembong saat ditanya wartawan soal kapan harga daging sapi bisa Rp 80.000.

“Mengenai target waktu penurunan harga, mungkin saya lebih konservatif dari Ibu Menteri BUMN yang mengharapkan sebelum puasa sudah mulai turun,” kata Lembong.

Rini langsung memotong pernyataan Lembong.

Ia bilang harga daging sapi harus sudah mulai turun sebelum puasa dan pada minggu pertama puasa diharapkan harga daging sapi bisa Rp 80.000 per Kg.

Lembong sendiri mengatakan bahwa ia tidak berharap harga daging sapi bisa turun dengan tiba-tiba.

“Harga stabil dulu dan kemudian mulai menurun, itu saya kira perkembangan harga yang sehat. Kami enggak mau langsung anjlok, harganya drastis, tapi yang penting adalah trend-nya jelas. Kami ingin melihat trend dan cenderung menurun,” ucap Mendag.

Dengan keputusan impor daging sapi, Lembong baru yakin penurunan harga daging akan terasa pada 2-3 minggu ke depan.

Rini memahami cara pandang Thomas Lembong soal penurunan harga.

Meski begitu, ia mengatakan bahwa Kementerian BUMN tetap memiliki target sendiri.

“Kalau Pak Mendag memang sebagai Menteri Perdagangan selalu memikirkan yang gradual. Tapi saya sebagai Menteri BUMN, karena punya tanggung jawab, untuk prestasi para BUMN, tentunya saya menargetkan para BUMN bahwa harga sudah sudah turun minimal pada akhir minggu pertama bulan puasa,” tutur Rini.

Harga Bawang Merah Turun

pressSementara itu mengenai harga bawang merah yang sempat melonjak sampai Rp 40 ribu/kg, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengklaim bahwa harga bawang merah di tingkat pedagang  saat ini telah mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan karena telah masuknya pasokan bawang merah dari petani lokal.

Dia mengatakan, turunnya harga bawang merah ini bukan disebabkan karena rencana pemerintah yang akan membuka keran impor sebesar 2.500 ton. Namun, memang karena pasokannya telah masuk di pasar.

“Bawang merah harganya sudah turun, kita bersyukur. Ini panen rakyat, kita kerja keras dari dua minggu‎,” ujarnya.

Menurutnya, produksi bawang merah lokal pada dasarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Oleh karena itu, dibukanya keran impor bawang merah sedianya tidak perlu dijadikan polemik.‎

‎”Capaian kita 2015 cukup menggembirakan. Beritanya yang lagi seksi impor 2.500 ton, kita produksi 1 juta ton. Ini kan hanya 0,025%. Ada yang mengatakan kalau produksinya kurang. Saya katakan di Bima siap, Cirebon siap, Ngantang (Malang) siap. Di 2016 kita dorong ekspornya. Impornya juga turun dari 74 ribu ton (2013) jadi 17 ribu ton (2016),” jelasnya.

(***/dari berbagai sumber/dbs/lasman)

Fotografer by    : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline

Editor                 : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan