Manfaatkan PWMP, 3 Petani Milenial asal Bandung Kembangkan Usaha Cik May

Spread the love

Bandung,BeritaRayaOnline,-Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong lahirnya petani milenial sebagai upaya regenerasi petani. Berbagai program diluncurkan oleh Kementan salah satunya adalah Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, tongkat estafet pembangunan pertanian ada pada pundak generasi muda.

Melalui PWMP diharapkan bisa mencetak generasi milenial menjadi seorang petani atau mendirikan start up di bidang pertanian.

Menurutnya, hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebab, kaum milenial mulai sadar pertanian adalah tambang emas tanpa batas jangka panjang.

“Ke depan, generasi muda pertanian bukanlah pekerja bidang pertanian, tetapi menjadi pelaku usaha pertanian. Regenerasi petani menjadi hal yang penting dan utama sekarang ini,” papar Mentan.

Nensy agni wirsya, Destri hasanah serta Urwatil wusqa penerima manfaat program PWMP tahun 2019 adalah alumni Universitas Padjajaran yang merupakan salah satu perguruan tinggi mitra Kementerian Pertanian berhasil mengembangkan usaha olahan singkong dengan merek Cik May.

Awalnya Nensy sering membeli singkong dari seorang petani kecil di pasar dadakan rancaekek. Ia merasa iba dengan petani tersebut, tak banyak orang yang tertarik untuk membeli singkong hasil panennya.

Nensy pun mengolah singkong tersebut menjadi keripik. Keripik hasil olahannya ia berikan sebagai hadiah untuk beberapa rekannya yang telah menyelesaikan sidang akhir serta beberapa dosen sebagai ungkapan terima kasih.

Tak disangka, ternyata banyak yang suka dengan keripik singkong yang ia olah dengan bumbu khas racikannya.

Nensy pun menceritakan awal mula pemberian nama CIK-MAY untuk merek produknya.

“CIK adalah panggilan perempuan untuk orang padang, sedangkan MAY adalah nama ibu saya. Semua bumbu adalah rempah khas padang ide dari ibunya. Alhamdulillah, rasa khas Keripik Cik May membuat konsumen ketagihan dan terus membeli,”ceritanya.

“Kami menggunakan bumbu basah tidak seperti kebanyakan bumbu yang ada dipasaran. Dan kenapa kami memilih singkong yang diolah, karena banyak singkong dipasaran kecil tidak laku. Niat kami membantu petani kecil untuk membesarkan usaha kami,”jelas Nensy.

Sebelum didanai oleh PWMP dalam satu bulan omset keripik Cik May berkisar Rp.400.000,- per bulannya. Namun setelah mendapat suntikan dana PWMP omset naik pesat.

“ Dua bulan pertama omset kami mencarai Rp. 2.000.000,-lalu bulan berikutnya tembus di kisaran Rp. 4.000.000,-/bulannya. Untuk pemasaran, selain melalui online Nensy mengisi beberapa kantin dan minimarket Kampus di Sumedang dan beberapa dikirim ke Jakarta. Ke depan kami ingin usaha yang saat ini kami rintis di kawasan Rancaekek Bandung ini bisa berkembang pesat,” tambahnya.

Adanya pandemi tentu memberi pengaruh besar kepada usaha Cik May. Tutupnya kantin dan kampus menjadikan usahanya turun drastis.

Namun,  kenyataan ini tidak menyurutkan semangat ketiga milenial ini untuk tetap berproduksi. Saat ini pemasaran melalui online.

Mereka tetap bersyukur walau pendapatannya menurun, tetapi masih ada yang memesan olahan keripiknya melalui pemesanan online.

Kegigihan Nensy agni wirsya, Destri hasanah serta Urwatil wusqa pun mendapatkan apresiasi dari Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi.

Ia mengatakan dibutuhkan sekelompok anak muda yang memiliki loyalitas dan integritas tinggi untuk memajukan pertanian Indonesia.

“Sudah saatnya pertanian dikelola oleh generasi milenial yang menggunakan kreativitas dan inovasinya sehingga pertanian kedepan menjadi pertanian modern yang tak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya tetapi juga berorientasi ekspor. Untuk itu Kementan terus berupaya untuk mempercepat regenerasi petani dan mencetak wirausaha milenial pertanian yang memiliki jiwa mandiri, tangguh dan modern”, ungkap Dedi.(*/Leli)

Editor : Bro-3

Tinggalkan Balasan