Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, kita mengenal adanya sejumlah penyebutan tentang penggolongan, periodesasi atau angkatan.

Penyebutan itu tentu tidak serta-merta muncul begitu saja. Selalu ada usaha untuk merumuskan semangat yang melatarbelakanginya atau gerakan estetik yang mendasari karya-karya yang muncul
sejalan dengan semangat zamannya. Dari sejumlah penamaan tentang angkatan atau
periodesasi itu.

“Menurut hemat saya, hanya ada tiga angkatan yang melandasi penamaannya atas dasar semangat atau gerakan estetik, yaitu Pujangga Baru, Angkatan 45, dan sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66 yang kemudian menyebut diri sebagai Angkatan 70-an,” ujar Maman S Mahayana, Kritikus Sastra, Dosen, dan Ketua Yayasan Hari Puisi dalam makalah yang disampaikan pada acara diskusi  sastra mengenang 40 hari wafatnya Penyair, Sastrawan, dan Budayawan Prof.Abdul Hadi WM di Teater Kecil, Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki di Jakarta, Senin sore (26/4/2024) dengan.moderator Riri Satria.

Menurutnya, beberapa pengamat sastra Indonesia kerap menyebutkan angkatan-angkatan yang dianggap sebagai
tonggak perjalanan kesusastraan Indonesia, yaitu  Angkatan Balai Pustaka –meski ada pula yang mengusulkan adanya angkatan sebelumnya, yaitu Angkatan Pra-Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45,  Angkatan ‘66 –sebelum angkatan ini, Ajip Rosidi mengusulkan adanya Angkatan Terbaru untuk sastrawan yang berkiprah tahun 1950-an sampai awal 1960-an, (Angkatan 70- an,  Angkatan 80-an, dan  Angkatan 2000.

“Saya tak menyebut Angkatan Milenial atau angkatan entah apa, sebab belum ada yang coba memproklamasikan dan merumuskan karakteristiknya. Dari sejumlah penyebutan angkatan itu—seperti dinyatakan di atas, hanya tiga angkatan yang punya konsep
estetik yang melandasi gerakannya, yaitu Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, dan Angkatan 70-an,” ujarnya.

Konsep estetik Angkatan Pujangga Baru tampak dalam esai-esai Sutan Takdir Alisjahbana (STA) tentang perbedaan pujangga lama dan pujangga baru. Dalam esainya, ―Puisi Indonesia Zaman Baru I—VIII (dimuat bersambung mulai Pujangga Baru, No. 3, Th. II, September 1934 sampai Pujangga Baru No. 10,
Th. 12, April 1942—setelah itu tak terbit lagi karena kedatangan Jepang), STA coba merumuskan konsep puisi baru dengan memberikan beberapa contoh berdasarkan puisi-puisi yang terbit pada masa itu.

Konsep estetik Angkatan 45 dapat ditelusuri pada esai Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Achdiat Karta Mihardja, Rosihan Anwar, Aoh Karta Hadimadja, dan H.B. Jassin. Lihat H.B. Jassin, “Angkatan 45” Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay, (Djakarta: Gunung Agung, 1954), hlm. 189.
Lihat juga Aoh K Hadimadja (Karlan Hadi), Beberapa Paham Angkatan ’45, Djakarta: Tintamas, 1952.

Gerakan Estetik Angkatan 70-

Beberapa nama yang secara serius coba merumuskan gerakan estetik Angkatan 70-an, dapat disebutkan  di sini, antara lain, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Dami N. Toda.Contoh kasus semaraknya kebebasan berkreasi pascatragedi 1965 dapat kita lihat pada mencuatnya nama
Iwan Simatupang (18 Januari 1928—4 Agustus 1970) sebagai tokoh penting dalam perkembangan sastra
Indonesia zaman Orde Baru.

Ia bolehlah dianggap sebagai salah seorang pemicu lahirnya karya-karya eksperimental, terutama dalam penulisan prosa dan (mungkin juga) dalam penulisan naskah drama. Karya
pertamanya, drama Bulan Bujur Sangkar terbit tahun 1960, sebuah drama yang selesai ditulisnya tahun 1957 di Eropa, nyaris tak mendapat tanggapan apa pun ketika itu. Setelah itu, terutama setelah kematian
istrinya –Cornelia Astrid van Geem—, ia seperti tenggelam, meski sempat menikah lagi dengan TannekeBurki, seorang balerina dari Bandung (1961) yang hanya bertahan sampai awal tahun 1964.

“Berbagai karya eksperimental seperti memperoleh lahan yang subur dan momentum yangbaik. Karya-karya eksperimental itu mencakupi semua ragam sastra (puisi, novel dancerpen, dan drama), bahkan juga karya seni lainnya—musik, lukis, film, dll. Maka, di
antara karya-karya yang konvensional yang terbit tahun 1970-an, tidak sedikit pula yang
memperlihatkan semangat kebebasan itu yang diejawantahkan dalam bentuk karya-karya
eksperimental. Sementara itu, nama-nama yang oleh H.B. Jassin dimasukkan ke dalam
Angkatan 66, pada tahun 1970-an itu, justru makin memperlihatkan kematangannya. Jika
disederhanakan, sastrawan tahun 1970-an, berdasarkan karya-karya yang dihasilkannya,
dapat dibagi ke dalam tiga kelompok,” katanya.

Pertama, mereka yang termasuk Angkatan 66 atau yang telah berkarya pada
dasawarsa tahun 1960-an, bahkan sudah sejak dasawarsa tahun 1950-an, tetapi mulai
makin matang pada tahun 1970-an. Sebagaimana yang telah dilakukan Iwan Simatupang.

Kedua, mereka yang karya-karyanya baru muncul tahun 1970-an. Yang termasuk
sastrawan golongan ini, antara lain, Abrar Yusra, Arswendo Atmowiloto, Aspar
Paturusi, Budiman S. Hartoyo, D. Zawawi Imron, Darmanto Jatman, Diah Hadaning,
Ediruslan PE Amanriza, Emha Ainun Nadjib, Frans Nadjira, Hamid Jabbar, Iman Budhi
Santosa, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Marianne Katoppo, Putu Arya
Tirtawirya, Ragil Suwarna Pragolapati, Rayani Sriwidodo, Sanento Yuliman, Seno
Gumira Ajidarma, Sides Sudyarto DS, Th. Sri Rahayu Prihatmi, Toeti Herati Noerhadi,
dan Wisran Hadi.

Ketiga, mereka yang menghasilkan karya dengan kecenderungan melakukan
eksperimentasi. Di antaranya, ada yang sudah berkarya sejak tahun 1960-an, ada pula
yang kemunculannya pada tahun 1970-an itu. Yang termasuk ke dalam golongan ini,
antara lain, Iwan Simatupang, Arifin C. Noer, Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul
Hadi WM, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Ikranagara, Ibrahim Sattah, Leon Agusta,
Akhudiat, Adri Darmadji Woko, Darmanto Jatman, dan Yudhistira ANM Massardi.
Dilihat dari kecenderungan karya-karya mereka, ada semangat yang sama yang
menjadi landasan dan wawasan estetiknya, yaitu semacam kerinduan untuk menggali
nilai-nilai tradisi masa lalu budaya leluhur.

Menurut Abdul Hadi WM, corak pendekatan
dan sikap terhadap tradisi itu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok kecenderungan:
1. Mereka yang mengambil unsur-unsur budaya tradisional untuk keperluan
inovasi dalam pengucapan. Mereka melihat bahwa dalam tradisi terdapat
unsur-unsur dan aspek-aspek yang relevan bagi pandangan hidup
manusia mutakhir, khususnya irrasionalisme yang ternyata mendapat
perhatian kaum eksistensialis dan penganut aliran sastra absurd;

2. Mereka yang mengklaim menumpukan perhatian hanya terhadap satu
budaya daerah saja seperti Jawa, Minangkabau, Melayu Riau, Sunda dan
lain-lain.

Para penulis kecenderungan ini berkarya dengan maksud memberi corak khas kedaerahan terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia;
3. Mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk-bentuk spiritualitas
dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya

“Tidak ada nama Budi Darma dalam uraian Abdul Hadi, boleh jadi lantaran gebrakan Budi Darma baru muncul lewat antologi cerpennya, Orang-orang Bloomington (1980), novel Olenka (1983) dan Rafilus (1988). Sebenarnya cerpen-cerpen Budi Darmo—belakangan memakai nama Budi Darma, sudah muncul
sejak tahun 1950-an. Tiga cerpennya yang dimuat majalah Tjerita, ―Sinting di Kota Rembang‖ (Tjerita No.
2, Th. II, Februari 1958), ―Dia Datang ke Batas‖ (Tjerita No. 4, Th. II, April 1958), ―Parto Gombloh‖ (Tjerita No. 8, Th. II, Agustus 1958), menunjukkan kekuatan Budi Darma dalam penceritaannya yang liar, pahit, dan ironis,” kilahnya.

Masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar,
seperti Hindu, Buddha, dan Islam.8
Berdasarkan ketiga kecenderungan itu, Abdul Hadi menyebutkan karya-karya
dari sejumlah sastrawan sebagaimana yang terlihat dalam kutipan berikut ini:
Kecenderungan pertama, yang menyikapi tradisi dengan begitu kreatif untuk
keperluan inovasi, dapat dilihat pada karya-karya Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko
Damono, Arifin C Noer, dan Sutardji Calzoum Bachri. Dalam seni tari dan teater tampak
dalam karya Sardono W. Kusumo, Arifin C. Noer, W.S. Rendra, Putu Wijaya, dan
Ikranagara. Mereka tidak berpretensi kedaerahan walaupun sadar mengambil unsur
tradisi daerah.

Kecenderungan kedua dalam sastra dapat dilihat dalam karya-karya Nh. Dini,
Umar Kayam, Ahmad Tohari,9 Darmanto Jt., Linus Suryadi A.G., Wisran Hadi, Ibrahim
Sattah, Subagio Sastrowardojo, dan lain-lain. … Kebanyakan dari mereka melihat tradisi
sebagai produk sejarah yang bentuk-bentuknya sukar diubah dan merupakan ciri khas
budaya masyarakat tertentu yang mungkin tak dimiliki suku bangsa lain.

Kecenderungan ketiga, yang menghubungkan diri dengan sumber-sumber agama
dan bentuk-bentuk spiritualitas agama tampak dalam karya-karya Danarto, Abdul Hadi
WM, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi
Imron, juga Sutardji Calzoum Bachri (dalam tahap akhir perkembangan
kepenyairannya).

Menolak Realisme

Bagi Abdul Hadi WM, munculnya ―kesadaran baru‖ dan ―wawasan estetik
baru‖ itu menunjukkan adanya perbedaan yang tajam dengan semangat dan wawasan
estetik seperti yang terdapat pada karya-karya periode sebelumnya. Kecenderungan yang
lain tampak dari kesadaran sastrawan tahun 1970-an itu yang mulai menolak realisme
formal, dan mulai menerima improvisasi dan anti-rasionalisme. Danarto.

“Bahkan Abdul Hadi WM, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik, Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1999, hlm. 6. Ahmad Tohari baru muncul namanya dan mulai diperhitungkan keberadaannya dalam sastra Indonesia awal tahun 80-an. Tidak begitu jelas, mengapa Abdul Hadi memasukkan nama Ahmad Tohari ke dalam sastrawan Angkatan 70-an,” ucap Maman S Mahayana.

Selain anti-intelektualisme dan anti-rasionalisme, ada kecenderungan lain
yang mencolok, yaitu adanya penjelajahan terhadap mistisisme dan tasawuf. Ciri lainnya,
seperti dikatakan Dami N. Toda adalah anti-slogan. Pada karya-karya sastrawan tahun
1970-an itu, tak ada lagi semboyan seni untuk rakyat atau seni untuk seni, tak ada lagi
slogan cinta tanah air, humanisme universal atau pertentangan Timur—Barat.

Jadi, ada kesadaran dan semangat yang sama yang tampak dari karya-karya sastrawan tahun 1970- an itu berkenaan dengan wawasan estetik, pandangan, sikap hidup pengarang, semangat dan orientasi kebudayaannya. Atas dasar itulah, Abdul Hadi WM menamakan sastrawan periode itu sebagai Angkatan 70 dalam sastra Indonesia.

Penamaan Angkatan 70 dalam sastra Indonesia ini tidak hanya diperkenalkan oleh Abdul Hadi WM,tetapi juga oleh Dami N. Toda sebagaimana diungkapkan dalam beberapa artikelnya, ―Peta PerpuisianIndonesia 1970-an dalam Sketsa,‖ Budaya Jaya, No. 12, Th. X, September 1977; ―Tahap-Tahap
Perkembangan Wawasan Estetik Perpuisian Indonesia,‖ Budaya Jaya, No. 121 Th. XI, Juni 1978; ―Puisi
Indonesia dalam Dekade Terakhir,‖ Horison, No. 8, Th. XVI, Agustus 1981. Lihat juga esai-esai Dami N.

Sementara itu, Korrie Layun Rampan, meskipun pandangan yang mendasarinya tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang
dikemukakan Abdul Hadi dan Dami N. Toda, ia menyebut sastrawan pada periode itu sebagai ―Angkatan 80. Boleh jadi penyebutan Angkatan 80 yang dilontarkan Korrie dalam artikelnya ―Angkatan 80 dalam Sastra
Indonesia‖ (Suara Karya, 24 Agustus 1984), lantaran gagasan Korrie lebih kemudian dibandingkandengan penamaan Angkatan 70 yang diangkat Abdul Hadi, Dami N. Toda, Danarto, dan Sutardji Calzoum
Bachri yang munul sejak pertengahan dasawarsa 70-an, terutama ketika Abdul Hadi mengasuh lembar kebudayaan ―Dialog‖ di harian Berita Buana antara tahun 1979—1990. Itulah salah satu kiprah penting yang dilakukan Abdul Hadi sebagai redaktur media massa dalam perjalanan kesusastraan Indonesia,
sebagaimana yang dilakukan STA ketika menjadi redaksi majalah Pujangga Baru.
Beberapa nama yang secara serius coba merumuskan gerakan estetik Angkatan 70-an, dapat disebutkan di sini, antara lain, Abdul Hadi WM,  dan Sutardji Calzoum Bachri.

Bagi Abdul Hadi WM,11 munculnya ―kesadaran baru‖ dan ―wawasan estetik
baru‖ itu menunjukkan adanya perbedaan yang tajam dengan semangat dan wawasan
estetik seperti yang terdapat pada karya-karya periode sebelumnya.

Kecenderungan yang
lain tampak dari kesadaran sastrawan tahun 1970-an itu yang mulai menolak realisme
formal, dan mulai menerima improvisasi dan anti-rasionalisme. Danarto, bahkan Abdul Hadi WM, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik, Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1999, hlm. 6.

Ahmad Tohari baru muncul namanya dan mulai diperhitungkan keberadaannya dalam sastra Indonesia
awal tahun 80-an. Tidak begitu jelas, mengapa Abdul Hadi memasukkan nama Ahmad Tohari ke dalasastrawan Angkatan 70-an.
10Abdul Hadi WM, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik, Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1999, hlm. 6—7.
11 Abdul Hadi WM, ―Angkatan 70 dalam Sastra Indonesia.

Alasan utama yang menjadi pemikiran Abdul Hadi menyebut sastrawan periode
itu sebagai Angkatan 70 didasari oleh adanya semacam gerakan sastra yang membawa
ciri baru dan perbedaan yang mencolok dengan ciri gerakan sastra sebelumnya. ―Jadi,
pangkal-tolaknya adalah karya-karya yang merintis pembaharuan, yang kemudian
melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru sebagai hasil dari proses interaksi dengan
kehidupan sosial, moral, intelektual, dan spiritual lingkungan dan zamannya.‖
Ciri-ciri yang mencolok dari eksperimentasi yang diperlihatkan karya-karya yang
muncul dasawarsa 1970-an itu, dapatlah disebutkan beberapa di antaranya. Untuk novel
yang dapat diwakili oleh karya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, dan Budi

Penamaan Angkatan 70 dalam sastra Indonesia ini tidak hanya diperkenalkan oleh Abdul Hadi WM,
tetapi juga oleh Dami N. Toda sebagaimana diungkapkan dalam beberapa artikelnya, ―Peta Perpuisian
Indonesia 1970-an dalam Sketsa,‖ Budaya Jaya, No. 12, Th. X, September 1977; ―Tahap-Tahap
Perkembangan Wawasan Estetik Perpuisian Indonesia,‖ Budaya Jaya, No. 121 Th. XI, Juni 1978; ―Puisi
Indonesia dalam Dekade Terakhir,‖ Horison, No. 8, Th. XVI, Agustus 1981. Lihat juga esai-esai Dami N.
Toda dalam bukunya, Hamba-Hamba Kebudayaan, Jakarta: Sinar Harapan, 1984. Sutardji Calzoum
Bachri dan Danarto dalam wawancaranya dengan Abdul Hadi WM (Berita Buana, 14 Februari 1978) juga
mengusung nama Angkatan 70 ketika keduanya melihat adanya kecenderungan baru yang terdapat dalam
karya-karya yang terbit pada periode itu. Mengenai hal ini, Boen S. Oemarjati tidak secara tegas menyebut
Angkatan 70, melainkan menyebutnya sebagai ―periode‖. Hal yang senada juga dilontarkan oleh
Goenawan Mohamad yang menyebutnya sebagai ―generasi sastrawan 1970-an‖.

Sementara itu, Korrie
Layun Rampan, meskipun pandangan yang mendasarinya tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang
dikemukakan Abdul Hadi dan Dami N. Toda, ia menyebut sastrawan pada periode itu sebagai ―Angkatan 80. Penamaan yang dilakukan Korrie ini mungkin diilhami oleh penamaan Angkatan ‗80 (De Tachtiger
Beweging) Belanda yang menyerap pengaruh romantisisme Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. Korrie
sendiri tidak memberi alasan, mengapa ia menyebutnya sebagai Angkatan 80, dan tidak Angkatan 70.
Boleh jadi penyebutan Angkatan 80 yang dilontarkan Korrie dalam artikelnya ―Angkatan 80 dalam Sastra
Indonesia‖ (Suara Karya, 24 Agustus 1984), lantaran gagasan Korrie lebih kemudian dibandingkan
dengan penamaan Angkatan 70 yang diangkat Abdul Hadi, Dami N. Toda, Danarto, dan Sutardji Calzoum
Bachri yang munul sejak pertengahan dasawarsa 70-an, terutama ketika Abdul Hadi mengasuh lembar
kebudayaan ―Dialog‖ di harian Berita Buana antara tahun 1979—1990. Itulah salah satu kiprah penting
yang dilakukan Abdul Hadi sebagai redaktur media massa dalam perjalanan kesusastraan Indonesia,
sebagaimana yang dilakukan STA ketika menjadi redaksi majalah Pujangga Baru.

Bidang Puisi

Dalam bidang puisi, terjadi juga pemberontakan terhadap konvensi yang berlakusebelumnya. Ikatan pada bait dan larik yang dalam puisi-puisi sebelumnya –terutama
puisi zaman Pujangga Baru— sudah ditinggalkan Chairil Anwar, pada tahun 70-an itu
tidak lagi dipersoalkan.

Artinya, para penyair tidak merasa perlu memikirkan bait dan
larik dalam puisinya itu. Puisi tahun 1970-an cenderung lebih mementingkan ekspresi
untuk mendukung tema yang hendak disampaikan. Karena itu, ada puisi naratif yang
embicaraan yang cukup mendalam mengenai drama kontemporer yang muncul tahun 1970-andilakukan Goenawan Mohamad, ―Sebuah Pembelaan untuk Teater Indonesia Mutakhir‖ Seks, Sastra, Kita,
Jakarta: Sinar Harapan, 1980, hlm. 91—148.

Panjang menyerupai bentuk prosa,ada pula yang sengaja disusun pendek-pendek.
Dalam hal ini, semakin tidak jelas batas tegas antara prosa dan puisi. Penyair boleh saja
menuliskan puisinya seperti sebuah cerpen, jika si penyair hendak memanfaatkan narasi
bagi kepentingan puisinya. Selain itu, gencar pula kecenderungan untuk menggali akar
tradisi kultural tempat penyair itu lahir dan dibesarkan. Sutardji Calzoum Bachri,
Ibrahim Sattah, Abdul Hadi WM, Adri Darmadji Woko, Linus Suryadi, Darmanto
Jatman, D. Zawawi Imaron, Goenawan Mohamad, Emha Ainun Nadjib, Hamid Jabbar,
adalah beberapa nama yang menonjol mengangkat tradisi kulturalnya.
Seperti posisi Chairil Anwar bagi Angkatan 45 dalam sastra Indonesia,
kedudukan Sutardji Calzoum Bachri bagi Angkatan 70, juga tidak terpisahkan. Ia
menjadi ikon bagi gerakan sastra pada dekade itu. Pemberontakan yang dilakukan
Sutardji Calzoum Bachri tidak hanya berhenti pada tataran bentuk –yang tidak lagi
mempersoalkan bait dan larik atau rima persajakan—tetapi juga makna. Abdul Hadi
menyebutnya sebagai penyair avant-garde dengan kredo puisinya yang kontroversial dan
menghebohkan.Penyair kelahiran Riau ini berhasil memanfaatkan mantra dari tradisi
leluhurnya (Melayu) untuk kepentingan persajakannya yang tampak liar dan memukau.

Di samping itu, renungannya yang mendalam tentang maut, kefanaan manusia, pencarian
dan kerinduan pada Tuhan, memancarkan sebuah kesadaran transendental baru, yang
dikatakan Abdul Hadi sebagai kesadaran sufistik.

Ia kemudian begitu gencar memperkenalkan –dan menerjemahkan— khazanah sastra sufi berikut pemikiran dan estetika para penyairnya. Antologi puisi

Kredo atau pernyataan sikap penyair Sutardji Calzoum Bachri, boleh dikatakan
merupakan bentuk kesadaran itu dalam usahanya menawarkan pembaharuan. Kredo
Sutardji Calzoum Bachri yang bertarikh 30 Maret 1973 dan kemudian dimuat dalam
majalah Horison (No. 12, Th. 9, Desember 1974) merupakan wujud pernyataan sikap
atas pendirian kepenyairannya. Berikut ini dikutip beberapa bagian Kredo Puisi tersebut.
―Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya
karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas
kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali
menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama

“Sebagai penyair saya hanya menjaga –sepanjang tidak mengganggu
kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya
sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti
mengembalikan kata-kata pada awal-mulanya. Pada mulanya–adalah Kata. Dan Kata
Pertama adalah Mantera,” katanya.

Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Jika Sutardji Calzoum Bachri memanfaatkan mantra dari kultur Melayu dan belakangan masuk pengaruh pemikiran tasawuf dalam karya-karyanya yang kemudian, Linus Suryadi AG (3 Maret 1951—30 Juli 1999) dan Darmanto Jatman menggunakankultur Jawa sebagai unsur penting dalam mengungkapkan ekspresi puitiknya. Goenawan Mohamad lebih khusus lagi mengangkat simbol-simbol dunia pewayangan.

Sedangkan Sapardi Djoko Damono –terutama pada awal kepenyairannya—cenderung berorientasi pada filsafat Jawa.

Dari kultur lain, muncul pula Abdul Hadi WM dan D. Zawawi Imron Sastra Sufi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985) merupakan salah satu usaha Abdul Hadi dalam mengangkat karya-karya penyair sufi, baik para penyair yang berasal dari Asia Barat, maupun para penyair dari wilayahNusantara, seperti Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Bukhari Al-Jauhari, Yasadipuro I, Yasadipura II, Ronggowarsito sampai ke Amir Hamzah. Bukunya yang lain, Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri (2001) dan Hermeneutik, Estetika, dan Religiusitas
(2004) adalah usaha serius Abdul Hadi WM. (Bro-1)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan