Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,-

Puisi saya adalah puisi berkabar
Puisi saya harus ada substansinya sebagai kabar
Mesti cerdas dan musikal untuk sedap didengar

Taufiq Ismail dan Ulang Tahun Jakarta

Sikap kepenyairan Taufiq Ismail tersebut, tentu saja sangat mengesankan. Sikap itu disambut dengan hangat oleh Iwan Henry Wardhana, untuk menjadi bagian dari rangkaian peringatan Ulang Tahun Jakarta ke-497. Dalam hal ini, Iwan Wardhana menempatkan sastra sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan warga Jakarta.

Ada momentum. Ada sikap. Ada substansi. Ada kecerdasan. Semua itu diperbincangkan dengan dinamis, pada Selasa, 6 Februari 2024 lalu. Iwan Wardhana selaku Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, membuka ruang seluas-luasnya, agar semua itu dikelola dalam bingkai kreativitas.

“Kalau hanya sekadar tanggal, tanpa ada makna, ya susah juga,” ungkap Iwan Wardhana mengingatkan. Kita tahu, Ulang Tahun Jakarta diperingati tiap tanggal 22 Juni. Kita juga tahu, penyair Taufiq Ismail lahir pada tanggal 25 Juni. Ia warga Jakarta dan bermukim di Jakarta.

“Ada banyak hal yang relevan dan bermakna, untuk menempatkan Taufiq Ismail menjadi bagian dari rangkaian peringatan Ulang Tahun Jakarta ke-497,” tutur Octavianus Masheka, Ketua Umum Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI).

Iwan Wardhana langsung menyambut, “Misalnya, dengan menggelar Malam Sastra Taufiq Ismail atau Malam Anugerah Sastra Taufiq Ismail.” Iwan Wardhana dan Octavianus Masheka saling menatap. Perbincangan pada Selasa, 6 Februari 2024 itu, dengan cepat mengerucut. Keduanya menghela nafas lega, setelah sampai pada titik temu yang dimaksud.

Iwan Wardhana menyadari, Dinas Kebudayaan tentu tidak bisa berjalan sendiri untuk menggulirkan gagasan tersebut. Perlu kolaborasi dengan para pihak. Setidaknya, melibatkan Dinas Kebudayaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip), Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Komunitas TISI, dan pihak Taufiq Ismail.

Dalam konteks kolaborasi, Octavianus Masheka mengungkapkan, Komunitas TISI akan berkolaborasi dengan para mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Memang, di era digital kini, kolaborasi sudah menjadi satu keharusan yang tak mungkin dielakkan.

Taufiq Ismail dan Tonggak Sastra

Dalam perbincangan pada Selasa, 6 Februari 2024 itu, penyair Arief Joko Wicaksono menyampaikan sejumlah catatan tentang keberadaan Taufiq Ismail sebagai tonggak sastra penting Indonesia.

Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Mengacu kepada tahun berkaryanya, Taufiq Ismail adalah tokoh sastrawan Angkatan 66. Itu adalah periode sastra yang pertama kali dicetuskan oleh HB Jassin pada tahun 1966.
Salah satu karya Taufiq Ismail yang ia tulis pada 1966 adalah “Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini.”

Tidak ada pilihan lain
Kita harus berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur

Petikan sajak Taufiq Ismail tersebut, tentu saja masih relevan hingga kini, meski ia tulis tahun 1966. Selain menggelorakan daya juang, sajak itu sekaligus memotivasi untuk meraih hari depan yang lebih baik. Sajak itu selalu dibacakan di berbagai kesempatan, tiap kali peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Penyair Arief Joko Wicaksono, yang juga merupakan dosen Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), menunjukkan sejumlah buku karya Taufiq Ismail, yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

“Taufiq Ismail bukan hanya tonggak sastra nasional, tapi sosok dan karyanya sudah mendunia,” ujar Arief lebih lanjut.

Selain itu, tema-tema yang digarap Taufiq Ismail dalam karyanya, sangat beragam.

“Keragaman tema dalam sajaknya, sangat lengkap. Daya jelajahnya sangat luas, dengan mengusung makna yang komprehensif,” ungkap Arief sembari menunjukkan buku-buku tebal karya Taufiq Ismail.

Jakarta pada 22 Juni 2024 mendatang, akan berusia 497 tahun. Taufiq Ismail pada 25 Juni 2024 nanti, berusia 89 tahun.

Boleh jadi, Taufiq Ismail adalah tokoh penyair kita yang tertua saat ini, yang masih hidup. Lebih dari dua per tiga usianya, ia dedikasikan untuk ranah kepenyairan.

Satu hal yang belum tergantikan hingga kini, adalah majalah sastra Horison. Media sastra yang menjadi acuan perkembangan sastra di Indonesia itu didirikan Taufiq Ismail pada tahun 1966, bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arif Budiman.

Maka, sangatlah patut, pemerintah -dalam hal ini Dinas Kebudayaan- memberikan Anugerah Sastra kepada Taufiq Ismail.

Sebelumnya, pada Sabtu, 24 Juni 2023, Iwan Wardhana selaku Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, memberikan Anugerah Sastra kepada Sutardji Calzoum Bachri.

Komunitas yang menjadi penyelenggara acara tersebut adalah Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI). Komunitas TISI ini pula yang dipercaya oleh Iwan Wardhana untuk menggelar Peringatan Satu Abad Chairil Anwar, pada tahun 2022 lalu.

Peringatan Satu Abad Chairil Anwar tersebut, berlangsung sekitar 6 bulan, sejak 4 Februari 2022 hingga Selasa, 26 Juli 2022. Acara puncak digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Acara Anugerah Sastra untuk Sutardji Calzoum Bachri, berlangsung 5 bulan, digelar sejak Selasa, 31 Januari 2023 hingga Sabtu, 24 Juni 2023. Acara puncak digelar di Teater Kecil, TIM.

Octavianus Masheka dan Komunitas TISI mengharapkan dukungan dari para pihak yang relevan, khususnya dari Keluarga Besar Taufiq Ismail, Iwan Henry Wardhana selaku Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dan Firmansyah, Kepala Dispusip DKI Jakarta.

Persiapan terus dilakukan. Rencana kian dimatangkan.
Salam dari saya Isson Khairul
Persatuan Penulis Indonesia.(**/BRO-2)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan