Spread the love

Lily Siti Multatuliana Penggagas Antologi Puisi Dwibahasa Indonesia-Italia
Sugiono MP

Ide brilian penyair wanita Lily Siti Multatuliana menerbitkan antologi puisi dalam dwibahasa Indonesia-Italia layak mendapat acung jempol.

Selama ini sedikit sekali karya sastra Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa negeri pizza tersebut.

Dengan demikian antologi puisi yang berjudul Antalogia di poesie indonesiane e melesi (con traduzione in lingua italiana) dan dalam bahasa Indonesia Antologi Puisi Bahasa Indonesia/Melayu-Italia ini telah mengisi kesenyapan tersebut dan diharap mengembang ke negara-negara Eropa pada umumnya.

Tidak kurang dari 48 penyair Indonesia dan bangsa serumpun (Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam) serta seorang penyair Italia yang sekaligus penerjemah (Chantal Tropea) mengisi buku format 14,5 x 20,5 cm dengan ketebalan 172 halaman plus xii ini, terbitan TereBooks (Taretan Sedaya International) yang mencantumkan moto “Gerbang Literasi Indonrsia”, 2021.

Nama-nama besar penyair Indonesia dan Malaysia serta Singapura seperti Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, Dato Kemala, Siti Zainon Ismail, Isa Kamari, turut mengihasi buku ini.

Bertugas sebagai editor ada tiga orang yakni Lily Siti Multatuliana (Indonesia), Mohd Rosli Bakir (Malaysia) dan Norazimah Abu Bakar (Malaysia).

Sofyan RH Zaid bertindak sebagai supervisor penerbitan sedangkan pengantar ditulis oleh kritikus sastra Maman S Mahayana. Lily sendiri menyertakan puisinya (p. 37/Italia, p. 122/Indonesia) sebagai berikut.

RUMAH CAPTAIN COOK

Menyusuri mimpi
di Fitzroy yang rimbun
Pohon yang rindang mengagihkan
angin silir semilir

Dengan hamparan saujana
Rerumputan kehijauan

Langkah kuteruskan
Kuhampiri rumah mungil
Kutemui Captain Cook mengenakan seragam angkatan laut
berdiri menyambutku
Dibawanya aku mengitari taman bunga

Bunga-bunga cinta bermekaran
Kau bisikkan kata-kata mesra tentang bunga
Walau begitu tak ada bunga untukku

Kumasuki rumah yang penuh kisah masa lalu
rumah yang awalnya berada di Inggris
dibawa ke Melbourne din tahun tiga puluhan pada abad dua puluh

Kau biarkan aku mengamati masa lalu

Captain Cook Cottage, Melbourne
Agustus 2018

Kiranya bagi pembaca selayaknya mengenal rumah Captain Cook atau Cooks’ Cottage, salah satu destinasi wisata di Fitzroy Gardens, Melbourne, Australia.

Pondok ini dibangun pada tahun 1755 di pedesaan Great Ayton, North Yorkshire, Inggris, lalu dibeli oleh seorang pengusaha dan dermawan terkemuka Sir Russell Grimwade seharga £ 800 dan dibawa ke Melbourne pada tahun 1934.

Grimwade menghibahkan rumah itu kepada warga Victoria untuk peringatan seratus tahun pemukiman Melbourne pada Oktober 1934.

Sedangkan James Cook (1728-1779) adalah kapten angkatan laut, navigator, dan penjelajah yang telah mengarungi banyak lautan, di antaranya menyusuri pantai Kanada, ekspedisi laut dari dataran es Antartika hingga Selat Bering, dari pantai Amerika Utara ke Australia dan Selandia Baru.

Ia juga melakukan pemetaan awal secara menyeluruh dan paling akurat untuk garis pantai Selandia Baru dan Samudera Pasifik.
Dengan mengetahui latar historis rumah Captain Cook maka suratan pada baris awal bait pertama ‘menyusuri mimpi’ terjelaskan ulang pada baris terakhir ‘mengamati masa lalu’.

Tak pelak, sang penyair sebagai wisman (wisatawan mancanegara) terpesona oleh keindahan lingkungan di sekitar pondok, pohon yang rimbun rindang, desir semilir angin, hijau rerumputan yang menghampar, taman bunga, (patung) sang kapten yang beruniform angkatan laut, kesemua itu diguritnya dalam diksi yang diafan, jelas dan terang, sehingga mudah dicerna, dipahami.

Ada ungkapan ‘bunga-bunga cinta bermekaran’ di bait keempat yang mewakili realitas keindahan dan ketenang-tenteraman, terantagoniskan pada pernyataan di baris akhir bait tersebut ‘Walau begitu tak ada bunga untukku’.

Paradoksal ekspresi ini bisa jadi mewakili susana perjalanan hidup penyair yang ternyata berbeda dengan suasana hati saat berada di Cooks’ Cottage sekiranya kosakata ‘bunga’ pada baris awal itu identik dengan bunga pada baris akhir.

Akan tetapi bila ungkapan bunga bait pertama tidaklah sama dengan bunga pada baris akhir, maka tafsir paradoks itu tidaklah relevan.
Catatan tambahan dari puisi ini bahwa penyair mencoba untuk memasyarakatkan kosakata bahasa Indonesia baku yang selama ini tidak pernah digunakan dalam perpuisian kita sehingga seolah-olah asing, padahal sejatinya adalah anak kandung perbendaharan bahasa kita.

Yang saya maksud adalah pilihan kata ‘mengagihkan’ (memberikan, membagikan) dan ‘saujana’ (sejauh mata memandang).
Akhirnya selamat atas kehadiran antologi puisi dwibahasa ini. Salam sastra ■
—————-
Sugiono MP (akun fb Sugiono Mpp) biografer, ghost writer, penyair, pencetus Pusai (puisi bonsai), Kordinator Aliansi Klub Sastra Indonesia (AKSI)

Editor   : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan