Kostratani Menggaung di Indramayu, Jumlah Petani Milenial Terus Ditingkatkan

Spread the love

*Regenerasi Dalam Sektor Pertanian adalah Suatu Keniscayaan*

Indramayu, BeritaRayaOnline,-Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi pada audiensi Kostratani di Pendopo Bupati Indramayu (25/08/2020) mengatakan ada 3 faktor pengungkit produktivitas di sektor pertanian.

Yaitu teknologi, peraturan perundangan termasuk Peraturan Daerah yang bisa menjamin luas sawah serta sumberdaya manusia (SDM).

“Dari ketiga faktor tersebut, SDM pertanian memiliki kontribusi paling besar yakni mencapai 50%. Karena, SDM-lah yang mengarahkan teknologi, sarana prasarana, termasuk kebijakan,” ujarnya.

Dijelaskan oleh Prof Dedi, jika jumlah petani di Indonesia sekitar 33, 4 juta orang, dan sekitar 76% adalah pria dan sisanya wanita.

Berdasarkan kelompok umur, mayoritas petani kita berada di usia 45 hingga 54 tahun.

Jumlahnya sekitar 27%, pada rentang usia 55-64 sekitar 21%, dan usia petani di atas 65 tahun sebanyak 13%.

“Jika dijumlahkan jumlah petani usia tua mencapai 61%,” jelasnya.

Sedangkan dari petani dari kelompok milenial sangat sedikit. Pada rentang usia 35-44 tahun, jumlahnya sekitar 24%. Petani usia 25-34 tahun sebanyak 12%, dan sisanya petani berusia di bawah 25 tahun.

Kategori petani milenial adalah yang usianya kurang dari 40 tahun.

“Kondisi ini yang harus menjadi perhatian. Sebab, ada prediksi yang menyebutkan jika 10 tahun yang akan datang kita bisa mengalami krisis jika tidak terjadi regenerasi. Karena, sampai saat ini petani masih didominasi oleh yang berusia tua,” tuturnya.

Di berbagai kesempatan Menteri Pertanian (Mentan) SYL mengatakan sektor pertanian sangat terbuka untuk semua usia.

“Semakin muda semakin kuat, semakin enerjik, semakin kritis, makin apik kerjanya. Anak milenial harus mau diajak melihat teman-temannya yang sukses. Online sistem, startup, digital sistem menjadi jawaban peluang bisnis pertanian,” ujar SYL.

Menurutnya, pertanian dengan semangat baru juga harus diluncurkan. Seperti membangun perilaku baru dan behaviour anak muda untuk mendapatkan pendapatan yang jauh lebih baik dari bidang pertanian.

Hal ini pun “diamini” oleh Plt Bupati Indramayu, Taufik Hidayat yang sangat mendukung regenerasi petani khususnya di wilayah Indramayu.

Hadirnya BPP Kostratani tak hanya bisa membantu meningkatkan produksi dan produktivitas tetapi sekaligus meningkatkan minat generasi milenial untuk menekuni sektor pertanian.

“Kami ingin menciptakan dan terus menanmbah jumlah petani milenial. Kita akan ajak anak-anak muda untuk tetap di Indramayu, bekerja dan berusaha di Indramayu, tetapi dengan penghasilan seperti di kota melalui sektor pertanian,” ungkapnya.

Adalah Jayadi, salah seorang petani milenial yang dimiliki oleh Kabupaten Indramayu. Selain sebagai petani padi berusia 32 tahun ini pun menekuni komoditas hortikultura diantaranya bawang merah dan cabai.

Jayadi menggarap lahan padi seluas 2 hektar dengan rata-rata produksi 6,3 ton per hektarnya.

Ia menanam cabe diluasan 100 bata (1 bata = 14 m) dengan hasil 7 kwintal persekali petik serta bawang merah di lahan seluas 100 bata dengan hasil 4 ton per 100 bata.

Untuk meningkatkan daya jual hasil pertaniannya bawang yg dia tanam diolah menjadi bawang goreng dan Siwang (terasi bawang).

Pernah memilih pergi keluar negeri untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI), Jayadi memutuskan untuk kembali di tempat kelahirannya dan menekuni sektor pertanian sekitar 7 tahunan lalu.

Ia pun terus menambah pengetahuannya tentang budidaya, panen dan paska panen melalui berbagai cara salah satunya adalah mendatangi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lelea yang selama ini telah membinanya.
Abdullah Muklas selaku penyuluh pertanian yang mendampingi Jayadi mengatakan BPP Lelea banyak memiliki petani milenial, salah satunya Jayadi.

Komoditas yang digeluti pun beragam mulai dari tanaman pangan, hortikultura baik budidaya maupun pengolahan.

“Produk olahan bawang goreng produksi Jayadi awalnya masih sangat tradisional dan dikemas seadanya, namun setelah mendapatkan informasi dan pelatihan ia pun memperbaiki dan meningkatkan kualitas produknya. Bahkan kini produknya sudah bisa ditemui di pasaran dengan kemasan yang menarik”, jelas Abdullah.

Sinergitas antara Jayadi selaku petani dan Abdullah selaku penyuluh merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas pertanian.

Didukung dengan keberadaan BPP sebagai pusat simpul koordinasi (posko) pembangunan Pertanian di tingkat Kecamatan menjadi wadah belajar dan berlatih bagi petani untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuannya.

Terlebih BPP Lelea menjadi ‘role model’ KostraTani di kabupaten Indramayu yang didukung digitalisasi dalam menjalankan tugas, peran dan fungsi BPP guna mendukung peningkatan produksi dan produkfitas pertanian.(**/Leli)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan