Prof.Dedi Nursyamsi : KKNI Mendukung Terwujudnya SDM Pertanian Indonesia yang Kompeten, Profesional, dan Berdaya Saing

Serpong,BeritaRayaOnline,-“Momentum ini sangat penting karena selain kita bisa bersilahturahmi, juga sebagai forum untuk mencapai kesepakatan penjenjangan jabatan dan profesi bidang perkebunan kelapa sawit dalam rancangan KKNI yang menjadi prioritas dalam upaya mendukung terwujudnya SDM pertanian Indonesia yang kompeten, profesional dan berdaya saing  khususnya di bidang perkebunan kelapa sawit berkelanjutan,” ujar  Prof.Dedi Nursyamsi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian ketika memberikan kata sambutan pada pembukaan Konsensus Rancangan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Bidang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Hotel Grand Zuri, BSD City pada Senin siang (12/8/2019).KKNI Bidang Perkebunan ini akan berlangsung sampai Selasa (13/8/2019) yang diselenggarakan oleh Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian.

Dikatakannya lagi, sejalan dengan arahan Presiden Jokowi-tahun ini selain infrastruktur-pembangunan juga berorientasi pada peningkatan SDM yang berbasis kompetensi termasuk sektor pertanian.

“Saat ini pembangunan sumberdaya manusia jadi perhatian yang serius karena kita tidak bisa terus menerus mengandalkan sumberdaya alam yang melimpah tanpa tersedianya kualitas SDM yang berkompeten termasuk bidang perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.

Hal ini , lanjutnya, sejalan dengan langkah yang akan ditempuh Kementerian Pertanian untuk meningkatkan keberterimaan internasional atas produk kelapa sawit Indonesia serta mempunyai daya saing sehingga dapat meningkatkan ekspor kelapa sawit dengan tetap mempertahankan keberlanjutan lingkungan.

“Artinya, langkah ini perlu didukung oleh ketersediaan SDM yang kompeten,” jelasnya.

“Untuk menjawab tantangan tersebut ada empat hal yang perlu kita bangun yaitu membangun sistem standardisasi, pendidikan, pelatihan dan sertifikasi,” kata Prof.Dedi Nursyamsi.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian telah me-launching Peta Okupasi sektor pertanian yang disahkan oleh 5 Kementerian/Lembaga yaitu Kementerian Pertanian, Bappenas, Kemenaker, BNSP dan KADIN.

Peta Okupasi Sektor Pertanian terdiri dari 449 jabatan yang meliputi jabatan pengelolaan sumberdaya lahan ( 60 jabatan), agronomi (79 jabatan), perlindungan tanaman ( 33 jabatan) karantina hewan (17 jabatan) karantina tumbuhan ( 21 jabatan), kesehatan hewan ( 60 jabatan,) Kesmavet  ( 9 jabatan), peternakan (59 jabatan),  sarana prasarana pertanian (11jabatan), agroindustri (11 jabatan), mutu dan keamanan pangan ( 36 jabatan,), Pertanian Organik ( 13 jabatan), penyuluh pertanian (3 jabatan ) dan agribisnis ( 29 kabatan.).

Peta okupasi merupakan salah satu upaya untuk mempercepat penyelesaian Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sebagai acuan lembaga pendidikan, pelatihan dan sertifikasi dalam mendukung kualitas lulusan pendidikan atau pelatihan yang menghasilkan SDM kompeten dan berdaya saing sesuai dengan permintaan Dunia usaha/ Dunia Industri (Du/Di).

“Penerapan SKKNI disusun dalam kemasan kualifikasi nasional dan okupasi atau jabatan nasional dalam KKNI untuk mendukung jenjang karir seseorang,” ucapnya.

Peta jabatan dalam KKNI mendorong terciptanya link and match antara dunia pendidikan, pelatihan dan lembaga sertifikasi dengan Dunia usaha/ Dunia industri (Du/Di).

Terkait dengan sistem standarisasi kompetensi SDM Pertanian, Kementerian Pertanian sebagai pembina teknis, telah menghasilkan 41 SKKNI dan 10 KKNI sektor pertanian dalam kurun waktu 7 tahun.

Menurut Prof.Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian ,sebelum penyusunan KKNI ini, telah disusun SKKNI perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang merupakan usulan dan penggabungan dari kajiulang dari SKKNI yang telah ada sebelumnya.

SKKNI bidang perkebunan kelapa sawit yang telah tersusun sebelumnya adalah standar kompetensi untuk profesi manajerial, sedangkan kebutuhan Du/Di saat ini selain standar kompetensi profesi manjerial juga dibutuhkan standar kompetensi profesi teknis/budidaya.

SKKNI bidang perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang telah disusun meliputi kompetensi profesi manajerial dan teknis/budidaya.

Dalam penyusunan SKKNI yang telah dilaksanakan pada April – Juni 2019 telah dihasilkan Rancangan SKKNI bidang perkebunan kelapa dawit nerkelanjutan yang terdiri dari 91 unit kompetensi yang merupakan unit-unit penyusun jabatan bidang perkebunan kelapa dawit dalam KKNI.

Rancangan SKKNI ini telah diajukan kepada Kementerian Ketenagakerjaan untuk ditetapkan.

Sampai saat ini, Proses penetapan SKKNI ini telah sampai di Sekjen Kemenaker.
Setelah tersusunnya SKKNI dengan berproses penentapan oleh Kemenaker, selanjutnya disusunnlah kerangka kualifikasi jabatan yang dibutuhkan oleh Du/Di dalam KKNI.KKNI yang telah ditetapkan nantinya sebagai bahan dalam penyusunan kurikulum pendidikan dan pelatihan oleh lembaga pendidikan dan pelatihan serta skema sertififikasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) kompetensi SDM sektor pertanian.

Sampai saat ini tenaga kerja sektor pertanian 38,7 juta jiwa dan sekitar 7,95 juta atau 24 % pada bidang perkebunan diantaranya perkebunan kelapa sawit. Tenaga kerja bidang perkebunan yang telah disertifikasi sekitar 0,04%. Tenaga kerja sektor pertanian termasuk bidang perkebunan kelapa sawit kompetensi manajerial.

Berdasarkan data diatas, penyusunan SKKNI dan KKNI perkebunan kelapa sawit berkelanjutan ini sangatlah tepat dan mendukung terwujudnya SDM yang kompeten dalam bidang perkebunan kelapa sawit.

Dimana jabatan KKNI yang tersusun dapat langsung diaplikasikan baik dalam pendidikan, pelatihan, maupun sertifikasi kompetensi SDM.

“Saya berharap pada Konsensus ini, bisa disapakati hasil Rancangan KKNI Bidang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan, yang selanjutnya akan diajukan kepada Menteri Pertanian untuk ditetapkan. KKNI yang telah tersusun, sebagai dasar penyusunan kurikulum pendidikan/ pelatihan dan materi uji kompetensi sertifikasi kompetensi. Sehingga menciptakan link and match antara dunia pendidikan, pelatihan dan lembaga sertifikasi dengan Dunia usaha/ Dunia industri (Du/Di),” pungkas Prof.Dedi Nursyamsi mengakhiri kata sambutannya. (**/Bro-2)

Editor : Lasman Simanjuntak

 

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan