
Dalam keputusan itu terungkap ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, sepakat 1 Ramadan jatuh pada hari Senin 6 Juni 2016.
Penetapan awal puasa ini diputuskan dalam sidang Isbat di kantor Kementerian Agama, Minggu petang (5/06/2016), yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
Menteri Agama Lukman Hakim mengungkapkan keputusan pemerintah tentang hari pertama Ramadan ini menggunakan dua metode yang digunakan NU dan Muhammadiyah yaitu metode hisab dan rukyat.
“Kedua metode ini digunakan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain,” kata Lukman Hakim dalam jumpa pers setelah sidang Isbat.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, MUI, Ma’ruf Amin mengatakan dirinya bersyukur bahwa tidak ada perbedaan antara NU dan Muhammadiyah dalam menentukan hari pertama Ramadan.
“Mudah-mudahan lebarannya bareng juga. Karena kita tidak disibukkan hiruk-pikuk perbedaan. Mudah-mudahan ini bisa dipelihara terus,” kata Ma’ruf Amin, dalam jumpa pers bersama Menteri agama.
Sebagian umat Islam lainnya, utamanya NU, berpendapat untuk menentukan awal bulan – diantaranya Ramadan dan Syawal – harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung
Kedua pendekatan ini selalu mengklaim memiliki dasar yang kuat, dan beberapa kali terjadi perbedaan dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal. Tetapi keduanya tidak berbeda dalam penentuan Ramadan tahun 2015 lalu.
“Bahwa banyak di antara banyak sesama warga bangsa, yang menjalani puasa, tapi juga ada sebagian saudara-saudara kita yang karena keyakinannya, atau karena satu dan lain hal, tidak menjalani puasa,” ungkapnya.
Dengan bertoleransi dan saling menghormati, lanjutnya, kesucian bulan Ramadan bisa dijaga.
Lebih lanjut dia menghimbau, pengusaha tempat hiburan, pengelola media massa, serta pengguna sosial media agar “produknya bisa dibuat sedemikian rupa yang kondusif” selama Ramadan.(***/bbcindonesia.com/5/6/2016/lasman)
Editor : Pulo Lasman Simanjuntak