Kementan Latih Penyuluh Pertanian Negara Asean

Yogjakarta,BeritaRayaOnline,-Kementerian Pertanian melatih 47 orang penyuluh pertanian dari negara-negara Asean yang dilakukan melalui Workshop on the Role of Agricultural Extension in Strengthening Agricultural Innovation System.

Pelatihan ini sebagai tindak lanjut komitmen dalam sidang ASEAN Working Group Agriculture Training and Extension (AWGATE). Workshop yang dilaksanakan selama lima hari, tanggal 23 September – 27 September 2019 di Hotel Melia Yogyakarta ini untuk mewadahi 47 peserta yang terdiri dari para penyuluh pertanian dari 9 negara ASEAN sebagai change agents profesional dari anggota negara – negara berkembang.

Sekretaris Badan PPSDMP, Siti Munifah yang hadir untuk membuka acara ini menyampaikan di era industri 4.0, penyuluhan pertanian di negara-negara anggota ASEAN harus mampu memainkan peranan penting dalam pembangunan pertanian.

“Penyuluh Pertanian saat ini tidak hanya memberikan penyuluhan mengenai inovasi baru hasil penelitian tentang sistem budidaya pertanian, namun, bagaimana menjadi penggerak dan pendamping untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan kemampuan produksi yang berdaya saing melalui penumbuhan dan pembangunan koorporasi yang di dalamnya terfasilitasi manajemen pemanfaatan infrastruktur pertanian secara baik dan berkelanjutan.Menjembatani ke sumber pembiayaan dan permodalan, serta akses pasar dan akses pada layanan asuransi pertanian,”ujar Siti Munifah.

Lebih lanjut ditegaskan Siti Munifah dalam arahannya, adanya workshop ini ditujukan untuk meningkatkan layanan penyuluhan yang diberikan kepada petani berorientasi pada pengetahuan dan keterampilan agribisnis untuk pendapatan dan kesejahteraan yang lebih baik dengan memiliki karakteristik yang inovatif, pengenalan dan pemanfaatan ICT kepada petani serta organisasi petani yang mampu mendekatkan dan menggerakkan kebutuhan pasar.

“Di masa yang akan datang, daya saing semakin tinggi, di pasar global membutuhkan upaya inovasi tinggi dalam layanan penyuluhan pertanian, sehingga organisasi petani perlu dihubungkan dengan berbagai entitas agribisnis dari hulu ke hilir, dan kapasitas penyuluh juga harus ditingkatkan, termasuk transformasi dari alih teknologi ke perantara pengetahuan yang menghubungkan petani dengan berbagai pelaku agribisnis,” tegasnya.

Di era revolusi industri 4.0, penyuluhan pertanian telah diperkenalkan di kawasan ASEAN melalui kisah sukses dan dampak positif pada peningkatan pemberian dan layanan penyuluhan.

Dan dalam Workshop ini akan disuguhkan pelajaran atau pengalaman antar negara ASEAN dalam keberhasilan dan kegagalan sistem penyuluhan pertanian dan pengembangan mekanisme dan implementasi sistem inovasi pertanian dan menghasilkan model pengembangan regenerasi petani sebagai agrientrepreneurs.

Dalam akhir arahannya, Siti Munifah berpesan workshop ini juga sebagai sarana untuk menyusun program dan rencana membangun kerjasama terkait pendekatan ataupun strategi pada isu-isu terkait transformasi penyuluhan di negara masing-masing ataupun di daerah wilayah kerja penyuluh pertanian dari Indonesia yang mewakili pertemuan ini.

Selain itu sekaligus juga bertujuan untuk berbagi pengalaman di antara negara anggota ASEAN tentang sistem penyuluhan pertanian dan sistem inovasi pertanian, sehingga nantinya setelah mengikuti workshop ini peserta mendapatkan pelajaran yang dipetik untuk transformasi penyuluhan pertanian di Indonesia.

“Jadi jangan disia-siakan seluruh ilmu dan pembelajaran yang disampaikan,” selanya.

Workshop ini menghadirkan narasumber yang berasal dari praktisi dan Duta ASIA Youth Entrepreneurship, akademisi, lesson learn dari Better Rice Initiative Asia (BRIA) dan korporasi JEJAMURAN.(**/Cha)

Editor : Lasman Simanjuntak

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan