Kemenko PMK Tekankan Kerjasama Lintas Sektoral untuk Tangani Gizi Buruk Balita

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Penanganan gizi buruk pada balita (stunting) membutuhkan sosialisasi dan edukasi yang dilakasanakan secara lintas sektoral. Selain itu, kementerian dan Lembaga juga perlu melakukan penguatan dan penajaman program penanganan stunting sehingga dapat menjangkau masyarakat secara luas.

“K/L yang memiliki tenaga lapangan seperti pendamping PKH, Penyuluh BKKBN, Pendamping Desa dan lainnya juga harus dapat ikut memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat berkaitan dengan perilaku hidup sehat” jelas Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak dan Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK, Meida Octarina Senin (12/12).

Secara khusus, terdapat dua program utama yang telah dilaksanakan pemerintah untuk dapat terus menekan prevalensi stunting di Indonesia. Program pertama adalah Program Sensitif yang dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai kementerian dan lemabaga. Beberapa contoh dari program sensitive ini adalah perbaikan gizi yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan BKKBN, peningkatan aksesibilitas pangan yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Perdagangan. Program sensitive yang dilaksankan lintas kementerian berkontribusi terhadap 70 persen penyelesaian kasus stunting di Indonesia.

Kedua adalah program spesifik yang secara khusus menyasar para ibu hamil. Namun demikian, program spesifik ini hanya bersifat melengkapi dan berkontribusi sebesar 30 persen terhadap penyelesaian kasus stunting di Indonesia.
Selain dua program di atas, Pemerintah juga melakukan langkah intervensi melalui bantuan sosial yang berupan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Beras Sejahtera. Melalui program intervensi ini, prevalensi stunting di Indonesia dapat ditekan oleh pemerintah hingga mencapai 27,5 persen di tahun 2016.(***)

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan