Kemenko PMK : Ini Kesiapan RSPI Sulianti Saroso untuk Tangani Pasien Difteri

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Keseriusan pemerintah dalam melakukan penanganan dan pencegahan penyakit difteri ini dilakukan dengan terus berupaya mempersiapkan kesiapan sejumlah fasilitas rumah sakit agar penyakit difteri ini bisa segera diatasi.
“Saat ini sebagian besar rumah sakit di sejumlah kabupaten kota sudah siap untuk mengobati. Khususnya di wilayah DKI, kita sudah memiliki Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Sunter yang akan siap menjadi rujukan nasional bagi penderita difteri,” ucap Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, dr. Sigit Priohutomo saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta Senin (11/12) lalu.
Kesiapan RSPI Sulianti Saroso di Jalan Sunter Permai Raya, Jakarta Utara ini juga sudah dipastikan oleh Menteri Kesehatan, Nila Moeloek saat datang ke RS tersebut. “Sampai saat ini kami akan terus mengikuti perkembangan pasien di RSPI ini. Jika pasiennya bertambah, kami akan menambah ruang isolasi lagi,” jelas Rita berdasarkan keterangan yang dikutip dari detik.com.
Disisi lain, Sigit juga menjelaskan Kemenko PMK dalam hal ini akan mengambil langkah-langkah khusus untuk mencegah penyakit difteri ini meluas. Khususnya melakukan langkah koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan K/L terkait. “Langkah selanjutnya yang akan kita lakukan adalah melakukan imunisasi massal di tiga provinsi terlebih dahulu,” ucap Sigit.
Sebagai pengawal kesehatan di Kemenko PMK, Sigit menjelaskan bahwa untuk menangani hal ini pemerintah telah menetapkan kebijakan dengan melakukan Outbreak Renponse Imunisasion (ORI) atau imunisasi ulang secara masal bagi anak di bawah satu tahun, kemudian diperkuat dan diberikan pada anak umur 18 bulan, lalu pada murid kelas 2, dilanjutkan pada anak murid kelas 5.
Sigit menyampaikan bahwa risiko penyakit difteri ini sangat besar karena kalau sudah kena akan sulit untuk diobati. Oleh karena itu, iya mengharapkan masyarakat jangan ragu-ragu untuk melakukan imunisasi. “Ini dilakukan agar tidak muncul lagi kasus-kasus baru. Karena kasus semacam ini akan membuat berantai lagi pada kasus-kasus lainnya,” terang Sigit.(***)

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan