Jurnalis FJPP Ikut Lawan Pandemi Covid-19, Inilah Hasil Pengalaman Liputannya

Spread the love

Jakarta,BeritaRayaOnline, Pada musim pandemi Covid-19 yang masih berkepanjangan ini, kita semua harus sehat.Sehat berasal dari hati kita yang bersih, tulus, dan hati yang iklas.

Itulah salah satu lead berita yang pernah saya tulis dengan penuh semangat -bahkan sangat menyukakan hati-ketika sudah terlibat langsung sebagai seorang jurnalis yang terpilih sebagai peserta Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku (FJPP) www.ubahlaku.id sejak  pertengahan Oktober 2020 sampai Selasa, 12 Januari 2021.

Dalam beberapa liputan sekaligus sebagai agen perubahan perilaku gelombang pertama ini, saya selalu mencatat dengan baik-baik dari setiap nara sumber .

Khususnya yang berbicara seputar Protokol Kesehatan (Prokes) melalui 3 M, bahkan juga sampai kepada Pola Hidup Sehat (New Start) agar imun tubuh tetap kuat dan sehat melawan virus Covid-19 ini.

Misalnya, melanjutkan lead berita di atas tadi soal sehat juga berasal dari imunitas kita.Sebab, saat ini satu-satunya yang mampu melawan virus Covid-19 adalah imunitas.

“Oleh karena itu kita harus senantiasa tingkatkan imunitas kita, diawali dengan hati yang bersih, tulus, dan hati yang iklas,” ujar Prof.Dr.Ir.Dedi Nursyamsi,  Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), pada suatu acara virtual (zoom), baru-baru ini.

“Imunitas juga berasal dari pangan yang kita konsumsi.Tak perlu mewah-mewah, yang penting mencukupi gizinya.Bahkan yang paling utama bagi konsumsi kita adalah pangan lokal.Pangan lokal membuat kita sehat.Pangan lokal membuat imunitas kita meningkat.Pangan lokal akan membuat petani kita tersenyum ,”ujarnya.

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama virus corona masih menjadi masalah global yang memporak-porandakan kehidupan sosial di planet Bumi.

Sampai hari ini, virus yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019 tersebut terus menebar ketakutan di sekeliling kita.

Infeksi virus Corona yang populer disebut Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) seakan bola salju yang terus menggelinding deras menghantam siapa saja yang ada di depannya.

Para dokter, farmakolog, dan ilmuwan di seluruh dunia masih terus memeras pengetahuan dan keahlian mereka agar bisa menemukan obat yang mujarab untuk menangani Covid-19.

Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Prof.Dr.Ir.Dedi Nursyamsi, obat ampuh menangkis serangan covid-19 tak lain, dan tak bukan adalah pangan lokal.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini, kata dia, hal yang paling utama adalah sehat. Kesehatan diri berasal dari sikap hati yang bersih, hati yang tulus, hati yang ikhlas, dan kedigdayaan imunitas tubuh.

“Saat ini, satu-satunya yang mampu melawan Covid-19 adalah imunitas,” kata Dedi saat

Prof.Dr.Ir.Dedi Nursyamsi meyakini, mengkonsumsi pangan lokal membuat setiap orang terjaga kesehatannya lantaran membuat imunitas tubuh meningkat.

“Selain menjaga imunitas tubuh, sikap kehati-hatian perlu terus dilakukan. Setiap orang harus selalu waspada akan keberadaan virus yang tak terlihat secara kasat mata tersebut. Semua orang perlu disiplin dan patuh terhadap protokol pencegahan Covid-19.Pertama jaga jarak, hindari kerumunan. Kemudian yang kedua kita harus senantiasa cuci tangan pakai sabun dan yang ketiga jangan lupa pakai masker,” kata Dedi.

Breefing pemantapan FJPP hasil kerjasama Dewan Pers dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 ini, juga saya wajib mengikuti rapat secara virtual (zoom) tersebut.

Hal ini secara tidak langsung juga dapat meningkatkan pengetahuan dan bahan tulisan untuk bisa dipublish di tempat saya bekerja sebagai wartawan (beritarayaonline.co.id) dan Ubahlaku.id

Misalnya, sebagai salah satu peserta acara breefing dan pemantapan program Fellowship Jurnalisme Perubahan Prilaku (FJPP) Ubahlaku.id kerjasama Dewan Pers dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang pernah saya ikuti  secara virtual pada Rabu siang (24/11/2020) lalu.

Bertindak sebagai moderator Mohammad Nasir, sedangkan breefing dan pemantapan program FJPP disampaikan langsung oleh Agus Sudibyo (Dewan Pers) bersama Didit A Hendra.

“Tema dan topik utama tulisan para jurnalis harus tetap berfokus pada perubahan prilaku protokol kesehatan melalui 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan.Apakah protokol kesehatan sudah dilakukan belum?” tanya Agus Sudibyo.

Dikatakannya lagi, sebagai jurnalis dalam mengangkat tulisan harus ikut mengawasi, kampanye, evaluasi, dan apakah ada kelemahan-kelemahan dalam terapkan protokol kesehatan 3 M dan 3 W guna memutus mata rantai penularan Covid-19.

“Coba liput apakah di kantor Pemda dan Pemko, rumah sakit, atau kantor kepolisian, misalnya, apakah masih ada orang berkerumun tanpa memakai masker?Tulis aja, asalkan tetap mematuhi UU Pers No.40 tahun 1999 dan koridor Kode Etik Jurnalistik (KEJ),” pesannya.

“Bisa juga wawancara dengan para dokter, perawat, penggali kubur untuk jenazah Covid-19, dan komunitas lainnya.Jurnalis juga bisa mengawasi protokol kesehatan di ruang publik seperti stasiun bus, stasiun kereta api, stasiun MRT, tempat ibadah, pabrik, kantor pemerintah, kantor pos, dan sebagainya,” katanya lagi.

Jadi, lanjutnya, tugas jurnalis mengawasi apakah protokol kesehatan sudah dilaksanakan secara konsisten.

Bahkan khusus untuk tulisan features (artikel atau karangan khas) bisa wawancara profile warga masyarakat yang pernah terpapar atau terinfeksi virus corona, dan berhasil sembuh melalui isolasi mandiri.

“Bisa juga wawancara walikota, bupati, camat, lurah, dan kepala desa, yang telah berhasil menerapkan protokol kesehatan melalui 3 M di daerahnya masing-masing.Juga bisa wawancara para tenaga medis yang menjadi teladan karena berhasil.menerapkan protokol kesehatan melalui 3 M,” jelas Agus Sudibyo.

Tulisan para jurnalis-baik berita pendek maupun berita panjang- bisa juga mengangkat masih adanya stigma serta diskriminasi yang pernah dialami para penderita Covid-19.

Begitu pula, para tenaga medis yang bekerja di rumah sakit menangani pasien virus corona, punya pengalaman “pahit” harus diusir dari tempat kost-nya atau juga dari lingkungan tempat tinggalnya.

Para ibu rumah tangga yang punya pengalaman harus mengurus anaknya dengan kesibukan sekolah ‘daring’, harus masak, dan harus bekerja, lalu terpapar virus ini.

“Bisa juga wawancara para petani yang ketika memasarkan produk hasil pertaniannya harus menerapkan protokol kesehatan melalui 3 M,” kilahnya.

Danpak ekonomi akibat krisis berkepanjangan dari pandemi virus corona ini, bisa juga diangkat oleh para jurnalis.

Namun, yang diangkat harus menyangkut langsung masyarakat kecil yang kehidupan ekonominya makin sulit karena dampak.pandemi ini.

“Rakyat kecil makin sulit mencari uang karena dampak pandemi Covid-19.Jadi, bukan liputan di bursa saham, misalnya,” ucapnya.

Makanan sehat terhadap kearifan lokal agar imun tubuh.makin kuat dan sehat, ini.juga bisa ditulis.

“Misalnya dapat diekspose makanan sehat yang tak mengandung gula tinggi.Karena penyakit gula atau diabetes serta penyakit jantung, juga rawan terdapat serangan virus ini,” kata Agus Sudibyo.

Juga asupan makanan yang sehat dan bergizi untuk lawan Covid-19, semisal umbi-umbian, kacang-kacangan, jahe merah, jahe putih, temulawak, beras merah,dan masih banyak lagi.

Bisa juga ditulis kluster baru keluarga yang terpapar Covid-19, atau pegawai satu kantor terinfeksi virus corona.

Begitu juga kawasan destinasi wisata atau UKM yang bisa bertahan, meskipun terdampak pandemi yang berkepanjangan ini.

Pada kesempatan itu baik Agus Sudibyo, Didit A Hendra, maupun Mohammad Nasir, sempat menjawab sejumlah pertanyaan dari peserta FJPP.

Terutama seputar tema dan topik tulisan, alasan tulisan dan artikel yang ditolak oleh editor karena menyimpang atau melenceng jauh tema dan topik, serta setiap tulisan yang dibaca oleh tim editor.

“Tema tetap terfokus pada protokol kesehatan melalui 3 M dan menghindari kerumunan.Bila tak ada email, berarti tulisan diterima.Namun, bila terima email dari admin, tulisan ditolak atau direject atau mungkin tulisan dikembalikan dan harus diperbaiki.Jadi, kalau tak terima email, tulisan para jurnalis tak ada masalah,” ujarnya.

Pada kesempatan itu juga banyak ditanyakan mengenai honor tulisan yang belum diterima para jurnalis.

Salah mencantumkan nomor rekening bank, atau nama di rekening bank tak sesuai dengan nama yang tercantum di KTP, dan juga rekening bank sudah mati atau diblokir.

Diingatkan juga cara publish berita dan artikel pada CMS jurnalis, terutama harus memperhatikan login.

“Khusus berita mengutip press release harus diolah lagi.Rilis, jangan langsung dimuat, harus diolah lagi.Rilis tolong dimasak lagi, karena kalau tidak demikian bisa jadi advetorial,” pungkasnya.

Insan Pers Jadi Garda Terdepan Menginformasikan Program Vaksinasi

Selain memberi informasi perubahan perilaku, insan pers juga dapat menjadi garda terdepan dalam menginformasikan program vaksinasi kepada masyarakat luas mengenai vaksin Covid-19 ini.

Demikian permintaan dari Wakil Presiden RI Prof.Kh.Ma’ruf Amin ketika memberikan pembekalan kepada peserta Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku (FJPP) secara virtual (daring) di Jakarta, Senin siang (14/11/2020).

“Insan pers juga perlu menyertakan data dukung dan penjelasan ilmiah dari para pakar, sehingga mampu menumbuhkan kesadaran dan keyakinan maayarakat akan manfaat vaksin covid-19 ini,” katanya.

“Secara khusus saya juga minta dukungan para insan pers untuk turut mendukung kelancaran desiminasi imformasi vaksin yang telah kita nantikan bersama.Dengan terus menyemarakkan semangat tagar vaksinasi untuk negeri atau #vaksinasiuntuknegeri melalui pemberitaan yang sesuai,” katanya lagi.

Wakil Presiden RI Prof.Kh.Ma’ruf Amin pada kesempatan tersebut sangat mengapresiasi dan memberikan nilai positif akan langkah kolaboratif yang diinisiasi Dewan Pers dan Satgas Covid-19.

“Insan pers memiliki peran sentral sebagai salah satu kunci sukses penanganan pandemi covid-19 bersama pemerintah, masyarakat, akademisi dan dunia usaha,” ujarnya.

Kegiatan FJPP kali ini, lanjut Wapres, untuk meningkatkan gotong royong antara elemen bangsa untuk menghadapi dampak pandemi covid-19 yang multidimensional ini.

Menurut Wapres, beberapa ahli menyebut situasi covid-19 sebagai salah satu “Angsa Hitam” yaitu peristiwa langkah yang berdampak besar dan sulit diprediksi di luar perkiraan biasa serta menimbulkan berbagai ketidakpastian.

“Pandemi covid-19 merupakan peristiwa yang belum pernah kita lalui sebelumnya.Informasi kredibel dan terpercaya semakin dibutuhkan untuk menjamin arus informasi yang bebas dari penyalahgunaan informasi seperti mis-comunication atau dis-informasi.Saya percaya peran peserta FJPP jadi garda terdepan untuk menciptakan pemberitaan yang menjunjung tinggi etika jurnalistik, dan pada akhirnya mampu melakukan perubahan perilaku masyarakat demi mencegah penularan virus covid-19,” ucapnya.

Wapres mengatakan lagi kami menyadari agar akhir dari pandemi covid-19 segera terwujud,maka dibutuhkan upaya perubahan perilaku secara berkelanjutan.”Saya setuju kerjasama ini dilanjutkan,” selanya.

Prof.Kh.Ma’ruf Amin berpesan lagi kepada peserta FJPP agar perilaku hidup bersih dan sehat ini diterapkan bukan hanya sementara waktu sampai pemberian vaksinasi .

“Perilaku hidup bersih dan sehat ini hendaknya bisa menjadi budaya dan gaya hidup baru masyarakat Indonesia.Di sinilah peran penting dari insan pers, terutama melalui pemberitaan yang edukatif, informatif, dan akurat serta komprehensif dalam menggambarkan fenomena pandemi covid-19 dan berbagai dampaknya, sehingga masyarakat makin memahami cara-cara melindungi diri dari pandemi ini baik di keluarga, dan lingkungan secara tepat,” pungkasnya.

Wawancara dengan Pasien Covid-19 dan Rapid Test

Sebelum menutup tulisan (karangan khas/artikel) ini, saya sebagai salah satu jurnalis FJPP www.ubahlaku.id kerjasama Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 juga akan sedikit menceritakan pengalaman lain.

Sejak terlibat sebagai jurnalis FJPP kadang memang saya harus melalui hal-hal “berbahaya” dan “sensitif” terhadap bahaya penularan dan terinfeksi virus Covid-19.

Misalnya, harus memotret dan membuat video dari jarak dekat ,ketika terjun langsung dalam liputan kepada pasien terkonfirmasi  virus Covid-19 di Puskesmas Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Begitu juga di lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang Selatan, dimana harus melalui samping ruang IGD dan ruang isolasi pasien Covid-19.

Namun, untuk wawancara langsung dengan pasien Covid-19 (OTG) yang sedang dirawat di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, saya tak “berani”kontak fisik langsung dengan mereka yang telah terinfeksi virus corona.

Wawancara terpaksa menpergunakan alat komunikasi  atau via telepon-kadang harus direkam-begitu pula dengan mantan pasien Covid-19 yang telah sembuh.

Dan, selama bertugas- nyaris hampir tiga bulan ini-saya betul-betul harus terapkan protokol kesehatan melalui 3 M.

Bahkan sering “menegur” langsung- dengan sopan tentu saja- kepada nara sumber yang hendak saya wawancarai bila tak mempergunakan masker.

Puji Tuhan, sampai tulisan ini dibuat, saya tetap dalam kondisi sehat-sehat saja.Dan, baru-baru ini saya sudah melakukan rapid test dengan hasil non reaktif (negatif virus-red).(*)

Penulis Karangan Khas : Lasman Simanjuntak

Selasa, 12 Januari 2021

 

Tinggalkan Balasan