Investor Jepang Tertarik Bisnis Limbah dan Gulma Indonesia

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menerima kunjungan calon investor Jepang yang ingin mengembangkan produk biomassa dan produk pertanian Indonesia dengan menggunakan teknologi modern.

“Kita sangat senang mendengar paparan dan rencana mereka dalam mengembangkan teknologi ndustri yang ramah lingkungan,” kata Atase Pertanian Indonesia Nuryanti, Senin (25/3/2019).

Menurut dia, sejauh ini penerapan itu masih menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan. Terlebih industri tapioka yang banyak mengandung limbah dan menimbulkan polusi udara serta air.

“Nah, dengan investasi mereka kita harapakan tidak ada lagi limbah yang tersisa karena digunakan menjadi bahan baku bioethanol. Apalahi teknologi mereka sudah modern, sehingga ongkos produksi bioethanol akan lebih murah dibanding teknologi konvensional yang ada,” katanya.

Sementara itu dalam paparannya, dua petinggi perusahaan Chemical Business Global Kao Corporation yang diwakili Hiroshi Hashimoto dan Takehiro Tsutsumi menyampaikan bahwa hasil riset mereka sejauh ini terbukti mampu menghasilkan enzim serta dapat mengubah onggok ubi kayu menjadi biofuel.

“Teknologi ini yang kami tawarkan untuk diterapkan di Indonesia. Terlebih pemanfaatan onggok ubikayu untuk industri di Indonesia belum maksimal. Padahal teknologi ini memiliki nilai tambah yang tinggi,” kata Hiroshi.

Menurut dia, perusahaan Chemical sangat tertarik menggandeng mitra sebagai pemasok bahan baku biofuel. Nantinya, pola penerapan itu dilakukan dengan cara menghubungkan industri hilir yang telah siap menjadi mitra pengolah biofuel yang dihasilkan.

“Terus terang, sejauh ini kami kesulitan meyakinkan calon mitra kami untuk bergabung mengolah onggok ini menjadi biofuel. Selama ini mereka jual onggok ke pabrik pakan ternak. Kami tahu investasi ini tergolong baru dan mahal. Tapi, Indonesia akan menjadi lokasi pertama investasi biochemical industry kami. Kami ingin anda meyakinkan mereka untuk menerima kami sebagai mitranya,” terangnya.

Senada dengan Hiroshi, Takehiro Tsutsumi mengaku setuju dengan ide dan gagasan kedua belah pihak ingin mengembangkan teknologi ini. Sebab, kata dia, biofuel adalah bahan baku bio polyetilen (green plastic) yang memiliki kinerja ramah lingkungan.

“Sejauh ini di dunia sampah plastik menjadi masalah karena menimbulkan polusi di tanah maupun perairan. Tapi, jika mereka setuju, kami telah siap mengolahnya,” katanya.

Takehiro menegaskan, investasi ini secara keseluruhan bukan hanya bermotif ekonomi, namun juga didorong oleh kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Adapun perusahaan yang terlibat dalam investasi ini adalah Purchasing Manager yang bergerak di bidang wewangian dari Tanaman Herbal dan Gulma Kazuma Tabata, perusahaan produsen aneka aroma (flavor) dan wewangian (fragrance) terbesar ketiga di Jepang dengan nilai total asset sebesar ¥341 juta pada tahun 2019, Ogawa Co Ltd.

Menurut Takehiro, Ogawa Co Ltd mempunyai anak perusahaan di Indonesia bernama PT Ogawa Indonesia yang berdiri pada tahun 1995 dan berlokasi di Karawang. Produk yang diproduksi di Indonesia merupakan bahan baku wewangian yang memperoleh Halal Assurance System (HAS) untuk produk flavors, flavor powders, emulsion flavors, extracts, dan fragrances.

“Selain itu PT Ogawa Indonesia juga mengolah produk Kosher (halal) yang lain untuk dipasarkan ke negara-negara di kawasan ASEAN khususnya dan Asia pada umumnya,” katanya.

Secara garis besar, kata Takehiro, Ogawa Co Ltd bermaksud menjalin kerjasama dengan petani di Indonesia untuk membudidayakan 40 tanaman herbal yang akan diambil kulit atau bunganya guna diekstrak menjadi minyak atsiri sebagai bahan baku wewangian di PT Ogawa Indonesia.

Jenis tanaman yang akam ditanam antara lain Thai lime (jeruk nipis), teratai, cengkeh, jinten, jintan, pandan, lada hitam, vetiver, kakao, nilam, serai, davana, kapulaga, ketumbar, Marigold, kenikir, Raspberry (frambos), lavender, mawar, geranium, mint, eceng gondok, sage, rosemary, jeruk nipis besar, hyssop, gaharu, melaleuca alternifolia, kamomil, ylang ylang, jahe, neroli (jeruk), juniper berry, serai wangi, kemangi, galbanum, dan fenugreek.

“Kami mohon dibantu dihubungkan dengan petani di Indonesia. Bibit dan varietas yang digunakan sepenuhnya kami serahkan kepada petani anda. Tapi jika tidak memungkinkan menanam, kami juga bisa membeli produk yang sudah ada. Misalnya jeruk nipis dan kami hanya perlu kulitnya untuk kami ekstrak,” katanya.

Mendengar seluruh paparan mereka, Atase Pertanian Indonesia Nuryant kembali menjelaskan bahwa jenis tanaman yang diperlukan mereka, sebagian besar adalah tanaman biofarmaka atau herbal yang termasuk hortikultura. Sebagian lagi jenis tanaman penyegar termasuk perkebunan.

“Untuk jenis biofarmaka kami ada Kontak Bisnis Hortikultura Indonesia (KBHI). Mereka siap bekerja sama dengan mereka. Kami perlu rincian kapasitas produksi, opsi plasma produsen atau pemasok, harga pembelian, dan juga kontrak kerjasama antara pihak Ogawa dan calon mitra,” jawab Nuryanti mengakhiri.(*/Rilis Kementan)

Editor : Lasman Simanjuntak

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan