Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,-

IDE GILA RG. AGUS WARSONO
Catatan Nanang R. Supriyatin

Ide maupun gagasan dapat lahir dari dan dimana saja, tak terkecuali bagi seorang penulis puisi, cerita pendek, novel, esai maupun mereka yang sekadar menulis reportase.

Seiring perjalanan waktu, akan kita temui para kreator, entah mereka itu penyair yang menemukan diksi-diksi cemerlang maupun metafora yang berbeda dari penyair lainnya — termasuk di sini tifografi, enjabemen dan sebagainya.

Akal yang diberikan Sang Khalik kepada manusia tidak serta merta membuat manusia memiliki kesamaan talenta serta intelektualitas.

Salah satu yang membedakannya ialah pendidikan, alam di sekitarnya maupun pergaulannya.

Sebagai contoh kita tak mungkin membandingkan proses kreatif seorang Sutardji Calsoum Bachri dengan seorang Gunawan Muhamad.

Menemukan persamaan gaya bahasa Pramudya Ananta Toer dengan Eka Kurniawan, pun membutuhkan suatu penelitian dan bacaan secara seksama.

Dan, setelah mengamati beberapa gagasan serta ide tulisan para sahabat sastra; saya coba memahami ‘kegilaan’ yang kemudian membawa perubahan (mainset) terhadap orang lain.

Corona

Salah satu penulis yang ingin saya bicarakan ialah Rg. Agus Warsono. Nama ini melekat di kepala saya, mungkin sekitar akhir tahun 2019-an.

Ketika itu yang bersangkutan menawarkan sebuah gagasan penerbitan buku puisi bertema Corona. Gagasan melontarkan tema Corona (sebelum terkenal namanya menjadi Covid-19) sangat menarik perhatian para penyair.

Pertama, wabah virus itu sedang booming. Kedua, Agus selaku kurator merangkap editor tidak memaksa pengirim puisi membeli buku pasca terbit, namun ia akan mengakomodir jika ada yang berminat terhadap buku dimaksud.

Tujuannya hanya ingin menginventarisasi para penyair yang puisi-puisinya masuk dalam antologi berjudul “Corona”, kemudian mendokumentasikannya.

Seperti diketahui, Agus adalah pendiri dan ketua Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia yang berkedudukan di Indramayu.

Dan, yang ketiga yang bikin saya tertarik mengirim puisi karena ternyata banyak nama-nama yang sebelumnya sudah saya kenal seperti A. Zainuddin Kr, Asro A Munthawy, Bambang Eka Prasetya, Giyanto Subagio, Heru Mugiarso, I Made Suantha, Roymon Lemosol, Salimi Ahmad, Salman Yoga S dan Wadie Maharief.

Sebagai rasa simpatik pada idenya, kemudian saya coba mengulas buku “Corona” yang saya beri judul “Jika Penyair Mencatat Corona” (Mei 2020). Ulasan ringan saya; saya posting di face book milik saya pasca buku diterima.

Kemudian oleh Agus ulasan saya dimuat di AyokSekolah.com. sebagai testimoni saya lampirkan puisi utuh karya Wardjito Soeharso, Semarang, berjudul “JAPA MANTRA”.

Bolading!
Klambi Abang
Bendho giwang
Jalitheng!
Jun jilijijethot
Wong Tampang asli
Cempe-cempe!
Undangan barat gede
Tak opahi duduh tape
Weerrr….. weerrr….
Weeeeeerrrrrr…..
Setan ora doyan
Penyakit ora ndulit
Wabah orang teman
Among kersane Gusti Allah
Corona…
Minggaaaaaattt!

Semarang, 27 Maret 2020

Asu

Pada tanggal 16 Mei 2021 saya memposting tulisan berjudul “Asu Dalam Puisi Indonesia Mutakhir”.

Tulisan ini kembali dimuat di tanggal yang sama di Grup Face Book Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

Dan, pada tanggal 26 Oktober 2021 kembali dimuat di Beritarayaonline.co.id .

Apresiasi saya terhadap ‘ide gila’ Rg. Agus Warsono kian mencuat. Kata Asu seringkali diasosiasikan serta di interpretasikan sebagai kata umpatan dan makian kepada orang lain.

Namun, terkadang asu menjadi ungkapan candaan bagi sebagian masyarakat kita.

Saat membuka kamus, ternyata asu itu memiliki kata ganda. Dalam bahasa Jawa, Asu diartikan sebagai induk anjing. Sedangkan anak anjing diartikan sebagai kirek.

Terhadap judul ini, lagi-lagi saya dibuat terperangah. Pasca judul 6 huruf, “Corona”, kini turun menjadi 50%, “Asu”. Di buku yang terbit bulan April 2021 ini dimuat 118 penyair, lengkap dengan biodata.

Beberapa penyair mengisi halaman antara lain A Machyoedin Hamamsoeri, Eko Windarto, Soekardi Wahyudi, K. Kasdi W.A. dan Wawan Hamzah Arfan.

Menurut Agus di buku ini, terkadang ide konyol justru malah membuahkan sesuatu yang luar biasa.

Tema margasatwa sebetulnya tema sesungguhnya karena tema ini jarang disentuh, belakangan justru berkembang karena ada pengembangan ide konyol itu.

Pulo Lasman Simanjuntak

BERSETUBUH DENGAN TIKUS

Kami harus bersetubuh dengan tikus ini di atas ranjang
terowongan dapur
berselimutkan tanah merah birahiku melepuh

sungguh sudah berminggu-minggu kukunyah habis
spermamu
jadi berita utama di layar televisi, surat kabar, dan media
digital
sehingga puisi yang malam ini kutulis terbuang
(percuma)
ditelan dengkur tidurmu

Pamulang, April 2016

T”
Konon kabarnya judul dengan satu huruf ini merupakan judul terlangka, bukan saja di Indonesia, tapi juga di dunia.

Berdasar pengalaman saya menulis sekira 40 tahun, memang belum pernah ada saya melihat judul sebuah buku dengan hanya menggunakan inisial “T”/ satu huruf.

Antologi puisi “T” ini terbit bulan Oktober 2021, diterbitkan Penebar Media Pustaka, dengan editor tunggal Rg. Agus Warsono.

Ide cemerlang menggunakan huruf ‘T’ sebagai judul buku sempat membuat kening saya berkerut. T itu universal. T secara harfiah lebih ditujukan pada Sang Khalik, Tuhan.

Terbukti dari 124 penyair yang terhimpun di buku ini, menulis mayoritas bertema ketuhanan. Tebak-tebak buah manggis terasa banget sebelum buku tercetak.

Para calon penyair mulai menebak-nebak isi kepala sang penggagas, tapi tak jarang meleset.

Begitu juga saya yang sering menulis puisi bertema, sempat dibuat pusing dengan pertanyaan, apa maumu, Gus?

Ternyata, ya ternyata, “T itu juga angin Timur. Angin timur sejak doeloe adalah keberuntungan. Pada masa musim angin timur, wabah segala penyakit tersapu angin menuju samudra Hindia dan di sana akan tertelan ombak.

Corona akan menjerit ketakutan manakala baru terbawa angin sampai laut Ujung Kulon. Dan akan masuk pusaran gelombang samudra Hindia yang ganas.” (Puisi “T” di Ujung Pandemi, hal. 11). “…

Di sudut lain di rumah-rumah kecil terdengar doa. Rumah-rumah yang berdoa itu begitu banyak sehingga hampir seluruh Indonesia berdoa agar corona cepat pergi dari negeri ini. Allah maha mendengar, dan punya rencana. Maha pengasih dan punya kehendak.” (hal. 13).

Tangkapan inisial T yang agak berbeda pada puisi Putri Bungsu.

2,6 T

Itu uang semua
Bukan lautan pasir
Apalagi lagu banjir
Lahar dingin selimut koruptor
Genjot tagihan
Sita aset dan bekukan rekening bank
Bukan bang bang tut
Ora nyemplung ora cukup
Sampai jumpa di pengadilan akhirat!

(hal. 259)

“Hal-Ikhwal Lain tentang Agus
Rg. Agus Warsono itu orang yang serius bekerja, tapi juga ia pekerja humoris dan cakapnya diselingi parodi yang sesungguhnya serius.

Pada suatu ketika ia bersama beberapa pegiat kreator lainnya diundang ke Istana Presiden hanya gara-gara menulis puisi berjudul “Baju Putih Lengan Panjang”.

Di dalam istana ia dan beberapa yang diundang dipersilahkan untuk makan dengan selera masakan kelas istana, dan bahkan diminta untuk menginap, dikasih wejangan hingga diberi sangu.

Saya bisa membayangkan kalau ‘sangu’ yang masuk ke kantongnya itu pasti sangat menggiurkan. Boleh jadi.

Dikesempatan lain ia protes diadakannya MUSYAWARAH SASTRAWAN INDONESIA (MUNSI) yang diadakan setiap dua tahun sekali.

Protes, menurutnya hanya menghambur-hamburkan uang negara, karena peserta Munsi hanya beberapa gelintir yang serius mendengar setiap ada pemateri.

Selebihnya hanya bangku-bangku kosong. Protes karena panitia penyelenggara mengukur peserta Munsi hanya dari materi, bukan dari karya.

Makanya, ia berani pasang dada mengatakan “Saya datang dari Papua”, dengan harapan mendapat imbalan yang layak.

Meskipun nyatanya ia asli mewakili Indramayu. Hanya warna kulitnya saja mungkin persis orang Papua. Dan, rasa pertemanannya sangat tinggi.

Siapapun yang datang ke sanggarnya di Indramayu akan diberikan satu buku+kaos Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia + makan dengan lauk khas Indramayu.

Nama Rg. Agus Warsono masuk dalam buku “Apa & Siapa Penyair Indonesia”. Ia lahir di Kota Tegal, Jawa Tengah, 29 Agustus 1965.

  • Menulis puisi sejak duduk di bangku sekolah. Puisi-puisinya dimuat di sejumlah media, seperti Pikiran Rakyat dan Suara Karya.
  • Buku puisinya antara lain “Bunyikan Aksara Hatimu” (1992), “Jangan Jadi Sastrawan” (2014), “Si Bung” (2014), “Surau Kampung Gelatik” (2015). Selain sebagai penyair, dia mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM) dan banyak mendokumentasikan puisi para penyair Indonesia serta menginisiasi penerbitan buku lumbung puisi sastrawan Indonesia. Kini tinggal di indramayu, Jawa Barat sambil terus menulis, melukis dan mengajar.

Akhir tahun ini bukunya mengenai “Penganugerahan 30 Tahun Kesetiaan Bersastra dalam Bentuk Lencana Setya Sastra Nagari” jilid 1, siap terbit.

Berisi sebanyak 115 nama-nama sastrawan yang berhak mendapat Penganugerahan 30 Tahun Kesetiaan Bersastra. Penyerahan secara simbolis dilangsungkan di Pekalongan pada hari Sabtu, 23 Oktober 2021 yang lalu, kepada sepuluh sastrawan: Dharmadi (Tegal), Hadi Lempe (Pekalongan), M. Enthih Mudakir (Tegal), Nanang R. Supriyatin (Jakarta), K. Kasdi WA/ Kasdi Kelanis (Sragen), Omni S. Koesnadi (Bogor), Wardjito Soeharso (Semarang), Wawan Hamzah Arfan (Cirebon), A. Zainudin Kr (Pekalongan). (***/BRO-2)

Editor   : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan