Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- -Menurut KBBI, epigon adalah orang yang tidak memiliki gagasan baru atau meniru gagasan orang lain yang sudah ada sebelumnya.

Dari pengertian di atas maka sebuah karya bisa dikatakan plagiat jika memenuhi unsur-unsur yang jadi acuan umum.
Utamanya dalam karya puisi, dari berbagai sumber yang saya dapat, sebuah puisi dikatakan plagiat jika susunan kata, bahasa, dan irama mencapai 50 persen.
Nah, dari dua puisi yang belakangan diperdebatkan di grup ini, saya melihat persamaan itu hanya sekitar 20 persen. Jadi bisa dikata masuk dalam ranah epigon, bukan plagiat.
Kalau kita mau telaah lebih luas, dalam dunia kepenulisan tentu hal semacam itu lazim terjadi. Tidak ada ide baru dalam dunia menulis.
Semua ide pasti sudah pernah digarap oleh penulis sebelum kita.
Namun, demikian masing masing karya punya bahasa dan rasa tersendiri.
Contoh saja kalau kita menulis puisi/prosa tentang cinta. Sudah ada ratusan ribu buku yang mengulas cinta. Bahkan banyak yang ceritanya mirip, tapi memiliki perbedaan sudut pandang dan amanah yang ingin disampaikan pada pembaca.
Apalagi sebuah puisi itu memiliki ruang paparan yang terbatas. Sehingga besar kemungkinan ada persamaan kalimat dan maksud, selama tidak plek ketiplek dengan karya orang lain.
 Kalau hanya ada persamaan dari beberapa kata dan persamaan ide, jangan dulu menyebut plagiat. Bisa jadi itu hanya sebuah epigon.
Maaf saya juga bukan seorang ahli atau pakar dalam dunia sastra. Saya hanya seorang penikmat puisi. Hal ini saya sampaikan dari kejadian kejadian serupa yang pada akhirnya justru merugikan kedua pihak.
Pihak yang merasa dipalgiat (padahal belum terbukti) akan menjadi enggan berkarya karena merasa kecurian. Pun begitu pihak yang dianggap plagiat, bisa jadi ia akan berhenti berkarya karena tuduhan yang belum pasti tersebut.
Jadi akan lebih baik, mari sama sama saling dukung, terus berkarya dengan baik, biar pembaca yang menilai karya kita.
Apalagi untuk karya yang tayang di media sosial. Tidak ada jaminan bahwa karya kita aman dari tindak plagiasi.
Akan lebih baik kita saling menghormati sebagai sesama pecinta sastra. Dengan begitu tujuan adanya LUMBUNG PUISI SASTRAWAN INDONESIA  XI 2023 untuk menyatukan penyair se-Nusantara bisa tercapai.
Sebagai penulis, saya juga anti plagiasi. Karena itu jika ada karya seide dan mirip, justru akan menjadi pemicu agar bisa menciptakan ciri khas yang akan menjadi trademerk pribadi yang mudah dikenali pembaca.
Salam satu puisi, dari penikmat sastra kelas teri –
Blitar, 31 Januari 2024.
Heru Patria.
(*/BRO-2)
Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan