Spread the love

syakirJakarta,BeritaRayaOnline,– Hasil riset dan teknologi pertanian berserakan di sejumlah lembaga pemerintah baik negeri maupun swasta. Namun, penerapannya di kalangan petani secara rill masih rendah dan hanya diterapkan dalam skala kecil. Alhasil, urusan pangan berikut ketersediaannya dari segi kualitas dan kuantitas masih menjadi permasalahan dari tahun ke tahun.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementan M Syakir menyebut, keberadaan teknologi seharusnya mendorong peningkatan produksi berkualitas melalui varietas unggul. Percepatan produksi untuk komoditas pangan prioritas seperti padi jagung dan kedelai pun harus diiringi penerapan hasil riset.

“Termasuk, pemerintah dalam skala besar akan bersama-sama melakukan pengembangan dan penerapan inovasi teknologi di daerah perbatasan yang merupakan serambi terdepan Indonesia,” katanya  dalam konferensi pers bertajuk ‘Membumikan Riset Strategis untuk Kesejahteraan Petani’, Selasa (1/6/2016).

litbangBalitbangtan bekerja sama dengan lembaga lainnya telah melakukan mapping ekosistem, aksesibilitas lahan di sejumlah kawasan berikut kondisi masyarakatnya. Sebab, penerapan teknologi hasil riset nantinya menyesuaikan dengan kondisi masing-masing lahan.

“Kebanyakan lahan di kawasan pinggiran itu suboptimal, jadi akan kita terapkan teknologi khusus untuk lahan jenis tersebut dikaitkan dengan kondisi lingkungan dan sosial asli kawasan,” tuturnya.

Swasembada Pangan

syakirduaBadan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang) Kementerian Pertanian (Kemtan) tengah mengembangkan hasil riset dan teknologi pertanian untuk mencapai swasembada pangan. Sebab selama ini, hasil riset Balitbang Kemtan belum dirasakan hasilnya oleh masyarakat, khususnya dalam peningkatkan produksi dan bibit unggul.

Untuk itu, Kepala Balitbang Kemtan M. Syakir mengatakan, pihaknya tengah mengkaji agar keberadaan teknologi hasil riset Balitbang dapat langsung dirasakan petani. Sebab teknologi hasil penelitian Balitbang seharusnya dapat mendorong peningkatan produktivitas pertanian seperti padi dan jagung.

Itu sebabnya, Balitbang mengandeng pihak swasta dan institusi pemerintah lainnya untuk melakukan pengembangan dan penerapan inovasi teknologi di sejumlah sentra pertanian.
“Kami dalam skala besar akan mengembangkan dan menerapkan inovasi teknologi pertanian di daerah perbatasan,” ujar Syakir.

Untuk mencapai visi tersebut, Balitbang bersama lembaga pemerintah lainnya telah melakukan pemetaan ekosistem, aksebilitas lahan di sejumlah wilayah pertanian. Pasalnya, penggunaan teknologi hasil riset Balitang harus sesuai dengan kondisi lahan pertanian di masing-masing wilayah. Ia berharap teknologi hasil riset Balitbang dapat menjawab berbagai keterbatasan pada sumberdaya yang ada.

Syakir optimistis, sinergi dan kerjasama dapat memperkuat pertanian sehingga mampu meningkatkan produktivitas pertanian petani dan mendorong pembangunan di industri pertanian. Dan diharapkan Indonesia dapat menuju swasembada pangan.
Untuk Petani dan Masyarakat

Sementara itu Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Muhammad Dimyati mengatakan saat ini ada faktor x sehingga produk riset pertanian belum bisa menembus pasar dan bermanfaat untuk petani dan masyarakat.

Ia menduga, faktor x tersebut merupakan kekuatan tertentu yang membuat produk para peneliti kalah bersaing. Faktor tersebut hingga kini masih diteliti dan dicari solusinya. Para peneliti di bidang sosial humaniora pun tengah didorong untuk melakukan inovasi dan model agar hilirisasi produk-produk riset sipercepat agar bermanfaat di kalangan petani. Integrasi antarpeneliti dan pemerkntah pun terus diperkuat dari tahun ke tahun.

Integrasi di antaranya melibatkan dua kementerian yakni Kemenristek Dikti dan Kementerian Pertanian (Kementan). Sementara dari kalangan peneliti, integrasi melibatkan Badan Teknologi Nuklir Indonesia (Batan), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Pusat Penelitian Bioteknologi).

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Muhammad Dimyati menyayangkan tidak tersedianya teknologi untuk kalangan petani di pasaran.

Padahal, teknologi itu telah banyak dihasilkan para peneliti, sehingga produktivitas petani pun menjadi rendah karena teknologi itu kurang dimanfaatkan.

“Banyak teknologi yang dihasilkan dari hasil riset, tapi ada faktor x yang menghambat produk riset (dari sektor) pertanian itu, sehingga belum bisa menembus pasar dan kemudian dipakai petani,” ujarnya saat konferensi pers bertajuk “Membumikan Riset Strategis untuk Kesejahteraan Petani” di Gedung Balitbang Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (1/6/2016).

Ia belum dapat memastikan faktor apa yang menyababkan teknologi yang diciptakan para peneliti Indonesia itu kalah bersaing karena katanya, faktor penghambat tersebut masih diteliti dan dicari solusinya.

Untuk mempercepat pemanfaatan produk-produk tersebut, para peneliti di bidang sosial humaniora diajak untuk melakukan percepatan dengan didorong untuk melakukan inovasi dan model.

“Karena itu diharapkan integrasi antarpeneliti dan pemerintah terus diperkuat agar persoalan dapat diatasi, sehingga swasembada pangan bisa terwujud,” pungkasnya.

Sejauh ini, integrasi lintas kementerian/lembaga yang telah terjadi di antaranya Kemenristek Dikti dengan Kementan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian Bioteknologi, dan Badan Teknologi Nuklir Indonesia (BATAN). (***/dari berbagai sumber/dbs/lasman)

Editor   : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan