Spread the love

Teks Foto : Donna Julia, guru inspiratif yang giat mengikuti berbagai acara literasi.(Foto ,: Herman Syahara,)

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Menjadi guru di era teknologi informasi dan menjalankan Kurikulum Merdeka sekarang ini sarat dengan tantangan dan peluang.

Banyak guru yang belum sepenuhnya memahami pelaksanaan Kurikulum Merdeka serta mengaplikasi metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Di era internet sekarang ini setiap guru ditantang harus selalu sigap dan siap mengikuti perkembangan yang berlangsung cepat agar tidak ketinggalan.

Setiap guru memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dirinya sebagai guru sekaligus pendidik yang kompeten di bidangnya.

Begitulah benang merah yang dapat direntang dari percakapan dengan Donna Juliana, S.Pd, 48 tahun, seorang guru yang memiliki wawasan jauh ke depan mengenai dunia pendidikan yang digelutinya.

Sederhana, aktif, dan inspiratif. Itulah kesan yang menonjol saat berbincang dengan guru yang merangkap wali kelas ini.

Dia memang bukan tokoh atau selebritas yang kerap muncul dilayar kaca. Namun ,bagi murid-muridnya di SD Negeri Rawa Badak Utara 21, Jakarta Utara, kehadiran Ibu Guru Donna di depan kelas sangat dirindukan.

Bicaranya tegas dan lugas namun dibarengi senyum ramah dan keibuan yang selalu mengembang, membuatnya disenangi siswanya.

“Menjadi guru era digital sekarang dituntut siap mengikuti perkembangan teknologi informasi dan memahami kebutuhan siswa,” ujarnya mengawali percakapan.

Ungkapan itu bukan tanpa alasan. Dalam pengamatan Donna, perkembangan teknologi informasi berbasis internet sekarang telah mengubah pola kehidupan sosial dan pendidikan anak di sekolah.

Di satu sisi memang banyak kemudahan dan pengetahuan yang bisa diakses dari media sosial. Namun konten informasi negatifnya pun tidak sedikit.

Dan, karena siswa-siswa sekarang relatif “lebih dekat” dengan gawai untuk mendapatkan informasi ketimbang bertanya kepada orang tua atau gurunya, maka orang tua dan guru harus melek teknologi informasi bernama gawai atau smartphone.

“Orang tua dan guru harus memiliki pengetahuan soal handphone dan konten media sosial agar tetap dapat mengontrol anak dan siswanya sehingga terlindungi dari informasi yang menyesatkan,” papar Donna yang juga ibu dari anak berusia remaja.

Donna juga menekankan pentingnya para guru memperluas literasi secara teori dan praktik.

Secara teori, guru perlu memahami masalah literasi yang dapat diterapkan di dunia mengajar. Juga harus rajin mengikuti acara-acara literasi.

“Sesibuk apapun, secara praktik, guru jangan segan mengikuti berbagai acara dan kegiatan literasi yang belakangan diselenggarakan oleh banyak komunitas dan lembaga,” ungkapnya.

Donna mencontohkan, dirinya belakagan aktif mengikuti kegiatan literasi yang digelar lembaga pegiat literasi Nyalanesia dan JB Edukreatif Indonesia.

“Dari acara itu saya mendapatkan berbagai Ilmu dan pengalaman berinteraksi dengan guru inspiratif lainnya dari seluruh Indonesia, ” ungkap Donna.

Hasilnya, sekarang dirinya merasakan manfaat dengan bertambahnya wawasan dan semangat mengajar yang meningkat.

Untuk mengikuti acara itu, Donna memang harus mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya. Karena seringkali acara itu digelar di luar kota yang jauh dari tempat tinggalnya.

Namun, karena manfaatnya dirasakan besar bagi pengembangan profesi dan wawasannya, diusahakannya untuk ikut.

Baru-baru ini ,misalnya,, dia mengikuti program Teacher MasterClass yang diselenggarakan oleh Nyalanesia.

Program ini didesain untuk meningkatkan kompetensi para guru pesertanya. Konsepnya dibuat edutainment, yaitu perpaduan antara pendidikan dan entertainment.

Dalam praktiknya, guru peserta dapat memilih salah satu dari empat kelas yang disiapkan, salah satunya kelas literasi.

Jika peserta guru memilih kelas literasi, maka yang bersangkutan akan dibekali dengan pengetahuan menulis dan menerbitkan buku.

Menulis Buku Sastra

Setelah mengikuti program itu beberapa kali, Donna mengaku kini mulai tergerak menulis buku sastra.

Dorongan menulis ini antara lain diperoleh karena dia sering mendapat pertanyaan dari muridnya saat mengajar bahasa Indonesia.

“Saat saya memberi contoh menulis puisi di depan kelas, murid selalu bertanya, apakah itu puisi karya saya dan apakah ada bukunya, ” ungkap Donna mengutip pertanyaan muridnya.

Untuk mulai menulis, menurut. Donna, memang diperlukan kemauan dan tekad yang kuat.
“Musuh untuk mulai menulis adalah rasa malas. Ini harus dllawan, ” tegas guru yang gemar traveling ini.

Diakui Donna, saat ini dia merasa beruntung karena banyak pihak yang mendukung keinginanannya buntuk mengembangkan dirinya menjadi penulis buku.

Dia banyak konsultasi dengan pegiat literasi yang juga founder JB Edukreatif Indonesia, Yuliyanti Basri, SE, M.Pd. Lembaga yang telah berulang kali menggelar acara literasi dan peluncuran buku karya guru dan siswa nasional ini adalah salah satu mentornya dalam menjaga semangatnya tetap menulis.

Sekarang Donna sedang menyelesaikan tulisan
bertema kehidupan seorang guru dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan jaman.

Selain itu, dia juga akan menulis kearifan lokal berupa dongeng yang hidup dan berkembang di kampungnya yang terletak di Sumatera Utara.

“Semoga suatu hari nanti saya bisa menerbitkan buku yang berisi dongeng dan kearifan lokal di kampung halaman saya di tepi Danau Toba, ” tekad Donna Juanita.
Semoga. (Herman Syahara)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan