Diskusi Forwatan : Diversifikasi Pangan Lokal Sebagai Sumber Karbohidrat Non Beras Bisa Jadi Gerakan Nasional

Spread the love

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Diversifikasi pangan lokal  ( ubi kayu, ubi jalar, talas, jagung,  pisang, sorgum, kentang, dan sagu) sebagai sumber karbohidrat non beras (tahun 2020-2024) diharapkan dapat menjadi sebuah gerakan nasional, terutama dalam rangka program ketersediaan pangan diera normal baru (new normal) pandemi Covid-19.

Demikian dikatakan oleh Dr.Riwantoro,MM, Sekretaris Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian  yang mewakili Dr.Ir.Agung Hendriadi,M.Eng, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian dalam acara diskusi bulanan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) di House Tani , Gedung PIA , Lantai 1, Kementerian Pertanian di Jakarta, Selasa siang (8/9/2020).

Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) mengadakan diskusi bulanan dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional yang bertemakan “Diversifikasi Pangan Kokohkan Ketahanan Pangan Nasional”

Hadir juga pembicara Dr. Sahara, SP, M.Si (Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB).Ir.Sandi Octa Susila (Petani Milenial,Pemilik Mitra Tani Parahyangan), dan Moderator Kuntoro Boga Andri, SP, M.Agr, Ph.D (Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian RI)

“Diversifikasi pangan lokal sebagai sumber karbohidrat non beras diharapakan ini jadi sebuah gerakan,” pintanya.

Dijelaskannya, tujuan diversifikasi pangan lokal  antara lain 1) untuk menurunkan konsumsi beras 2 kg/kapita/tahun dan meningkatkan konsumsi pangan lokal sebagai sumber karbohidrat lainnya yaitu ubi kayu 1,90 kg/kapita/tahun, jagung 0,21 kg/kapita/tahun, sagu 0,40 kg/kapita/tahun, kentang 0,83 kg/kapita/tahun, pisang 0,46 kg/kapita/tahun dan talas 0,62 kg/kapita/tahun.

2) Meningkatkan produksi bahan baku lokal non karbohidrat, 3)menumbuhkan UMKM pangan penyedia pangan lokal.

“Harus diakui sampai sekarang ini masih sangat sedikit UMKM yang bergerak di bidang ini,” kata Dr.Ir.Riwantoro,MM, Sekretaris BKP Kementan.

Sedangkan sasaran kegiatan diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat non beras adalah 34 provinsi dengan perincian sebagai berikut, ubi kayu (peningkatan produksi dan konsumsi di 17 provinsi), jagung (peningkatan produksi dan konsumsi di 7 provinsi), sagu (peningkatan produksi dan konsumsi di 7 provinsi), kentang (peningkatan produksi di provinsi dan peningkatan kosumsi di 5 provinsi), pisang (peningkatan produksi dan konsumsi di 4 provinsi), serta talas (peningkatan produksi dan konsumsi di 14 provinsi).

“Sementara manfaatnya untuk mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, aktif, dan produktif melalui kecukupan pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman.Penyediaan pangan alternatif sumber karbohidrat lokal non beras, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta antisipasi krisis pangan global serta ancaman kekeringan,” ucapnya.

Menyinggung tentang tantangan yang masih dihadapi, Dr.Ir.Riwantoro mengatakan tantangan tersebut yaitu ketersediaan bajan baku pangan lokal masih terbatas, harga pangan lokal kurang kompetitif, preferensi terhadap pangan lokal masih rendah,skala usaha dan kemasan UMKM pengolah pangan masih terbatas.

Oleh karena itu target program diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat non beras adalah menurunkan konsumsi beras sebesar 2 kg/kapita/tahun.

“Sehingga angka konsumsi beras pada tahun 2024 diperkirakan akan turun menjadi 85 kg/kapita/tahun atau turun sebesar 10,4 % dari konsumsi tahun dasar (2019).Program intervensi untuk turunkan konsumsi beras yang dilakukan dapat mempercepat tambahan penurunan konsumsi beras hingga 6,5 persen dibandingkan apabila penurunan dilakulan tanpa program intervensi.Penurunan tersebut setara dengan 1,8 juta ton beras senilai Rp 17,8 triliun,” jelasnya.

Selanjutnya, target peningkatan konsumsi ubi kayu sebesar 1,90 kg/kapita/tahun, diharapkan dapat mendongkrak konsumsi ubi kayu menjado 18,1 kg/kapita/tahun pada tahun 2024, lebih tinggi dibandingkan kondisi tanpa intervensi sebesar 13,4 kg/kapita/tahun.

Jika tidak dilakukan intervensi program diversivikasi pangan lokal, konsumsi jagung diperkirakan akan turun dari 1,7 Kg/kapita/tahun pada tahun dasar menjadi 1,4 Kg/kapita/tahun pada tahun 2024.

“Target peningkatan konsumsi jagung yang ditetapkan sebesar 0,21 kg/kapita/tahun akan meningkatkan rata-rata konsumsi jagung menjadi 2,7 kg/kapita/tahun pada tahun 2024” ujarnya.

Bukan Hilangkan Beras

“Diversifikasi pangan itu hanya untuk mengurangi konsumsi beras, dan bukannya mau menghilangkan konsumsi beras.Oleh karena itu promosikanlah pangan lokal mulai sekarang baik melalui teknologi IT, media massa, dan media sosial.Bahkan kita juga perlu melibatkan langsung generasi milenial,apalagi 80 persen yang bergerak di bidang pertanian adalah generasi muda,” ujar Dr.Sahara, SP, MSI, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi, Famultas Ekonomi dan Manajement  Institut Pertanian Bogor (IPB) yanh menjadi pembicara kedua dalam diskusi bulanan Forwatan.

Dikatakannya lagi, pentingnya diversifikasi pangan untuk memastikan keragaman dan kualitas makanan, memperkuat sistem pangan lokal, dan menjaga kelestarian lingkungan.

“Selama ini harus diakui pola konsumsi pangan masih tergantung dengan satu bahan pangan itama yaitu beras.Sehingga makanan yang kita konsumsi terlalu banyak karbohidrat, dan pafa akhirnya kekurangan mineral maupun vitamin,” kata Dr.Sahara yang berbicara tentang “Pandemi Covid-19, Momentum Membangkitkan Program Diversifikasi Pangan”.

Tantangan diversifikasi pangan antara lain mindset ketergantungan pada satu jenis pangan utama (beras) yang berdampak pada foof security.

“Ini merupakan mitos atau fakta, belum makan kalau belum makan nasi,” katanya seraya menambahkan bahwa konsumsi beras di Indonesia sudah terlalu tinggi, bahkan konsumsi lebih tinggi dibandingkan dengan produksi beras.

Sebagai kesimpulannya Dr.Sahara yang juga adalah Dosen di IPB ini mengatakan diversifikasi pangan berperan penting dalam menunjang food security.

“DIversifikasi pangan tidak hanya untuk pangan pokok, tetapi juga pada upaya mendorong keragaman konsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung protein, serat, dan vitamin yang tinggi.Selain itu upaya diversifikasi pangan harus dilakukan secara terintegrasi demand side dan suplly side,” pungkasnya.

Program Jangka Panjang

“Diversifikasi pangan lokal itu merupakan program pangan untuk jangka panjang.Oleh karena itu jangan sejengkal tanah pun tak ditanami, termasuk untuk tanaman lokal ini,” pesan Ir.Sandi Octa Susila, Petani Milenial berasal dari Cianjur ini.

Dikemukakannya, Indonesia harus mampu menyediakan pangan sendiri, dan tidak selalu bergantung pada impor.

“Potensi gerakan ketahanan pangan nasional sangat besar melalui penguatan intensifikasi, eksistenfikasi pangan lokal, dan melalui percepatan tanam di lahan eksisting,” ujarnya.

Sandi Octa Susila dalam kesimpulannya sebagai pembicara ketiga diskusi bulanna Forwatan, juga mengatakan mengenai pemanfaatan lahan pekarangan, perkebunan, perhutanan sosial, Perhutani, Inhutani, dan pemanfaatan lahan rawa.

“Perlu juga dukungan langsung petani serta petani milenial,” katanya.(Lasman Simanjuntak/Bro-1)

Editor : Jhonnie Castro

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan