Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Realisasi pemanfaatan biodiesel pada tahun 2022 telah mencapai 10,44 juta kiloliter, dan hal ini berhasil menurunkan emisi sebesar 27,83 juta ton CO2.

Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dr.Dadan Kusdiana pada acara Webinar Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) bertemakan “Kontribusi Industri Sawit Terhadap Net Zero Emissions Indonesia” di Jakarta, Rabu siang (24/5/2023).

Menurutnya, penggantian bahan bakar diesel dari minyak ke solar ke biodiesel dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sekitar 50-60 persen.

“Jumlah itu dapat lebih besar menjadi 62 persen, apabila pabrik kelapa sawit menerapkan methane capture untuk menproduksi biodiesel atau european commission joint research center,” ucapnya.

Dikatakan lagi pemerintah akan terus mendorong keberlanjutan industri sawit untuk keperluan energi.

“Hal ini dilakukan dengan moratorium kebun baru, mendorong kepemilikan sertifikat Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi pengusaha sawit,” ujarnya.

Pemerintah juga berupaya memaksimalkan pemanfaatan lahan kritis atau bekas tambang dan penelitian untuk mengembangkan produktivitas sawit.

Selain bahan bakar, lanjut Dr.Dadan Kusdiana ,Indonesia akan meningkatkan pemanfaatan produk sawit sebagai sumber energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik berbahan baku limbah cair dan limbah padat untuk biomassa.

“Bahkan pada saat ini terdapat lebih 800 pabrik kelapa sawit yang seluruhnya dapat memanfaatkan limbah untuk menghasilkan energi listrik,” katanya lagi.

Pada saat ini sudah ada 874,57 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik berbasis limbah sawit.

“Diharapkan angkanya akan semakin besar dari tahun ke tahun,” pungkasnya.

Sementara itu Direktur Sirfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University Dr.Ir.Meika Syahbana Rusli, mengatakanĀ  kemampuan serapan CO2 sawit tergolong lebih tinggi ketimbang tanaman lainnya.

“Semakin banyak bagian dari sawit yang dimanfaatkan, maka kian besar perannya dalam penurunan emisi,” jelasnya melalui layar zoom Webinar FORWATAN bertemakan “Kontribusi Industri Sawit Terhadap Net Zero Emissions Indonesia” yang berlangsung dengan tanya jawab sampai Rabu sore (24/5/2023).

Mengutip dari data statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2020-2022, luas lahan sawit Indonesia adalah 14,38 juta hektar.

Dengan kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) sebesar 64,5 ton per hektar, maka sawit terhitung mampu menyerap 927,5 juta ton CO2 pada 2022.

“Berdasarkan hal tersebut, pemanfaatan seluruh bagian kelapa sawit secara maksimal ternyata dapat berkontribusi besar dalam menurunkan emisi,” kata Dr.Ir.Meika Syahbana Rusli.

Ditambahkannya saat ini sawit terutama digunakan untuk canpuran bahan bakar, pembangkit listrik, pupuk, dan lainnya.

Pada diskusi Webinar bersama Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) tersebut juga dipaparkan data dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) yang menemukan penggunaan B3O (campuran 30 persen biodiesel dalam seliter bahan bakar solar) dapat mengurangi emisi sebesar 24,6 juta ton pada 2020.

Jumlah ini setara dengan 7,8 persen dari target capaian penurunan emisi sektor energi pada 2030 yaitu sebesar 314 juta ton.(*/Dbs/Bro-1)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan