Diskusi Tingkat Tinggi Untuk Pertanian Korporasi Indonesia

Bogor,BeritaRayaOnline,-“Arahan Presiden RI Jokowi Widodo sangat jelas, bangun pertanian korporasi,” tegas  Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian.

“Arahan ini segera kita tindaklanjuti bersama baik Kementerian Pertanian, Kementerian Desa dan PDT, Kementerian Koperasi dan UKM, serta Kementerian BUMN. Diskusi hari ini harus memperoleh model pertanian korporasi yang dapat dijadikan acuan dan diperkuat oleh Peraturan Menteri Pertanian,” Prof Dedi Nursyamsi di Bogor, Kamis (12/09/2019).

Tidak main-main Lebih dari 60 SDM hebat Indonesia dari antar lintas kementerian dan universitas serta korporasi berkumpul di Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jalan Tentara Pelajar No. 12 Kompleks Pertanian, Cimanggu, Bogor melaksanakan diskusi tingkat tinggi mengenai pengembangan pertanian korporasi.

Peserta berasal dari Kemendes PDT, Kemenkop dan UKM, Kemen BUMN (PT Bank Mandiri), Universitas Binus, dan Kementerian Pertanian (Badan Litbang Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Sekretariat Jenderal Pertanian).

Narasumber dan pembahas utama menghadirkan peneliti, akdemisi, dan praktisi, serta pengambil kebijakan yaitu: Dr. Hermanto (Biro Perencanaan Kementan), Dr. Ir. Harry Sutanto, MBA (Univ. Binus), Dr. Ir. Leli Nuryati, MSc (Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Kemtan), Rahmat B. Triaji (Senior Vice Presiden PT Bank Mandiri), Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan (Peneliti, PSEKP), Prof. Dr. Ir. Pantjar Simatupang (Peneliti, PSEKP), Prof. Dr. Ahmad Suryana (Peneliti, PSEKP), Prof. I Made Oka Adyana (Peneliti,PSEKP), Prof. Dr. Irsal Las (BBSDLP), Prof. Dr. Ir.Tahlim Sudaryanto (PSEKP), Dr. Sudi Mardianto (Kapus PSEKP), Dr. Trip Alihamsyah (BP2TP), dan Ir. Hari Priyono (Tenaga Konsultan Menteri Pertanian).

Tujuan diskusi tingkat tinggi ini diantaranya mengidentifikasi bentuk korporasi petani yang berpotensi untuk dikembangkan, memahami konsep dan tatakelola pengembangan korporasi petani, dan menyusun rancangan operasional penerapan pertanian korporasi .

Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Fadjry Djufry membuka dengan tantangan dari aspek pengembangan kelembagaan petani dan model-model pertanian korporasi yang telah dan sedang Badan Litbang telah kembangkan.

Dr. Fadjry lebih lanjut membahas tentang Lahan rawa yang berpotensi sebagai sentra pertanian baik di lahan rawa lebak maupun lahan rawa pasang surut.

Dan, Badan Litbang telah mengembangkan teknologi pengelolaan lahan dan air serta tanaman. Kombinasi pengembangan kelembagaan dan implementasi teknologi pertanian di lahan rawa berbasis kultur masyarakat setempat diyakini mampu meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani serta perekonomian wilayah dan nasional.

Dr. Hermanto memaparkan tentang lesson learnt pengembangan pertanian korporasi di Demfarm Pertanian Modern Karawang, di Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, yang telah dan sedang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian sejak 2018, dengan membandingkan pertanian korporasi di India dan Taiwan.

Dr. Harmanto menyampaikan bahwa kunci keberhasilan pertanian korporasi adalah 1) Penguatan kelembagaan petani, 2) Penerapan manajemen korporasi yang profesional; (3) Dukungan kebijakan.

Rahmat B. Triaji, Senior Vice President Bank Mandiri memaparkan lesson learnt pertanian korporasi di Kec. Pamarican, Kab. Ciamis, suatu model yang dikembangkan sejak 2018 dan sudah diresmikan oleh  Rini Suwandi, Menteri BUMN.

Masih melakukan penguatan manajemen korporasi dimana para petani diajak untuk tidak berusaha sendiri-sendiri, namun berusaha secara bersama dipimpin oleh suatu PT Mitra Desa Pamarican yang dikelola secara profesional. CSR Bank Mandiri akan diberikan dan dikelola oleh PT tersebut. Produk intinya adalah beras premium silver dan gold dan sebagian dipasarkan secara online. Faktor kunci keberhasilan adalah: 1) model bisnis harus benar, 2) permodalan yang cukup sekitar 3-5 milyar (modal kerja), 3) SDM yang mumpuni dimana di daerah sulit mencarinya, 4) manajemen usaha (keuangan, operasional, marketing) yang profesional, dan 5) terus mentoring dan monitoring. Satu lagi akan dibuat di Kab. Kebumen.

Dr. Leli (Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Kementan) memaparkan lesson learnt pendampingan pengembangan korporasi di lahan rawa di wilayah SERASI melalui pengembangan kelompok usaha bersama (KUB) dalam bentuk koperasi pada luasan minimal 5.000 ha.

Di tingkat desa harus ada transformasi dari kelompok tani, gapoktan, KUB, menuju Koperasi. Permodelan KUB dari iuran anggota dan pinjaman yang tidak mengikat. Pengelolaan dilakukan oleh seorang general manajer yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dr. Ir. Harry Sutanto, MBA (Univ. Binus) menekankan arti penting tentang para petani milenial dan mengingatkan tantangan terbesar pertanian adalah paradigma bagaimana pertanian berproduksi dan memasarkan.

Keberhasilan terukur setelah terjual dan menghasilkan uang. Pertanian korporasi berbicara bisnis, dimana bisnis adalah keuntungan (income).

Pertanian korporasi mendesak untuk diterapkan dan dikembangakn, namun tidak ada satu model pertanian korporasi yang sesuai di semua kondisi.

Model pertanian korporasi yang diterapkan berevolusi menyesuaikan dengan kondisi setempat dengan sasaran akhir adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.(*/Siaran Pers Kementerian Pertanian
Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian )

Editor : Lasman Simanjuntak

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan