Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- “Bebeberapa tahun lalu, tepatnya pada 2019, saya membuat sebuah survei kecil-kecilan di Twitter @musismail tentang ruang publikasi karya sastra. Survei itu menyuguhkan pertanyaan: Medium apa yang menjadi prioritas Anda mempublikasikan karya (puisi, cerpen, dan esai)? Jawabannya terbesar diberikan kepada media sosial (36 persen) dan blog pribadi (34 persen. Baru selanjutnya media online (15 persen) dan koran (14 persen),”ujar Mustafa Ismail pada acara diskusi sastra MEJA PANJANG berlangsung di Lantai 5, Gedung Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Jumat (27/10/2023).

Pada diskusi sastra MEJA PANJANG dengan tema “Peran Sastra Pada Jurnalistik dan Peran Jurnalistik Pada Sastra” menghadirkan Pembicara Utama Hendry CH.Bangun (Ketua Umum PWI Pusat), Pembicara Pendamping Yusuf Susilo Hartono (Sastrawan, Perupa, Wartawan), Pembicara Pendamping Mustafa Ismail (Wartawan, Sastrawan) dengan Moderator Rita Sri Hastuti (Pengurus PWI Pusat), dan MC Nanang R Supriyatin.

Dikatakannya lagi survei itu diisi oleh lebih 100 responden pemilik akun twitter. Sayangnya, memang tidak bisa diketahui bagaimana profil pengisi survei.

“Sebab survei itu dilempar begitu saja lalu diretwit oleh sejumlah akun. Namun yang pasti, jawaban itu memperlihatkan bahwa sebagian penulis sekarang tidak lagi peduli pada media mainstream, terutama koran. Bahkan, mereka tidak bersemangat untuk memuat karya di media online,” katanya lagi.

Kita tahu, beberapa tahun terakhir online-online yang memuat karya sastra terus tumbuh. Namanya terlalu panjang untuk kita sebut satu persatu. Mereka hadir di tengah redupnya bisnis koran. Sejumlah koran menghentikan edisi cetak dan beralih ke online. Sebagian lagi, bahkan koran tutup. Menurut data Serikat Perusahaan Pers (SPS), pada 2021 masih ada 593 media cetak yang terdaftar, namun pada 2022 tersisa 399 media.

Kita jadi ingat ucapan pakar komunikasi Marshal McLuhan dalam buku The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962) dan Understanding Media: The Extensions of Man (1964) bahwa “medium adalah pesan itu sendiri” (medium is the message). Jadi yang mengubah perilaku masyarakat bukan hanya pesan (berita), tapi medium itu sendiri. Contoh kecil, hadirnya media sosial dan online, yang mengubah orang cendrung membaca online dan media sosial.

Hal serupa tidak bisa dielakkan terjadi dalam sastra. Medium baru, mulai dari media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, Tiktok, hingga blog pribadi dan aneka platfom baru seperti wattpad (wattpad.com) dan sejenisnya menyediakan ruang tak terbatas untuk publikasi karya. Bahkan, para penerbit kini suka mencari naskah-naskah buku dari platform menulis online. Makin banyak sebuah karya dibaca di platform itu, makin besar potensi buku itu laku.

Memang, kebanyakan karya yang hadir media sosial dan aneka platform itu bukan karya dengan standar estetika berat, tapi karya-karya populer yang renyah dan krispi. Sebagaimana menonton film, para pembaca puisi dan cerita tidak mau repot-repot dengan cerita dan puisi yang rumit.

Mereka lebih suka pada karya-karya ringan yang dinikmati sambil menguyah popcorn dan coca cola, di sela-sela jam kerja atau istirahat sekolah atau ngampus.

Namun, sastrawan tidak perlu pesimis bahwa karya-karya mereka, yang digarap dengan sangat serius dan ekplorasi gagasan \mendalam, mati kutu di tengah membanjirkan karya-karya popular. Sebagaimana musik klasik, meskipun berat, ia tetap punya penggemarnya sendiri.

Terpenting bagaimana penulis sastra merebut hati pembaca dengan karya-karya yang segar dan mencerahkan. Sastrawan yang “kuat iman” tidak akan mengikuti arus pasar, tapi menciptakan pasar itu sendiri.

Pasar memang tidak datang dengan sendirinya. Cara menciptakan pasar bukan dengan promosi besar-besaran, atau mendorong orang untuk membaca karya kita dan membeli buku kita, tapi bagaimana mengedukasi pembaca tentang karya bermutu. Konsumen memilih sesuatu berdasarkan “pengetahuan” yang diperolehnya. Jika seseorang tahu suatu produk itu bagus maka orang tersebut akan membelinya.

“Dalam konteks ruang publikasi karya, sastrawan tidak perlu enggan masuk ke aneka platform digital. Postinglah puisi-puisi yang bagus di Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, Wattpad, Storial, dan sebagainya. Dengan demikian, para pembaca akan menemukan puisi-puisi tersebut di sana. Tidak ada salahnya para penulis aktif di media-media sosial itu. Bukan hanya untuk sosialiasi, tetapi juga mengedukasi warganet dengan karya-karya bermutu,” ujar Mustafa Ismail.

Jika di media sosial dan aneka platform digital didominasi oleh karya-karya populer, konsekwensinya pembaca mengira itulah karya-karya bagus dan bermutu. Pembaca milenial, yang mungkin tidak akrab dengan koran – tempat para sastrawan dulu bertarung untuk mempublikasikan karya — sehingga mereka hanya mengunyah karya-karya yang tersedia di sekitar “tempat main” mereka yakni internet.

Masa Depan Buku
Selain survei di atas, saya juga membuat polling di Twitter untuk mendapat respon pembaca karya sastra. Saya mengajukan pertanyaan: Di medium apa Anda paling banyak membaca karya sastra (puisi dan cerpen)?

Saya menyediakan empat jawaban, yakni (a) Media Cetak, (b) media digital (online, pdf), (c) media sosial, dan (d) buku. #Risetsastra itu saya buka selama 24 jam.

Hasilnya sangat mengejutkan. Dari 80 responden yang mengisi polling itu, 48 persen di antaranya memberi jawaban bahwa paling sering/banyak membaca karya sastra di buku. Mereka yang sering membaca karya sastra di media digital (online, ebook/pdf) hanya 25 persen. Posisi selanjutnya adalah mereka yang lebih banyak membaca karya sastra di media sosial hanya 16 persen. Urutan paling buncit tempat membaca karya sastra adalah media cetak (11 persen).

Angka-angka ini membuktikan bahwa buku masih menjadi ruang penting untuk publikasi karya sastra. Ia belum akan punah dalam waktu dekat, sebagaimana dikhawatirkan sementara orang. Media sosial, online, ebook, dan aneka platform digital boleh saja hadir tapi buku akan tetap hidup. Bahkan, sejumlah penerbit menjadikan platform-plaftorm digital itu untuk mencari naskah-naskah yang diperkirakan laris untuk diterbitkan jadi buku.
Mengapa buku? Masing-masing orang tentu punya alasan sendiri-sendiri.

Seorang responden yang memberi vote terhadap polling saya, yang saya kenal sebagai novelis, memberi berkomentar, “Ketika memegang buku, rasanya seperti berada dalam keheningan. Ketika memegang hp rasanya seperti di pasar. Itu aja sih alasannya. Untuk bacaan sastra lebih nikmat di poin pertama (buku).”

Saya kira penerbit dan sastrawan sangat sadar betapa buku menjadi ruang penting publikasi karya sastra. Lihatlah jumlah penerbitan buku sastra, sangat banyak, baik yang diterbitkan oleh penerbit manyor maupun secara indie. Perpustakaan Nasional menerbitkan ISBN lebih dari 100 ribu pertahun dalam lima tahun terakhir.

Pada 2019 Perpusnas menerbitkan 123.227 ISBN, 2020 (144.793), 2021 (159.329), 2022 (107.856), 2023 (Januari-Oktober, 85.926 ISBN)
Tentu saja jumlah buku yang terbit bisa lebih banyak dari jumlah ISBN. Sebab, kita tahu, dalam beberapa tahun terakhir ada pengetatan penerbitan ISBN. Sebagian penulis kini tidak terlalu peduli dengan ISBN, terpenting bagaimana berkarya dan menerbitkan buku.

Memang, sejumlah data menunjukkan penjualan buku menurun. Hasil survei terhadap industri penerbitan buku di Indonesia oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), sedikitnya 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan lebih dari 50 persen akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, sebanyak 63,3 persen penerbit mengalami penurunan permintaan buku lebih dari 50 persen. Tapi itu hal wajar mengingat kini begitu banyak pilihan untuk mendapatkan bacaan.

Namun fakta lain menunjukkan penerbit-penerbit kecil justru bergairah. Lihatlah pameran-pameran buku, banyak penerbit kecil ikut berpartisipasi. Toko-toko online juga banyak diwarnai dengan buku-buku dari penerbit kecil. Memang, mereka tidak menerbitkan buku dalam jumlah besar, namun menyesuaikan dengan potensi pasar. Misal, buku-buku sastra, rata-rata terbit dalam oplah di bawah 1.000 eksemplar. Tak jarang cuma dicetak 100-200 eksemplar.

Alasan orang membeli buku macam-macam. Riset yang dilakukan Picodi.com pada 2018, menunjukkan faktor orang yang mempengaruhinya membeli buku ada beberapa sebab. Pertama, karena keputusan sendiri (49 persen responden), tertarik membeli karena ada harga diskon (43 persen), buku pemenang penghargaan (41 persen), rekomendasi teman (33 persen), melihat review blogger (27 persen), dan buku telah difilmkan (6 persen).

Sebagian besar pembeli buku di toko buku (73 persen), toko online (55 persen), unduh gratis (31 persen), e-book di toko online (27 persen), subskripsi berbayar (6 persen), dan audiobook di toko online (2 persen). Dengan kata lain, toko buku masih menjadi tempat favorit untuk membeli buku. Boleh jadi, karena di toko buku orang bisa membolak-balik bukunya, membaca endorsmen, sinopsis, bahkan menimbang penampilan buku tersebut.

Perihal Kurasi
Satu persoalan penting yang kerap dicemaskan dalam publikasi karya sastra adalah kurasi. Lepas dari segala kekurangan, koran sejauh ini masih melakukan kurasi yang ketat untuk memilih karya-karya yang muncul di halaman sastranya. Bahkan, ada koran yang menerapkan sistem kurasi berlapis, salah satunya Koran Tempo.

Ada dua seleksi yang dilakukan di Koran Tempo. Seleksi pertama dilakukan oleh redaktur budaya, penanggungjawab sastra. Di Koran Tempo ada dua orang, satu memilih puisi dan satu orang lain bertanggungjawab terhadap cerpen. Kedua orang ini memilih jagoannya masing-masing, lalu memasukkan ke ruang kurasi di grup WA. Untuk puisi, semua nama penulis dihilangkan. Jadi nama penulis hanya diketahui oleh redaktur yang menangani puisi.

Ruang kurasi berisi sembilan orang, sebagian adalan penulis sastra, ada yang penyair, novelis, esais, dan wartawan budaya yang selama ini berkelindan dengan seni dan sastra. Sebagian tim kurator telah memiliki beberapa buku tunggal. Namun dari sembilan orang itu, hanya lima orang yang aktif. Maka lima orang inilah yang tiap pekan mendiskusikan karya-karya yang “dicemplungkan” ke sana untuk dipilih yang layak dimuat.

Selain oleh dua redaktur yang menjadi penanggungjawab puisi dan cerpen, para kurator lainnya pun bisa mengusulkan puisi dan cerpen jika menemukan yang menurut mereka menarik. Sebab, semua puisi dan cerpen yang dikirim para penulis masuk ke email semua anggota dewan kurator. Itu dilakukan untuk menghindari faktor subjektif atau jangan sampai ada karya bagus terlewat. Sehingga semua mata bisa mengawasinya di email masing-masing.

Masing-masing media tentu punya cara berbeda dalam melakukan proses kurasi. Namun, orang masih percaya kurasi di koran lebih ketat ketimbang di media online. Apalagi, sebagian media cetak masih memberi honor untuk karya sastra yang dimuat. Sementara media online kebanyakan adalah ruang “gotong royong” – pemuatan karya tidak berhonor.

Hanya sebagian media online yang menyediakan honor untuk penulis.
Sebagian penulis dan pegiat sastra mencemaskan sistem kurasi di media online dan media sosial. Beberapa media online khusus sastra kurasinya terasa longgar sekali. Lebih celaka lagi media sosial, yang memang sangat sulit dilakukan kurasi.

Sebab, kendali berada di jempol pemilik akun. Hal maksimal bisa dilakukan pembaca tidak memberi like pada karya tak bagus. Kita hanya hanya memberi jempol, bahkan share, pada karya berkualitas. Tapi ini tentu tak mudah.
Sebetulnya, bagi media online sastra, yang dikelola secara profesional tak sulit menerapkan sistem kurasi seperti halnya koran. Namun, ada beberapa masalah mesti dipecahkan. Pertama, ketidaksamaan kapasitas editor masing-masing media, sehingga pilihannya menjadi beda-beda. Kedua, karena sebagian media online honornya kecil, bahkan sebagian tak memberi honor, maka minat penulis mengirim ke sana juga rendah.

Akibatnya, media online – baik yang khusus sastra maupun media online umum yang mempunya rubrik sastra – kekurangan naskah bagus. Sehingga, mau tidak mau, mereka memilih dan memuat naskah yang ada. Tak heran ketika muncul ke publik, karya-karya itu terkadang tidak sesuai dengan harapan atau kualitasnya jauh di bawah karya-karya yang dimuat di koran. Inilah kemudian yang memuncul ‘stigma” bahwa media online tidak punya kurasi yang baik.

Nah, bagaimana memecahkan itu, tentu harus dilakukan secara keseluruhan, semua mata rantai: dimulai dari memperkuat modal agar bisa memberi honor layak sehingga banyak penulis bagus mengirim karya ke sana, lalu meningkatkan kapasitas editor sastra sehingga mampu memilih dan menemukan karya-karya yang baik. Selain dari modal, media online juga harus memperkuat marketing agar bisa menghasilkan sehingga bisa membayar penulis dengan layak.

“Dengan kata lain, membuat media online sastra bukan pekerjaan main-main, tapi harus memenuhi berbagai prasyarat, baik secara bisnis maupun kemampuan teknis. Jika hal itu tidak bisa dipenuhi dengan baik, setidaknya dalam tahap minimal, sulit mengharapkan akan melahirkan atau menemukan karya-karya segar dari sana. Boleh jadi memang ada karya bagus, tapi peluangnya kecil dan itu tidak bisa menjadi indikator umum untuk menilainya.
DEPOK, November 2019,” pungkasnya.(*)

BIODATA

MUSTAFA ISMAIL lahir di Aceh pada 1971. Berlatar pendidikan manajemen (S1) dan seni (S2 – Institut Kesenian Jakarta). Menulis cerpen, puisi, dan esai. Sehari-hari bekerja sebagai editor budaya di Koran Tempo.

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan