Spread the love

Mengelola
Dinamika Group Sastra Media Sosial

Oleh: Dewan Sastra Tidore

2.093.795 member yang tersebar di 119 grup Sastra dunia maya,
Bila tak ada system yang kuat Marwah sastra tanah air bisa runtuh. Kita
Butuh menara kontrol untuk mengendalikan lalu lintas sastra
Di langit digital Nusantara ?”
(Syahryan Khamary)

JUDUL di atas adalah materi pada kegiatan pembahasan Grup/Komunitas Sastra di Media Sosial yang diselenggarakan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra 10 Agustus 2021 dalam rangka pemberdayaan Komunitas Literasi.

Rapat koordinasi lewat zoom metting tersebut didasarkan pada usulan bersifat taktis dan strategis dari komunitas Literasi Armada Pena Kota Tidore Kepulauan, Propinsi Maluku Utara yang anggotanya tersebar di 83 grup/komunitas sastra jagat maya.

Komunitas literasi Armada Pena sendiri adalah salah satu Komunitas tertua yang bergerak di bidang penulisan sastra daerah yang didirikan pada tahun 2001.

Dari jejak yang panjang dan massif itu meloloskan salah satu sastrawannya pada Seleksi peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) III tahun 2020 lalu.

Ketika era digital berhembus hingga Maluku Utara di tahun 2005, Komunitas ini juga beradaptasi dengan memelajari seluk-beluk sastra digital dan mulai mencoba berlayar di area tersebut.

Dinamika yang bergerak liar di dunia maya juga dirasai di daerah, ruang-ruang memang terbuka lebar untuk dimasuki namun kawah candradimuka yang berisi “pendekar-pendekar” sastra yang “kikir” ilmu menghambat perkembangan pemahaman bahasa dan sastra pegiat sastra di daerah.

Salah satu dinamika itu terangkum dalam Esai Syahryan Khamary berjudul sastra maya, era baru sastra digital! Yakni mutu karya dan filterisasi postingan.

Hal tersebut masih minim bahkan tidak terurus yang kelak bisa meruntuhkan wibawa sastra tanah air. Sastra seperti barang loak yang mudah didapatkan kapan dan dimana saja, sudah tak ada lagi superioritas angkatan dalam dunia sastra sehingga masing-masing saling klaim di atas geladaknya sendiri.

Kekhawatiran itu dipertegas Pemateri Munsi III Martin Suranjaya (Sarjana Filsafat, Youtuber, Novelis, Staf Ahli Dirjen Kebudayaan).

“Besok, one day, akan tidak ada lagi orang penting dalam dunia sastra Indonesia. Sastra modern yang adiluhung akan punah menjadi artefak. Yang tersisa dari adalah sastra pergaulan yang beranak cucu pada tik tok, instagram, facebook, dll.”

Padahal ini pasar besar bila dikelola secara baik dan professional akan mampu menjadi kekuatan besar yang menguntungkan personal maupun dunia sastra secara keseluruhan.

Cecep Syamsul Hari (penyair, esais, pegiat sastra digital) menekankan “era internet of thingssebuah pasar baru berbasis transaksi online, sastrawan memanfaatkan peluang untuk mengembangkan diri.” Atau dalam kata lain akan tergilas lajunya perkembangan digital.

Bertolak dari tiga pandangan di atas serta “kesepakatan” takor, kami dimandati melakukan penelusuran jejak digital namun belum seluruhnya terdata.

Tercatat ada 119 grup sastra yang terbentuk di media sosial facebook, anggota grup sangat fantastis, 2.093.795 member.

Bila disemat gelar “sastrawan” secara merata pada jutaan anggota yang ada, bukan tidak mungkin menjadi sebuah kekuatan luar biasa sastra tanah air.

Penelusuran juga mengarah pada jenis postingan, pertanyaan muncul apakah postingan linear dengan embel-embel sastra pada grup atau tidak.

Hampir merata bila admin/pengasuh “kecolongan” terhadap postingan member.

Hanya beberapa grup sastra yang pertahankan imej sastranya sehingga membentuk karakteristik tersendiri.

Banyaknya para member menarik jumlah reaksi dari postingan dengan menayangkan hal-hal di luar pakem sastra, bahkan cenderung merundung dan bersifat spam yang pada intinya akan mengikis wibawa sastra sebagaiman yang dikatakan Syahryan Khamary.

Grup sastra digital adalah pasar besar seperti ulasan Samsul cecep, pasar besar ini seyogyanya menjadi peluang dan ruang mengembangkan “brand” seperti yang dilakukan Moktavianus Masheka dan para admin Taman Inspirasi Penyair Indonesia (TISI) dengan ibadah sastra yang menonjolkan “bacaan terhadap situasi” produk terkini 76 penyair membaca Indonesia.

Selain itu ada FP Labuhanbatu sebuah grup sastra Sumatera Utara yang memiliki brand tantangan menulis.

Ada juga RgBagus Warsono dengan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia yang mengumpulkan banyak dokumen sastra dari berbagai penjuru tanah air.

Begitu juga dengan grup Dapur Sastra Jakarta yang digawangi Remmy Novaris DM menggeliat dengan beragam kreasi yang dikelola secara piawai.

Kepiawaian mengelola sangat dibutuhkan seorang admin, bila manajemn pengelolaannya amburadul nicaya menimbulkan gejolak dalam tubuh grup.

Ada contoh kasus “kenakalan” member ataupun admin dalam mengelola sumber daya kekaryaan yang terserap masuk grup lewat beragam event yang ujungnya menimbulkan sengketa batin dalam grup.

Belum lagi “perang” gengsi antar grup sastra sangat menonjol dengan program unggulan yang dipulikasikan, hal itu menimbulkan dua dampak positif dan negative.

positifnya munculnya produk-produk penerbitan yang luar biasa massif sedangkan negativenya muncul kloning produk di tempat lain.

Belum lagi maraknya plagiasi yang hampir tak bisa dibaca dengan kasat mata akibat dari keteledoran member yang mengekspos karyanya secara utuh.

Selain pendataan berkutat pada kreatifitas personal grup sastra, ada juga personal grup yang saling bertikai sehingga menimbulkan huru-hara .

Bahkan ada juga yang melenceng dari tujuan murni bersastra, personal saling klaim dan sepihak memutuskan “kontrak kerja” setelah grup memiliki nama.

Hal ini menegaskan pernyataan Martin Suranjaya, besok tak ada lagi orang penting di dunia sastra.Sebab semua sudah merasa penting ketika karyanya dengan mudah dilihat orang dan dengan gampang masuk penerbitan tanpa kurasi yang mumpuni.

Apakah kita liarkan saja tanpa adanya menara kontrol untuk mengendalikan lalu lintas sastra di langit digital Nusantara? Tidak! Sebab ini akan merusak tatanan bersastra kita yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang luhur.

Lalu apa yang harus kita lakukan, sederhana saja pendataan, pembinaan, dan legalisasi formal grup sastra.

Pendataan sudah dilakukan, upaya pembinaan belum bisa dilakukan karena pembinaan tak bisa dilakukan secara personal namun butuh kelembagaan dan lembaga itu tengah diwacanakan dengan nama DEWAN SASTRA INDONESIA dan konsep pembentukannya.

Sedangkan dimatangkan oleh inisiator sekaligus pendiri penyair vespa asal Tidore, Syahryan Khamary dan tim.

Banyak dukungan bermunculan dengan ide tersebut namun sulit membayangkan bagaimana mungkin itu semua terjadi mengingat setiap grup gawai sastra saling rekrut, saling sikut, saling silang tanpa berbagi (x >< :).

Belum lagi mengurus legalitas menghadapi birokrasi yg begitu kompleks (Toy Croutz dalam tanggapan terhadap status Dewan Sastra Tidore yang dibagikan Moktavianus Maseka di Grup Sastra Hari Puisi Indonesia).

Nah yang terakhir sebagaimana kompleksitas pengurusan legalitas formal yang disampaikan Croutz harus “diamini” namun itu perlu dilakukan agar lalu lintas sastra digital kita tidak kacau balau yang pada akhirnya merugikan kita sendiri.

Bila legalitas formal sudah ada, satu hal yang harus dilakukan grup/komunitas sastra media dosial adalah pendataan member. Hal ini dilakukan agar satu member cukup berada dalam satu grup/komunitas, sebab hal ini menjadi masalah krusial yang bisa menggoyahkan fondasi yang telah dibuat admin/moderator.

Kesempurnaan tulisan ini ada pada pembaca, semoga bisa menambah khazanah sastra dan menjadi pemantik untuk diskusi masyarakat sastra tanah air. Wasalam.

(*//DST)

Editor : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan