Spread the love

Teks Foto : Didampingi Ketua Penyelenggara Julia Basri dari JB Edukreatif Indonesia, salah seorang perwakilan guru dan siswa, Vironika Sri Wahyuningsih, S.Pd. guru SMA Maria Mediatrix, menyerahkan buku kepada PDS HB Jassin yang diterima oleh Dini. (Foto HS)

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Saya ingin awali catatan kecil ini dengan mengutip ungkapan Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, tentanng apa itu literasi.

Ungkapkan itu ditulis SCB dalam kata pengantar buku Apa & Siapa Pegiat Literasi Nasional 2023, yang diterbitkan oleh JB Edukreatif Indonesia.

Sebuah ungkapan yang menurut saya samgat layak kutip bukan saja karena diucapkan seorang tokoh sastra, namun namun juga karena ungkapan itu terasa “genuine” dan langka, begini katanya:

“Literasi adalah jalan utama manusia untuk meningkatkan martabat kemanusiaannya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.”

Menurut Sutardji, jika hewan dianugerahi Tuhan bakat alam untuk ada yang mampu dan terampil berenang, atau memanjat pohon, atau terbang dan kemampuan lainnya dan seterusnya, agar mereka bisa hidup leluasa dan trampil melakukan aktivitas kehewanannya di muka bumi.

“Maka pada manusia Tuhan karuniai talenta literasi, salah satu pembeda yang meninggikan derajadnya dibanding hewan dan mahluk lainnya, ” paparnya.

Bahkan, bukan hanya meninggikan martabat manusia terhadap species lainnya, kata penyair yang dijuluki Presiden Penyair Indonesia itu, kemampuan literasi akan menjadi faktor yang memberikan keunggulan suatu bangsa/negara dibanding bangsa/negara lainnya, begitu pula suatu masyarakat atau individu terhadap masyarakat atau individu lainnya.

Teks Foto : Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri (foto HS)

“Seiarah sering menunjukkan sumbangan besar literasi untuk menggerakaan suatu bangsa untuk bersatu melawan penjajahan dan akhirnya meraih kemerdekaan,” ungkap dia.
Dari ungkapan SCB di atas, kita mendapat kesan yang kuat, bahwa hal Ihwal literasi adalah akitivitas yang hanya dilakukan antarmahluk manusia dengan mahluk manusia lainnya.

Talenta literasi adalah anugerah dari Sang Pencipta yang bila diberdaya-gunakan secara maksimal dan, efektiv dapat meningkatkan harkat derajat manusia penggunanya.
Hewan, tumbuhan, dan mahluk lainnya tidak berliterasi. Mereka dianugerahi kemampuan lain untuk bertahan hidup dan mengembangkan eksistensinya.

Demam literasi
Bisa jadi, kesadaran seperti yang dipaparkan Sutardji Calzoum Bachri ini juga menjadi renungan dunia pendidikan, akademisi, komunitas, dan pegiat literasi di Tanah Air.
Maka bisa difahami, bila selepas pandemi dua tahun belakangan ini kegiatan yang menyisipkan kata “literasi” di dalam berbagai acara terus mewabah dan viral.

Ya, kini kira sedang dilanda demam literasi.
Mulai dari acara sederhana pelatihan menulis, peluncuran buku, sampai seminar, rapat kerja, dan even besar sekelas konggres bahasa, menyisipkan kata “literasi” dengan berbagai urgensinya.

Komunitas-komunitas berbasis literasi pun bertumbuh bak cendawan di musim penghujan. Hal ini terutama dipantik oleh berbagai bentuk fasilitas penerbitan buku, penghargaan, pembinaan, dan program pendanaan pengembangan literasi yang dilakukan Kemendikbud Ristek melalui lembaga Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Sebagaimana dituturkan oleh Drs Imam Budi Utomo, M.Hum, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Kemendikbud Ristek, pada Maret 2023 Mendikbud Ristek Nadiem Makarim telah meluncurkan Merdeka Belajar Episode ke-23 dengan tajuk Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia. Ini menunjukkan betapa penting, vital, dan urgent-ya hal yang berkaitan dengan literasi.

Hal itu dilakukan sebagai respon terhadap hasil assesment nasional tahun 2021, hawa rata-rata Indonesia di bawah 40 persen. Jadi ada wilayah-wilayah yang sangat-sangat berwarna merah.

Untuk itulah, Kemendikbud Ristek melalui Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Sastra membuat kebijakan mencetak, mendistrubusikan, dan kemudian memberikan pelatihan dan pendampingan terhadap buku-buku literasi yang disebarkan di 470 kabupaten kota se-Indonesia.

Dukungan senada diberikan oleh Kadis Perpustakaan dan Arsip DKi Provinsi Jakarta, Drs Firmansyah, M.Pd. yang membuka pintunya lebar-lebar bagi kerjasama pengembangan literasi dan budaya sebagaimana disampaikanya dalam acara Peluncuran Buku Karya Siswa Guru di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakata, 29 Agustus 2023 lalu.

Menurut dia, Dinas Perpustakaan dan Arsip Jakarta senantiasa bermitra dengan pegiat literasi di Jakarta, bahkan di Jabodetabek, dan seluruh Indonesia.

“Ketika ada kegiatan yang sifatnya sastra dan budaya, dan juga seluruh kegiatan literasi seperti ini kami support seoptimal mungkin,” ungkapnya.

Kenapa Dinas Perpustakaan dan Arsip Jakarta bersentuhan dengan dunia sastra, menurut Firmansyah, karena pihaknya diamanatkan adanya Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di mana kami telah mengakuisisi 170 ribu buku dan seluruh materi yang terkait dengan karya sastra dan budaya.

Uniknya, di tengah gegap gempita “perayaan literasi” nasional itu, terselip fakta yang memprihatinkan. Ternyata, para guru yang idealnya dapat memberi teladan berliterasi yang baik, belum sepenuhnya terjadi.

Untuk menguatkan asumsi ini, mari kira simak pengalaman penulis yang juga pegiat literasi Maman Suherman yang terus terang menyatakan bahwa minat siwa dan guru untuk menulis buku masih mempriharinkan.

Saat dirinya keliling Indonesia dan bertemu pelajar-pelajar SMP dan SMA, dia bertanya, kenapa tidak bisa bikin puisi? Kenapa tidak bisa menulis? Bukankah ada pelajaran menulis puisi di sekolah? Kenapa tidak jadi buku?

“Bagaiamana mau menulis, guru pelajaran bahasa Indonesianya saja tidak pernah menulis, tidak punya buku. Apa yang bisa dicontoh? ” ungkap Maman.

Menurut Maman, murid butuh panutan, butuh contoh. Dan oleh karena itu dia mengapresiasi acara peluncuran buku karya siswa dan guru itu karena dapat menyaksikan puluhan guru dari seluruh Indonesia telah menulis dan membuktikan: ”kami menulis”.

Itu menjadi bukti kepada murid bahwa gurunya menulis. Kelak tidak ada lagi murid-murid yang mengatakan,”Ibu kok cuma bisa mengajar, tidak ada bukti ibu menulis.”

Murid-murid pun tidak bisa lagi “ngeles” tidak bisa menulis karena panutannya ada di depan mata, kilah Maman.

Ganjalan Elementer
Lain pengalaman Maman Suherman lain pula apa yang saya alami. Ijinkan saya menyingkap pengalaman mebjadi editor buku Apa Siapa Pegiat Literasi Nasional. 2023. Buku ini dikuratori oleh Julia Basri dan diberi kata pengantar oleh Sutardji Calcoum Bachri.

Salah satu contoh sederhana, “ganjalan berliterasi” bukan datang dari luar, namun dari internal pendidik sendiri yang masih menghadapi masalah elementer, yakni penggunaan Bahasa Indonesia yang belum baik dan benar,

Kesan itu penulis dapatkan dari pengalaman menjadi editor buku Apa Siapa. Pegiat Literasi Nasional yang kini masih dalam proses.

Buku ini berisi himpunan tulisan singkat karya para guru sekolah setingkat SD, SMP, dan SMU se-Indonesia. Bentuk tulisan mereka adalah ungkapan data diri dan pengalaman menjadi pegiat literasi di sekolah masing-masing.

Selama membaca karya yang isinya melaporkan pencapaian mereka sendiri itu, di satu sisi saya terharu karena mereka telah bekerja keras untuk membagikan ilmunya
sebagai kegiatan literasi kepada siswa, guru, dan rekan-
rekannya.

Namun, dalam waktu yang bersamaan, saya juga merasa
bersedih karena persoalan-persoalan yang
dihadapi oleh para penulisnya yang sebagain besar guru itu, masihlah seputar yang bersifat elementer dalam dunia kepenulisan, yaitu persoalan pemakaian huruf nesar dan keckl, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.

Misalnya, penempatan huruf
besar dan kecil yang tidak tepat dan persoalan-persoalan penting lainnya seperti penulisan kata, pemakaian tanda baca, pemenggalan makna, dan seterusnya.

Demikianlah. Ternyata, di tengah viralnya beragam kegiatan literasi dengan segala cita-cita mulianya, kita masih menghadapi persoalan
elementer itu,

Saya kira, semua kita bertanggung bertanggung jawab untuk bersama-sama memperbaikinya. Kita kembali membulatkan niat dan tekad untuk menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar dan penggunaan
aturan-aturan elementer berbahasa tulisan.

Semoga ke depan kita tidak lagi mendapati kesalahan-kesalahan elementer itu. Kita sudah bisa “move on” berbahasa lebih baik, dan
lebih benar.(*)

**/Herman Syahara, disajikan dalam acara Seremoni Serah Simpan Buku Karya Siswa dan Guru Nasional, di Aula PDS HB Jassin, Senin, 30 Oktober 2023).

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan