Spread the love

Dari Arah Selatan Membaca Buku Antologi Puisi Tunggal ke VII RUMAH TERBELAH DUA Karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak

Oleh : Widodo Arumdono

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Membaca puisi karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak yang tersaji dalam buku antologi puisi tunggal RUMAH TERBELAH DUA adalah sebuah tantangan tersendiri.

Dimana dalam tulisannya yang memuat hampir 90 puisi ini,membawa keasyikkan tersendiri menjajaki kemungkinan persepsi dalam ruang interpretasi imajinatif yang membutuhkan energi nyali untuk berjalan di antara tamasya berpikir dan rasa yang bersarat.

Puisi -puisi yang ditulis seorang penyair yang cukup produktif ini menawarkan warna daya ungkap yang khas dari seorang Lasman Simanjuntak.

Dari seorang yang juga pewarta dan juga berkecimpung pada aktivitas dunia rohani sebagai pengurus jemaat gereja advent.

Dalam karyanya ini ia mencoba memberikan aksentuasi dalam gejolak bahasa kegelisahannya pada keliaran metafora.

Ungkapan daya sajaknya cukup mengeryitkan kelenjar otak dan intuisi batin pada sebuah pengembaraan makna yang berskala.

Melintas di jalur sepi yang mencoba menemui arti.

Terkadang kita pun terbawa pada sebuah fantasi keriangan buta.

Lihatlah ! bagaimana seorang Pulo Lasman Simanjuntak menggoreskan satu buah puisi ini yang mengawali antologi RUMAH TERBELAH DUA dengan muatan gaya ungkapnya yang khas di antara penyair lainnya.

Sebuah sajaknya yang berjudul “Sekuntum Gelisah Dalam Sepekan”

sekuntum gelisah yang disodorkan
dari oma tua pandai bicara
di belakang rumah dalam sepekan ini…..dan seterusnya.

Dimana sesuatu kegelisahan yang pekat dituangkannya dengan diksi romantik sekuntum gelisah.

Lalu ia menelusur jejak ritme ekspresifitas metafor yang berkembang dalam satu tangkapan imaji lain yang meminta pembaca menyelami lebih jauh lagi.

Betapa pun tidak kita perlahan dibawa ke dalam dialektika kata yang rawan dan sarat penafsiran.

Lasman Simanjuntak sengaja menuangkan refleksits sajak -sajaknya dari jejak renungan keheningan hingga keliaran sosial kehidupan baik dalam aktifitasnya sebagai seorang pewarta maupun dunia kepenyairan khususnya.

Karya puisi yang ditulis Penyair Pulo Lasman Simanjuntak ini boleh dikatakan sangat menggelitik untuk dinikmati dan dikaji baik dalam ruangan kamar maupun publik.

Larik larik puisi yang ditulis Lasman Simanjuntak memiliki daya ledakan metafora yang tak terlampau umum.Tapi lentur dalam hal rasa emosional yang tak banal.

Seperti yang kini sampai ditangan saya, menantang untuk dibaca dan diapresiasikan dalam tangkapan kajian pada lembaran tulisan catatan singkat ini .

Karena menurut pandangan yang saya ketahui , seorang Lasman jauh telah melakukan perjalanan proses kreatifnya yang cukup panjang.

Ruang intensitas kerja kreatifnya sejalan dengan kepak rutinitas keseharian sebagai insan dan pewarta .

(*/penulis adalah seorang otodidak , penyair juga menggeluti dunia seni rupa abstrak)

Tinggalkan Balasan