Spread the love

Teks Foto : Bunda Ery dan salah satu karyanya, Antologi Puisi Bersama Mengenang Sapardi Djoko Damono.(Foto : Herman Syahara)

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Di dunia kepenulisan ada adagium yang sangat populer dan sering dikutip sebagai pemantik semangat dalam menulis: ”verba volen screpta manen”.

Kutipan dari bahasa Yunani itu menegaskan sesuatu yang hanya bersifat lisan atau hanya dibicarakan, mudah hilang, menguap, dan dilupakan.

Tetapi sesuatu yang dituliskan, sifatnya manen, permanen, abadi.

Sebagai seorang guru Bahasa Indonesia, DR [H.C) Hj. Dra. Heriningsih, M.Pd yang dikenal dengan sapaan Bunda Ery, sangat memahami makna ungkapan itu.

Karena itu dia lebih suka mempraktikkannya ketimbang mengutipnya belaka di depan siswa-siswanya.

Dengan begitu, dia ingin menunjukkan bukti, bukan hanya kata-kata.
Baginya, tak ada hari tanpa menulis. Mulai dari puisi, cerpen, novel, atapun hanya sebuah tulisan spontan yang melintas dalam benaknya. Tulisan yang belum berbentuk itu nantinya dapat dikembangkan lagi.

“Setiap hari saya selalu sempatkan untuk menulis. Walaupun tidak ada yang membaca, saya tetap menulis, ” tekadnya.

Ibu dua anak kelahiran 5 Februari 1967 ini telah menulis sejumlah buku tunggal dan antologi bersama.

Antara lain Cahaya Ikhlas, Hijrah , Pijar Lentera, Sapardi dalam Kenangan, Hujan Desember, Kumpulan Pantun Nasihat 1000 Guru, Sang Peneroka, Perisai Makna 1 dan 2, Jendela Hati , Cahaya Ikhlas.
Kumpulan cerpen terbarunya, Suatu Musim di Korea terbit Oktober 2023 lalu. Sekarang dia sedang menyelesaikan novel terbarunya.

Meskipun Heriningsih sibuk mengajar, dia selalu aktif mengikuti berbagai workshop dan seminar, dan berbagai acara yang berkaitan dengan lterasi.

Misalnya dia mengikuti Bimtek Instruktur Pembelajaran Sastra Berbasis Literasi Digital Tingkat Nasional “Ada Kisah Drama Indah di Jakarta”.

November lalu dia juga mengikuti acara yang Teacher Masterclass yang diselenggarakan Nyalanesia yang menghadirkan pembicara penulis Gola Gong, Budayawan Sujiwo Tedjo, dan motivator literasi Founder Nyalanesia, Lenang Manggala.

Dengan rajin mengkuti acara serupa itu, bagi wanita yang hobi menyanyi dan telah memiliki album CDi ini, adalah upaya mengembangkan diri agar inovatif dan kreatif.
Paling tidak, katanya, menjadi cara guru “naik kelas” dan menambah referensi dan wawasan.
“Kita jadi semakin mencintai profesi kita,” ungkap wanita yang menyandang motto “Jangan Lari dari Masalah”.

Hal itu juga berdampak pada sekolah temparnya mengajar. Menurut Heriningsih, untuk kesekian kali MA Asshiddiqiyah keluar sebagai sekolah berprestasi literasi yang telah menerbitkan sejumlah buku.

Kiat Disenangi Murid
Heriningsih memiliki kiat tersendiri dalam mengajar agar siswa tidak jenuh dan berujung ngantuk sehingga abai pada pelajaran.

“Jangan terlalu memaksakan agar murid menelan mentah-mentah apa yang kita ajarkan,” ungkapnya.

Saat sudah berada di kelas dia selau berusaha tampil sebagai sosok ug dekat dengan muridnya.

Dia juga tak jarang menerapkan metode “ice breaking”, yaitu cara pemecah kebuntuan di saat belajar mengajar agar suasana tidak kaku. Misalnya, Heriningsih tak segan mendendangkan sebuah lagu.

“Saya kadang menyanyi atau melagukan suatu pelajaran sehingga ilmu yang dilagukan dapat dihafal siswa,” katanya.

Kiat lain, saat mengabsen murid menjawab pertanyaan, dia mewajibkan siswanya menyahut dengan kata “siap”.

“Cara ini efektif untuk membuat murid-muridnya selalu siap siaga menjawab berbagai keadaan dan menjawab petanyaan, ” ungkap penyandang gelar M.Pd yang rendah hat ini.

Dia juga memperkenalkan teknik berpidato dan menulis karya ilmiah. kepada muridnya. Dengan cara ini dia berharap kelak mereka siap memasuki pendidikan yang lebih tinggi yang memilki tantangan baru lagi.

Selain agar muridnya hafal pelajaran, menurit dia, inovasi ini juga bertujuan agar murid merasa nyaman dengan gurunya sehingga suasana belajar menyenangkan dan tidak ngantuk.

Begitulah, Bunda Ery,setiap menekuni dunia literasi dengan menulis beragam karya sastra. Dia juga terus berinovasi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam mendidik murid-muridnya.(*/Herman Syahara)

Editor : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan