Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Empat abad sebelum masehi, Mahabharata, karya sastra kuno dari India, telah dibuat manusia. Panjangnya lebih dari dua ratus ribu sajak.

Adapun karya sastra terpendek yang pernah ditulis, duapuluh empat abad kemudian, setahu saya, ialah puisi Sutardji Calzoum Bachri, bertajuk Kalian. Isinya hanya satu kata: Pun.

Demikianlah cara manusia mengungkapkan pikiran dan perasaannya melalui puisi.

Mulanya hanya diucapkan, seperti mantera, lalu kemudian ditulis. Dan bisa dibaca manusia berikutnya, sampai berpuluh abad.

Puisi pun menjadi bagian dari sejarah peradaban.

Di Indonesia, dengan mengambil tanggal kelahiran Chairil Anwar, 26 Juli, para penyair merayakan puisi.

Dua puluh empat jam, sepanjang hari ini puisi dikenang, dan dimuliakan dengan berbagai cara.

Puisi, sebuah bentuk ekspresi seni yang tak mudah dipahami, namun sebenarnya ia hadir, menampakkan dirinya, setiap saat di sekujur kehidupan keseharian kita. Setiap saat, dalam hitungan nanodetik, dan di mana saja.

Dalam banyak momen, ia menjadi ‘puisi tanpa kata’. Puisi yang murni. Yang justru tak memerlukan kata-kata. Ia adalah peristiwa, yang kita ada di dalamnya.

Maka sesungguhnya, setiap orang sebenarnya adalah pembuat puisi, atau pembaca puisi, atau penikmat puisi, tapi sedikit orang yang menyadari.

Adapun puisi yang ditulis oleh manusia, tak lain ialah pantulan dari milyaran puisi tanpa kata, yang berpijar, berdenyar, berkibar di sekitar kita itu.

Begitulah. Tampak sederhana, tapi jika kita mau merenungkannya – sebentar saja – terasa dakhsyat luar biasa.

Ia hadir dalam pelbagai-bagai hal: nikmatnya sebutir kue klepon, kota yang sunyi karena diserbu wabah, cericit burung kecil di tali jemuran, ingatan tentang Emak dan ekspresinya ketika tertawa, berkas sinar kuning matahari sore yang menerobos kisi-kisi jendela, foto hitam putih lama yang tergantung di dinding, suara hujan di atas genteng, aroma ikan asin yang digoreng, riuh anak-anak sedang bermain, kenangan yang tiba-tiba muncul seperti film yang diputar, bunga jambu yang berserakan di atas rumputan, suara John Lennon melantunkan ‘Yesterday’ di radio, harum bunga kenanganyang mengingatkanmu pada sesuatu, gemeretak roda kereta api yang tengah melaju, selembar daun kering yang melayang dibawa angin, suara azan petang dari surau di ujung kampung, lonceng gereja di pagi hari, langit biru dan gugusan awan yang mengapung perlahan, uap kopi yang berkepul, seekor kucing yang tidur bergelung di dekat jendela, sampul sebuah buku novel dengan gambar perahu tertambat di tepi sungai yang sunyi, gelegak air di jerangan, deru nafas dua orang yang tengah bercinta.Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Jadi, sebenarnya, tak ada yang aneh tentang puisi. Tak ada yang rumit. Tak ada yang ganjil. Tak ada yang asing. Tak ada yang sia-sia. Kecuali, jika batin kita majal.

(Penulis : Tatan Daniel)

sumber berita wa group Dapur Sastra Jakarta (DSJ) 021

Kamis/29/7/2021

_______________________________________

Editor : Pulo Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan